Kembali
Keluarga

Dari Sebuah Rumah, Bermula Pengabdian Kami di Jalan Dakwah

 

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

Hal apakah yang paling membahagiakan keluarga? Apakah karena kekayaan, kemewahan, jabatan dan fasilitas kehidupan dari anak-anak mereka? Ternyata tidak. Kekayaan dan kemewahan dunia, hanyalah kebahagiaan sementara. Amat sangat sementara.

Bagi orang beriman, kebahagiaan adalah ketika memiliki pasangan hidup dan anak keturunan yang bisa menjadi qurrata a’yun. Sementara dirinya selalu bisa menjadi inspirasi kebaikan bagi orang-orang yang bertakwa. Inilah harapan ibadurrahman, sebagaimana dinyatakan Allah dalam firmanNya:

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا (٧٤)

“Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri dan keturunan kami sebagai penyejuk hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. Al Furqan: 74).

Katsir bin Ziyad pernah bertanya kepada Hasan Al-Basri tentang makna doa di atas. “Wahai Abu Sa’id, apakah yang dimaksud qurrata a’yun (penyejuk hati) dalam ayat ini terjadi di dunia ataukah di akhirat?”

“Hal itu terjadi di dunia,” jawab Hasan Al-Basri.

“Bagaimana bisa demikian?” ungkap Katsir bin Ziyad.

“Demi Allah, Allah akan memperlihatkan kepada seorang hamba, istri, saudara dan kerabat yang taat kepada Allah,” jawab Hasan Al-Basri. “Demi Allah, tidak ada yang menyenangkan hati seorang muslim selain dirinya melihat anak, orang tua, kerabat dan saudara yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla,” sambung Hasan Al-Basri.

Setiap orangtua beriman sangat menghendaki agar mereka semua berbahagia bukan hanya di dunia, namun tetap berbahagia bersama semua anggota keluarga di surga. Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya memberikan penjelasan, “Allah Ta’ala akan mengumpulkan mereka berserta anak keturunannya agar menyejukkan pandangan mereka karena berkumpul pada satu kedudukan yang berdekatan”.

Allah Ta’ala telah berfirman, “Dan orang-orang beriman, berserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan. Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga) dan kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka” (QS. Ath-Thur: 21).

”Artinya, akan Kami samakan mereka pada satu kedudukan agar mereka merasa tenang”, lanjut Ibnu Katsir. ”Bukan dengan mengurangi kedudukan  mereka yang lebih tinggi, sehingga bisa setara dengan mereka yang rendah kedudukannya, namun dengan Kami angkat derajat orang yang amalnya kurang, sehingga Kami samakan dia dengan derajat orang yang banyak amalnya. Sebagai bentuk karunia dan kenikmatan yang Kami berikan,” tambah Ibnu Katsir.

Dalam kitab tafsir Ibnu Katsir dinukilkan satu riwayat dari Said bin Jubair, “Tatkala seorang mukmin memasuki surga maka ia akan menanyakan tentang bapaknya, anak-anaknya dan saudara-saudaranya dimanakah mereka? Maka dikatakan kepadanya bahwa mereka semua tidak sampai pada derajatmu di surga. Maka orang mukmin tersebut menjawab, ‘Sesungguhnya pahala amal kebaikanku ini untukku dan untuk mereka.’ Maka mereka (keluarganya) dipertemukan pada satu kedudukan dengannya.”

Masyaallah, betapa bahagia mereka semua. Satu keluarga orang beriman, telah menikmati kebahagiaan di dunia, dan diizinkan Allah dengan karuniaNya, tetap berkumpuldan berbahagia bersama keluarga di surga. Nikmat apalagi yang lebih utama dari kondisi ini?

Potret Sebuah Keluarga Dakwah

Saat menyaksikan keluarga besar Allahyarham KH. Zaenal Mahmud berkumpul di kompleks Pesantren Sabilul Khoirot Tengaran Kabupaten Semarang beberapa hari yang lalu, hati saya turut berbahagia. Betapa tidak. Saya pernah merasakan kebahagiaan bersama keluarga mereka sejak saya masih kuliah, hingga sekarang.

KH. Zaenal Mahmud adalah seorang Kyai kharismatik yang mengasuh Pondok Pesantren Salafiyah di Tengaran, Kabupaten Semarang. Di tempat ini saya mendapatkan banyak pencerahan. Pada penggal 1990 – 1995, di tengah kesejukan alam Tengaran, saya sering mengaji dan bermalam bersama para santri kalong, di rumah pak Kyai Zaenal.

Allahyarham Bu Nyai, kami menyebut beliau dengan “Emak Salatiga”, menyambut kami dengan sangat ramah. Memberi kami makan sehari tiga kali, dan minuman teh panas. Bukan hanya itu, kami juga disuguh dengan aneka camilan. Para santri kalong yang umumnya berstatus mahasiswa saat itu, cukup tidak tahu diri.

Saya katakan tidak tahu diri, karena kami tidak pernah tahu bagaimana kondisi dapur Emak. Tahunya, kami datang, mengaji, menginap sampai dua malam –bahkan kadang sepekan, lalu menikmati makan, camilan dan minuman. Padahal kegiatan ini sangat sering kami lakukan. Tak pernah kami ’membayar’ atau berusaha iuran, karena para santri memang tidak memiliki harta.

Rupanya Allah memberikan rezeki kepada keluarga pak Kyai sehingga bisa ‘menghidupi’ kami para santri kalong. Kami tahu kehidupan keluarga Kyai Zaenal yang sederhana. Pondok Pesantren Sabilul Khoirot juga sebuah pondok sederhana, bukan jenis pesantren modern.

Anak-anak kandung pak Kyai Zaenal ada sembilan. Mereka adalah Cholid Mahmud, Ida Nurul Farida, Ulfi Fatkhiyah Mahmud, Miftachur Rif’ah Mahmud, Umi Irtifa’iyah  Mahmud, Umi Mahfudhoh Mahmud, M. Jauhari Mahmud, M. As’ad Mahmud dan M. Sa’dullah Mahmud. Kesemuanya adalah anak-anak salih dan salihah serta aktif dalam kegiatan dakwah.

Beberapa anak dan menantu Pak Kyai adalah pejabat penting, seperti anggota DPRD Kabupaten, anggota DPRD Provinsi, Wakil Walikota, bahkan anggota DPD RI. Sebagian yang lain menjadi dosen di Universitas, guru di sekolah, serta Kyai di Pesantren. Dengan berbagai profesi pengabdian tersebuit, semua adalah aktivis dakwah. Ini adalah bentuk keberkahan dalam keluarga Pak Kyai, dan ini pula yang sangat membahagiakan.

Bukan hanya untuk putra putri Pak Kyai, bahkan keberkahan juga dirasakan para santri kalong Sabilul Khoirot. Banyak santri kalong yang pernah menjadi pejabat penting negara, seperti anggota DPR RI dan menteri kabinet di masa pemerintahan SBY. Semasa Emak Salatiga masih sehat, saya sampaikan kepada beliau “Semua yang pernah mengaji dan menginap di sini, telah menjadi orang hebat”.

Rumah Pak Kyai Zaenal dan kawasan Pesantren Sabilul Khoirot adalah aset sejarah pertumbuhan dakwah di wilayah Jawa Tengah, Yogyakarta dan sekitarnya. Dari rumah Pak Kyai inilah kami ditempa dan dibina. Di rumah ini pula kami bertumbuh bersama. Benih-benih cinta tertanam dan kami semai ke berbagai daerah di sekitarnya.

Bahagianya saya, bukan saja mendapatkan nilai-nilai Islam di rumah pak Kyai yang penuh keberkahan itu. Namun kami juga mendapat nilai-nilai persaudaraan dan persahabatan yang tetap terbangun hingga sekarang. Beberapa anak Kyai Zaenal, menikah dengan santri kalong tersebut.

Misalnya pak Muhammad Haris –yang pernah menjabat Wakil Walikota Salatiga, menikah dengan putri Pak Kyai. Pak Muhammad Haris adalah salah satu santri kalong di Sabilul Khoirot. Menikah dengan putri kedua pak Kyai, yaitu mbak Ida Nurul Farida. Demikian pula pak Endri Nugraha Laksana, ketua PW IKADI DIY, menikah dengan putri ketiga Pak Kyai, yaitu Ulfi Fatkhiyah. Pak Endri juga salah satu santri kalong.

Saya mengenal dan bersahabat dengan semua putra-putri pak Kyai Zaenal, sekaligus para menantu. Anak yang paling dekat bersahabat adalah Pak Cholid Mahmud, anak tertua Pak Kyai Zaenal. Pak Cholid saat ini menjabat sebagai anggota DPD RI perwakilan DIY.

Pak Cholid adalah sosok sangat berpengaruh dalam hidup saya. Dialah yang membawa saya mengenal dan mencintai Islam. Sebelumnya, saya tidak mengenal Islam, dan tidak mengenal pesantren. Saat kuliah di UGM, saya bertemu Pak Cholid di Gelanggang Mahasiswa. Saya diajak mengikuti berbagai kajian keislaman, termasuk yang ada di rumahnya, di Pesantren Sabilul Khoirot.

Inilah awal mula saya mengenal jalan dakwah. Sebuah jalan yang membuat saya tercerahkan dan termuliakan. Bermula dari mengaji dan bermalam di rumah Pak Kyai Zaenal, saya menjadi semakin mengerti nilai-nilai kehidupan.

Semua anak dan menantu Pak Kyai Zaenal adalah aktivis dakwah. Sembilan putra putri, sembilan menantu, dan cucu-cucu telah tercelup dalam nilai Islam. Inilah para qurrata a’yun, yang pasti membahagiakan Pak Kyai dan Emak di alam barzakh saat ini. Kelak juga membahagiakan beliau berdua di surga Allah Ta’ala.

Salah satu hal yang sering saya sampaikan ke para ‘mantan’ santri kalong Sabilul Khoirot adalah –Pak Kyai Zaenal belum sempat menyaksikan perkembangan pesantren sederhana yang beliau rintis, sekarang sudah menjadi sangat besar. Pesantren Sabilul Khoirot sudah beroperasi sejak tahun 1970-an.

Mulai tahun 1999, mulai dirintis Sekolah Islam Terpadu. Sejak TKIT, SDIT, SMPIT dan juga SMAIT yang bersistem boarding school. Kini kawasan Sabilul Khoirot yang dulu hanya pesantren kecil, telah berkembang menjadi kawasan pendidikan Islam modern dengan jumlah santri yang sangat banyak. Masyaallah, kami semua sangat bahagia dengan perkembangan ini.

Sebuah kontribusi nyata bagi peradaban. Dari sebuah rumah yang insyaallah penuh berkah, kini dakwah telah berkembang merekah ke berbagai wilayah. Dari sebuah rumah, bermula pula pengabdian kami di jalan dakwah. Alhamdulillah.

Ditulis oleh Cahyadi Takariawan

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.