Oleh : Nyi Ai Tita (Alumi Kelas Emak Punya Karya)
Menulis adalah salah satu aktivitas yang tak bisa terpisahkan dari kehidupan seseorang. Menulis sepertinya mudah. Namun praktiknya tak semudah apa yang dipikirkan tadi.
Secara pribadi, saya merasa bingung mau nulis apa. Mencoba menulis, kalimatnya sering memutar-mutar. Akhirnya kembali ke semula. Daripada bingung yah sudah tak perlu menulis.
Selama ini saya berpikir kalau kehidupan tak perlu ditulis. Hanya Sang Maha Kuasa yang tahu perilaku kita sehari-hari.
Saya mencoba ikut belajar menulis lewat dunia maya. Menulis ternyata luar biasa manfaatnya. Menulis bisa sebagai suplemen otak, memberi kesehatan jasmani rohani, melatih emosi menjadi stabil. Selain itu menulis bisa menyembuhkan rasa sakit gundah gulana, bisa sebagai katarsis, bahkan bisa menjadi ladang amal jariah.
Namun, keraguan masih juga ada terutama membaca kemampuan diri. Apakah saya bisa menulis. Mungkinkah bisa menulis?

Alhamdulillah beberapa pertanyaan yang berseliweran dalam ingatan mulai terjawab. Pak Cahyadi pernah mengatakan kurang lebih seperti ini, “Menulislah apa yang pernah dialami sendiri baik yang didengar, dilihat atau menulis tentang lingkungan yang dirasakan.”
Saya pun mulai menulis pengalaman sendiri, karena pengalaman pribadi lebih mudah menuangkannya ke dalam tulisan. Pengalaman orang lain juga ada yang sifatnya baik dan memberi pelajaran untuk ditulis.
Allah Swt.,menuntun saya untuk belajar menulis bersama di KMO Alineaku batch 33 dengan mentor Pak Cahyadi dan Bu Ida Nurlaila. Melalui kelas online tersebut, menghantarkan saya memiliki semangat untuk terus menulis walau berbagai keterbatan yang dimiliki. Terutama keterbatasan dalam menuangkan kata-kata sesuai KBBI apalagi untaian kata-kata indah yang bisa menusuk hati masih sangat jauh.
Terngiang selalu motivasi dari Pak Cah, “Menulis Semudah Bernapas.” Entah kenapa menurut saya begitu ringan kata-kata tesebut. Sehingga dalam diri tertanam, “Terpenting berlatih menulis, menulis terus menulis.
Hasil tulisan dipublikasikan dengan tidak melihat bagus tidaknya tulisan tersebut. Banyak tidaknya like dan komen, tidak saya perhatikan. Terpenting publikasikan saja di media sosial terutama di FaceBook. Sebagai catatan tulisan tidak merugikan orang lain.
Bagus dan tidaknya tulisan bagi saya nomor sekian. Belajar dan mencari motivasi menulis harus terus dilakukan supaya tidak berhenti di tengah jalan.
Alhamdulillah belajar menulis memberi berkah. Dukungan dari rekan-rekan di grup literasi begitu meruah. Mak Hellen, Pak Irfan, Mak Warlinah, Mak Eli Halimah, Mak Tati Ajeng, Mak Sri, Mak Siti Amanah, Mak Nunun, Mak Endang, dan Mak-Mak yang lainnya.

Muncul dalam pikiran, “Bagaimana supaya diri bisa terus menulis?”
Tips supaya bisa terus menulis bagi pemula :
1. Meluruskan niat
Niat lurus hanya mencari rida Allah Swt. semata harus tertanam, karena apa yang kita lakukan atas dasar niat yang lurus hidup terasa tak sia-sia. Pastinya akan memiliki makna sekecil apapun sebuah pekerjaan.
2. Memulai dengan bismillah
Menulis dan mengerjakan apapun mulai dengan membaca bismillah. Mengawali menulis dengan menyebut nama-Nya. Hal ini memberi girah dalam jiwa untuk terus berkarya walau sebesar zarrah pun.
3. Ikut terus belajar menulis dari orang-orang yang lebih mafhum untuk menambah ilmu dan wawasan
Mengikuti pembelajaran menulis dari beberapa ahli dalam bidangnya sangat penting bagi. Hal ini karena bisa membuka wawasan dan pengalaman lebih bagi diri. Selain itu kita bisa menarik sebuah benang merah sebuah ilmu pengetahuan atau keterampilan untuk menulis sesuai aturan.
4. Mengikuti ajakan-ajakan nubar
Mengikuti nubar (nulis bareng) dalam karya antologi sangat bagus sekali. Ini karena bisa mengasah kemampuan, selain itu saya bisa merasakan pikiran dan rasa hidup untuk terus mencari apa yang akan ditulis. Termotivasi untuk mendisiplinkan waktu menulis dan untuk terus belajar dari internet atau dari artikel-artikel yang bisa mendukung.
5. Mengikuti even-enven yang diselenggarakan
Alhamdulillah Ramadan 1443H/2022 saya bisa mengikuti 2 even. Insya Allah mohon doanya akan lahir 2 karya solo dari catatan sebagai diari.
Prosesnya sungguh mengasyikkan di waktu malam lagi asyik-asyiknya tidur teringat deadline. Sehingga terbangun walau di sela-sela ngantuk menghadang bisa menuntaskan sesuai target. The power of kepepet begitu terasa. Ada kebahagian tersendiri menyelimuti.

Menulis memberi nutrisi untuk selalu menggali dan mencari sebuah intuisi yang akan ditulis. Menulis bisa diambil sebuah hikmah hidup tak akan sia-sia. Menulis Insya Allah bisa lebih mendekatkan diri kepada pemiliki diri yaitu Allah Rabbul Izzati.
Itulah beberapa pengalaman menulis mudah-mudahan ke depannya bisa terus menulis dengan lebih baik. Terima kasih Pak Cah, Bu Ida, Mak Sri dan Emak Kepo luar biasa. Tulisannya pada bagus-bagus dan menginspirasi saya.
Semoga bermanfaat.
Biodata penulis :

Nyi Ai Tita, seorang ibu rumah tangga dan guru SD swasta di Kabupaten Bandung. Senang sekali belajar menulis walau masuk usia senja.
Moto hidupnya, “Tidak ada kata terlambat untuk berkarya. Alhamdulillah di grup literasi banyak teman dan pengalaman yang didapat. Hidup terasa indah diiringi penuh semangat, karena semangat bisa mengalahkan segalanya.”