Kembali
Kapita Selekta

Diri Kita Tak Sempurna, Amal Pun Banyak Retaknya

@ Cahyadi Takariawan

Diri kita tak sempurna, karena memang tak ada manusia sempurna. Amal kita banyak retaknya, disebabkan oleh kelemahan diri kita. Menyadari hal ini, pahami dan lakukan delapan poin berikut ini.

  1. Menyadari Sepenuhnya Bahwa Tak Ada Manusia Sempurna

Tak ada manusia sempurna. Manusia selalu memiliki kelemahan dan kekurangan. Maka manusia pasti pernah melakukan kesalahan.

كُلُّ بَنِى آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ

“Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang bertobat” (HR. Tirmizi no. 2499, dalam Shahih Al-Targib).

Ibnu Hazm mengatakan, “Ketahuilah dengan penuh keyakinan bahwa manusia itu tidak bisa luput dari kekurangan, kecuali para Nabi”.

2. Bersedia Melakukan Introspeksi Diri

Agar bisa melakukan perbaikan, hendaknya kita melakukan introspeksi diri. Sisi apakah yang kurang dan lemah dalam diri kita? Sudah berapa banyak dosa dan kesalahan kita perbuat? Sudah seberapa sering kita bertaubat?

Umar bin Khaththab pernah berpesan, “Hisablah dirimu sebelum diri kamu sendiri dihisab, dan timbanglah amal perbuatanmu sebelum perbuatanmu ditimbang.”

3. Bersedia Mengakui Kekurangan Diri

Ibnu Hazm berkata, “Seandainya orang yang kurang itu mengetahui kekurangan dirinya, niscaya ia menjadi sempurna.” Sayangnya kita sangat sulit mengetahui dan mengakui kekurangan diri.

Ibnu Al-Muqaffa’ mengatakan, “Salah satu aib manusia terbesar ialah ia tidak mengetahui kekurangan dirinya. Karena orang yang tidak mengetahui aib dirinya, maka ia pun tidak mengetahui kebaikan orang selainnya”.

“Barangsiapa yang tidak mengetahui aib dirinya dan kebaikan orang lain, maka ia tidak bisa menghilangkan aib yang dia sendiri tidak mengetahuinya dan tidak akan mendapatkan kebaikan-kebaikan orang lain yang tidak pernah ia lihat selamanya,” lanjut Ibnu Al-Muqaffa’.

Mahmud Al-Waraq mengatakan “Manusia yang paling sempurna ialah yang paling tahu kekurangan dirinya dan yang paling dapat mengalahkan syahwat dan keinginannya”.

Ibnu Hazm mengatakan, “Barangsiapa yang tidak mengetahui berbagai kekurangan dirinya, maka ia akan menjadi orang yang hina, lemah akal, dan sedikit pemahamannya, yang mana ia merasa bukan sebagai orang yang hina dan tidak merasa bahwa tempat berpijaknya adalah kehinaan”.

Ibnu Hazm berkata, “Orang yang berakal adalah orang yang mengetahui aib dirinya, lalu mengalahkannya dan berusaha menundukkannya.”

4. Berjanji untuk Menjadi Lebih Baik

Setelah menyadari dan mengakui kelemahan serta kekurangan diri, hendaklah berjanji dan bertekad untuk melakukan perbaikan. Berjanji menjadi pribadi yang lebih baik.

Ibnu Muqaffa’ mengatakan, “Hendaklah engkau berjanji terhadap dirimu sendiri untuk menjadi baik, sehingga dengan hal itu ia akan menjadi ahli kebajikan. Sebab jika engkau melakukan demikian, maka kebajikan akan datang mencarimu sebagaimana air mengalir mencari tempat yang curam.”

5. Bertobat dan Memohon Ampunan atas Semua Kekurangan dan Kesalahan

Semua manusia pasti memiliki kekurangan dan kesalahan. Semua manusia pasti memiliki dosa. Maka hendaknya selalu memohon ampunan dan bertobat atas semua kekurangan dan kesalahan kita.

Dari Abu Hurairah ra, bahwa Nabi saw bersabda,

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللَّهُ بِكُمْ، وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ ، فَيَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ

“Demi Zat yang diriku berada di tangan-Nya, jika kalian tidak berbuat dosa Allah akan hilangkan kalian dan Allah akan datangkan kaum lain yang berdosa, lalu mereka pun minta ampun kepada Allah, Allah pun ampuni dosa mereka” (HR. Muslim).

Anas bin Malik menceritakan bahwa Rasulullah saw bersabda, Allah Ta’ala berfirman, ”Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau menyeru dan mengharap pada-Ku, maka pasti Aku ampuni dosa-dosamu tanpa Aku pedulikan. Wahai anak Adam, seandainya dosamu membumbung tinggi hingga ke langit, tentu akan Aku ampuni, tanpa Aku pedulikan”.

“Wahai anak Adam, seandainya engkau mendatangi-Ku dengan dosa sepenuh bumi dalam keadaan tidak berbuat syirik sedikit pun pada-Ku, tentu Aku akan mendatangi-Mu dengan ampunan sepenuh bumi pula” (HR. Tirmidzi no. 3540. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih).

6. Memperbanyak Istighfar untuk Menambal Retaknya Amal

Perbanyaklah istighfar setiap selesai melakukan amal. Karena amal yang kita lakukan tidaklah sempurna, dan banyak kekurangannya.

  • Setelah selesai melakukan rangkaian ibadah haji, bacalah istigfar.

Perbanyak istighfar setelah selesai melaksanakan haji, karena bisa jadi ada kekurangan dalam ibadah haji kita. Allah Ta’ala berfirman,

فَاِذَآ اَفَضْتُمْ مِّنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللّٰهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ ۖ وَاذْكُرُوْهُ كَمَا هَدٰىكُمْ ۚ وَاِنْ كُنْتُمْ مِّنْ قَبْلِهٖ لَمِنَ الضَّاۤلِّيْنَ

ثُمَّ اَفِيْضُوْا مِنْ حَيْثُ اَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

“Maka, apabila kamu telah bertolak dari ‘Arafat, berzikirlah kepada Allah di Masy’aril Haram (di Muzdalifah), dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu. Dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat. Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (yaitu dari ‘Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 198-199)

  • Setelah melaksanakan shalat, bacalah istighfar.

Tsauban ra menceritakan bahwa Rasulullah saw ketika selesai salat, beliau membaca istigfar tiga kali, kemudian membaca,

اَللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ، وَمِنْكَ السَّلاَمُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ

“Allahumma antas salam wa minkas salam tabarakta yaa dzal jalali wal ikram” (HR. Muslim no. 1362 dan Nasai no. 1345).

‘Aisyah ra menceritakan bahwa setelah Rasulullah saw selesai salat Duha, beliau mengucapkankalimat istighfar,

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَتُبْ عَلَيَّ، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمِ

“Allahummaghfir-li wa tub ‘alayya, innaka antat tawwabur rahim. Ya Allah, ampunilah aku dan terimalah tobatku. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. Beliau membacanya seratus kali” (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad no. 619).

  • Setelah selesai dari suatu majelis / forum, bacalah istighfar

Dari Abu Barzah Al-Aslami, ia berkata bahwa Rasulullah saw berkata di akhir majelis jika beliau hendak berdiri meninggalkan majelis,

 سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

“Subhanakallahumma wa bihamdika asyhadu alla ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik. Mahasuci Engkau Ya Allah. Segala pujian untuk-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah, selain Engkau. Dan aku meminta ampunan dan bertobat pada-Mu.

فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ لَتَقُولُ قَوْلاً مَا كُنْتَ تَقُولُهُ فِيمَا مَضَى. قَالَ « كَفَّارَةٌ لِمَا يَكُونُ فِى الْمَجْلِسِ

Ada seseorang yang berkata pada Rasul saw, “Wahai Rasulullah, engkau mengucapkan suatu perkataan yang belum pernah engkau ucapkan sebelumnya.” Beliau bersabda, “Doa itu sebagai penambal kesalahan yang dilakukan dalam majelis.” (HR. Abu Daud, no. 4857;  Ahmad, 4: 425).

7. Memperbanyak Amal Sunnah untuk Menyempurnakan Kekurangan yang Wajib

Amal sunnah memiliki fungsi untuk menambal dan menyempurnakan kekurangan pada amal-amal wajib. Nabi saw bersabda,

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمُ الصَّلاَةُ قَالَ يَقُولُ رَبُّنَا جَلَّ وَعَزَّ لِمَلاَئِكَتِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ انْظُرُوا فِى صَلاَةِ عَبْدِى أَتَمَّهَا أَمْ نَقَصَهَا فَإِنْ كَانَتْ تَامَّةً كُتِبَتْ لَهُ تَامَّةً وَإِنْ كَانَ انْتَقَصَ مِنْهَا شَيْئًا قَالَ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِى مِنْ تَطَوُّعٍ فَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَوُّعٌ قَالَ أَتِمُّوا لِعَبْدِى فَرِيضَتَهُ مِنْ تَطَوُّعِهِ ثُمَّ تُؤْخَذُ الأَعْمَالُ عَلَى ذَاكُمْ

“Sesungguhnya amalan yang pertama kali dihisab pada manusia di hari kiamat nanti adalah shalat. Allah berkata kepada malaikat-Nya dan Dia-lah yang lebih tahu, ‘Lihatlah pada shalat hamba-Ku. Apakah shalatnya sempurna ataukah tidak?’ Jika shalatnya sempurna, maka akan dicatat baginya pahala yang sempurna.

Jika dalam shalatnya ada sedikit kekurangan, maka Allah berfirman: ‘Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki amalan sunnah’. Jika hamba memiliki amalan sunnah, Allah berfirman: ‘Sempurnakanlah kekurangan yang  ada pada amalan wajib dengan amalan sunnahnya.” Kemudian amalan lainnya akan diperlakukan seperti ini” (HR. Tirmidzi no. 413, An-Nasa’i no. 466, sahih).

Hadits ini menunjukkan bahwa amalan sunnah bisa menyempurnakan kekurangan yang ada pada amalan wajib. Oleh karena itu, jika kita merasa ada kekurangan dalam amalan wajib, maka perbanyaklah amalan sunnah.

Syekh Husain bin Mahmud Az-Zaidani Al-Madzhari dalam kitab Al-Mafatih Fi Syarhil Mashabih menyatakan,

“ثم يكونُ سائرُ عَمَلِه على ذلك” ؛ يعني كذلك الصوم ، إن تركَ شيئًا من الصيام الواجِب ، يؤخذ بدلَه ما صام من السُّنَّة والنوافل ، وإن ترك شيئًا من الزكاة ، يؤخذ بدلَها ما أعطى من الصدقات “

“Sabda Nabi, ‘Demikianlah yang berlaku pada seluruh amal wajibnya’. Maksudnya adalah, demikian juga puasa, jika seorang meninggalkan suatu penyempurna ibadah puasa wajibnya, maka akan disempurnakan oleh ibadah puasa yang hukumnya sunnah. Demikian pula zakat, jika seorang kurang sempurna menunaikannya, penggantinya akan diambilkan dari sedekah-sedekah sunnah”.

8. Meski Retak, Tetap Bisa Meraih Kecintaan Allah Ta’ala

Diri kita memang tidak sempurna. Amal kita jelas banyak retaknya. Namun kita bisa menggapai kecintaan Allah Ta’ala. Nabi saw telah bersabda, “Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya”.

Simak kelengkapan haditsnya, dari Abu Hurairah, Nabi saw bersabda,

إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِى وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ

“Allah Ta’ala berfirman: Barangsiapa memerangi wali (kekasih)-Ku, maka Aku akan memeranginya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan wajib yang Kucintai. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya”.

“Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya” (HR. Bukhari no 6502).

Bahan Bacaan

Kutipan ayat, hadits dan perkataan ulama, diambil dari:

https://muslim.or.id

https://muslimah.or.id

https://rumaysho.com

https://konsultasisyariah.com

https://almanhaj.or.id

Ditulis oleh Cahyadi Takariawan

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.