DELAPAN BAGIAN SAYYIDUL ISTIGHFAR

DELAPAN BAGIAN SAYYIDUL ISTIGHFAR

 

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

 

Di antara doa dan dzikir yang diajarkan kepada kita, terdapat induknya istighfar, yang lazim kita sebut sebagai sayyidul istighfar. Lafaz sayyidul istighfar kita dapatkan melalui hadits, dari Syaddad bin Aus Ra, dari Nabi Saw, “Sesungguhnya istighfar yang paling baik adalah seseorang hamba mengucapkan : Allahumma Anta Rabbi, Laa ilaaha illa Anta, khalaqtani wa ana ‘abduka, wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mastatha’tu, a’udzu bika min syarri ma shana’tu. Abu’u laka bini’matika ‘alayya wa abu’u bidzanbi faghfirli, fa innahu laa yaghfirudz dzunuba illa Anta”.

“Ya Allah, Engkau adalah Rabbku, tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Engkau. Engkau yang menciptakan aku dan aku adalah hambaMu. Aku menetapi perjanjianMu, sesuai kemampuanku. Aku berlindung kepadaMu dari keburukan perbuatanku. Aku mengakui nikmatMu kepadaku dan aku mengakui dosaku kepadaMu, maka ampunilah aku. Sebab tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau”.

Nabi Saw bersabda, “Barangsiapa mengucapkannya di waktu siang dengan penuh keyakinan lalu meninggal dunia pada hari itu sebelum sore, maka ia termasuk penghuni surga. Barangsiapa membacanya di waktu malam dengan penuh keyakinan lalu meninggal dunia sebelum masuk pagi, maka ia termasuk penghuni surga”. Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh Imam Bukhari no. 6306, 6323, dan dalam Adabul Mufrad no. 617, 620.

Delapan Bagian Sayyidul Iistighfar

Jika kita perhatikan, lafaz sayyidul istighfar memang mencakup bagian yang sangat luas dalam Islam. Mencakup pengakuan tauhid Rububiyah, tauhid Uluhiyah, pengakuan kerendahan hamba, pengakuan keagungan Allah, ungkapan kesyukuran , permohonan perlindungan, pengakuan dosa dan sekaligus permohonan ampunan hamba kepada Allah.

Sebelum menyampaikan permohonan ampunan kepada Allah —yang menjadi esensi dari sebuah istighfar, kita dituntunkan untuk melakukan berbagai pengakuan yang sangat esensial. Jika kita perinci, ada delapan bagian sebagai berikut.

  1. Pengakuan Tauhid Rububiyah

Allahumma Anta Rabbi. Ya Allah, Engkau adalah Rabbku. Ini adalah kalimat pengakuan seorang hamba bahwa Allah adalah Rabb, yaitu Sang Pemilik, Sang Pencipta, Sang Pemberi rizki dan Sang Pengatur alam semesta. Inilah pengakuan akan Tauhid Rububiyah, yang merupakan salah satu esensi mendasar dari keyakinan tauhid.

  1. Pengakuan Tauhid Uluhiyah

Laa ilaha illa Anta. Tidak ada Ilah melainkan Engkau. Ini adalah persaksian bahwa tidak ada yang berhak untuk diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah. Kalimat ini merupakan keyakinan Tauhid Uluhiyyah, yang menunjukkan kebenaran orientasi peribadahan hamba, hanya kepada Allah saja. Hanya Allah, sesembahan yang benar, yang berhak untuk diibadahi, yang berhak dicintai dan ditaati dengan level tertinggi.

  1. Pengakuan Hakikat Kehambaan

Khalaqtani wa ana ‘abduka. Engkau menciptakan aku dan aku adalah hambaMu. Ini adalah pengakuan hakikat kehambaan. Mengakui dengan sepenuh kesadaran, bahwa tidak ada yang menciptakan alam semesta –termasuk dirinya— melainkan Allah. Ini juga bagian dari akhlaq hamba kepada Allah, yang mengakui kehebatan Allah, dan mengakui kelemahan hamba, yang tak memiliki daya dan kekuatan di hadapan Allah.

  1. Pengakuan Adanya Perjanjian dengan Allah

Wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mastatha’tu. Aku menetapi perjanjian denganMu, sesuai kemampuanku. Perjanjian manusia dengan Allah adalah beriman kepada Allah, mentaati Allah, sesuai kemampuan yang dimiliki hamba. Allah tidak membebani manusia melainkan sesuai dengan kemampuannya. Yang dimaksud dengan janji (‘ahd dan wa’d) adalah ketika Allah mengambil kesaksian dari ruh, sebagaimana dalam QS. Al A’raf : 172. Ini merupakan pengakuan akan adanya perjanjian dengan Allah dan komitmen untuk menetapinya.

  1. Permohonan Perlindungan

A’udzu bika min syarri maa shana’tu. Aku berlindung kepadaMu dari keburukan perbuatanku. Ini adalah pengakuan bahwa hanya Allah yang bisa memberikan perlindungan, maka hamba yang baik selalu memohon kepada Allah, agar terhindar dari semua keburukan amal perbuatannya. Manusia adalah makhluk lemah dan salah, maka ada kesadaran untuk mengakui perbuatan yang tidak baik, sekaligus berlindung dari akibat buruk dari perbuatan tersebut. Yakin bahwa hanya Allah yang bisa memberikan perlindungan.

  1. Pengakuan Syukur

Abu’u laka bini’matika ‘alayya. Aku mengakui nikmatMu kepadaku. Setiap hamba harus menisbatkan semua nikmat yang didapatkan kepada Allah semata-mata. Semua nikmat, semua karunia, semua hasil usaha, adalah dari pemberian Allah. Inilah bentuk rasa syukur tertinggi seorang hamba. Manusia tidak akan sombong apabila mengakui semua yang dimiliki adalah pemberian Allah.

  1. Pengakuan Dosa dan Salah

Wa abu’u bidzanbi. Aku mengakui dosaku kepadaMu. Semua manusia pasti pernah bersalah dan berdosa, maka manusia yang paling baik adalah ketika bersedia mengakui dosa, kesalahan, kelalaian, kezaliman yang pernah dilakukan. Kalimat ini merupakan pengakuan kelemahan dan kehinaan hamba di hadapan Allah, namun juga kebesaran hati hamba untuk mengakui dosa-dosa di hadapanNya.

  1. Permohonan Ampunan Kepada Allah

Faghfirli fa innahu laa yaghfirudz dzunuba illa anta. Maka ampunilah dosaku, karena tidak ada yang bisa mengampuni dosa kecuali hanya Engka. Hamba yang baik, selalu memohon ampunan atas semua dosa yang telah dilakukan. Hamba yang baik, mengakui bahwa Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Inilah permintaan puncak seorang hamba, memohon kepada Allah agar mengampuni semua dosa dan kesalahannya. Karena tidak ada yang bisa memberikan pengampunan, kecuali hanya Allah.

Demikianlah delapan bagian dari sayyidul istighfar. Pantaslah disebut sebagai induknya istighfar, karena mencakup berbagai sisi yang sangat luas. Semoga kita diberikan kekuatan dan kemudahan untuk mengamalkan, semoga Allah ampuni semua dosa dan kesalahan kita melalui sayyidul istighfar ini. Aamiin.

 

 

 

 

Seberang Pantai Losari, Makassar, 18 Februari 2019

 

 

 

 

Cahyadi Takariawan

Cahyadi Takariawan telah menulis lebih dari 50 judul buku yang sebagian besarnya bertema keluarga. Aktivitasnya saat ini selain menulis adalah menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Mendirikan Jogja Family Center (JFC) pada tahun 2000 sebagai kontribusi untuk mengokohkan keluarga Indonesia. Kini JFC bermetamorfosis menjadi Wonderful Family Institute. Beliau dapat diakses melalui Instagram @cahyadi_takariawan

Tinggalkan Balasan