Fikih Penantian 2 : Menunaikan Tugas Peradaban

Fikih Penantian 2 : Menunaikan Tugas Peradaban

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

Ada kewajiban bagi orang-orang beriman, untuk peduli terhadap orang-orang beriman lainnya. Ketika ada sahabat, kerabat, atau bahkan keluarga dekat yang sudah siap menikah namun belum mendapatkan jodoh, hendaknya kita ikut mengikhtiarkan jodoh baginya. Bisa membantu dengan doa tulus, bisa pula dengan tindakan nyata. Ini sangat penting untuk merealisasikan ta’awun di atas landasan kebaikan dan taqwa.

Pada postingan terdahulu tentang Fikih Penantian, telah saya sampaikan berbagai sisi yang harus dimengerti dan dilakukan oleh lelaki dan perempuan lajang di masa penantian jodoh. Untuk postingan kali ini, Fikih Penantian akan saya bahas dari perspektif lingkungan sekitar. Apa yang menjadi tugas orang-orang terdekat dan pihak-pihak terkait, dalam membantu para lajang yang tengah menanti jodoh. Inilah yang saya sebut sebagai tugas peradaban.

Perintah Menikahkan Lajang

Jangan semata-mata menuntut para lajang untuk menikah. Karena di sisi lain, Allah memerintahkan kepada orang yang memiliki kekuasaan untuk menikahkan para lajang yang telah mampu menikah, sebagaimana firmanNya:

وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ ۚ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui” (QS. An-Nur:32).

Perintah dalam ayat di atas adalah “nikahkanlah”. Jadi, bukan perintah “menikahlah”. Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithi rahimahullah dalam kitab tafsir Adhwa’ al Bayan menyatakan, kata al-inkah dalam ayat di atas, sama maknanya dengan kata at-tazwij, sehingga bermakna zawwijuhum (nikahkahlah mereka). Syaikh As Sa’di dalam kitab tafsirnya menyatakan, perintah وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنْكُمْ diarahkan kepada para wali dan tuan-tuan pemilik budak.

Allah yang Maha Mengetahui memerintahkan para wali agar menikahkan orang-orang yang berada di bawah perwaliannya yang masuk dalam kategori “al-ayama”. Kata al-ayama adalah bentuk plural dari kata al-ayyim. Syaikh Asy Syinqithi menjelaskan, yang dimaksud al-ayama ialah orang-orang yang tidak (belum) mempunyai pasangan hidup, baik dari kalangan kaum lelaki maupun perempuan, baik orang yang pernah menikah –kemudian bercerai atau pasangan meninggal– maupun yang belum menjalani perkawinan.

Menurut beliau, perintah dalam ayat di atas dalam tinjauan ilmu Ushul Fiqh bermakna wajib, karena tidak ada faktor lain yang memalingkannya. Artinya, mereka yang memiliki kekuasaan atas orang lain —seperti wali— wajib menikahkan para lajang yang berada dalam tanggung jawabnya. Hal ini bermakna, bahwa para lajang hendaknya difasilitasi hingga menemukan jodoh yang tepat dan bisa melaksanakan pernikahan.

Kewajiban Menolong Sesama Muslim

Orangtua atau wali diwajibkan untuk menikahkan para lajang yang berada dalam tanggung jawab mereka. Lalu bagaimana dengan yang bukan wali atau tidak memiliki kuasa atas para lajang? Kita cukupkan dengan arahan umum dari Nabi Saw agar kita gemar menolong orang lain dan membahagiakan orang lain. Nabi Saw telah bersabda:

وَاللَّهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيهِ

“Allah senantiasa menolong hamba selama ia menolong saudaranya.” (HR. Muslim no. 2699).

Dalam riwayat yang lain beliau Saw bersabda:

وَمَنْ كَانَ فِى حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِى حَاجَتِهِ

“Siapa yang biasa membantu hajat saudaranya, maka Allah akan senantiasa menolongnya dalam hajatnya.” (HR. Bukhari no. 6951 dan Muslim no. 2580).

Beliau Saw juga bersabda:

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ , وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ , أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً , أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا , أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا , وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا

“Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahan dari orang lain, membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini –masjid Nabawi– selama sebulan penuh.” (HR. Thabrani. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Dalam kitab Jami’ul Ulum wal Hikam dikisahkan, Hasan Al Bashri mengutus sebagian muridnya untuk membantu orang lain yang sedang dalam kesulitan. Beliau mengatakan pada murid-muridnya tersebut, “Hampirilah Tsabit Al Banani, bawa dia bersama kalian.” Ketika Tsabit didatangi, ia berkata, “Maaf, aku sedang i’tikaf.”

Murid-muridnya lantas kembali mendatangi Al Hasan Al Bashri, lantas mereka mengabarinya. Kemudian Al Hasan Al Bashri mengatakan, “Wahai A’masy, tahukah engkau bahwa bila engkau berjalan menolong saudaramu yang butuh pertolongan itu lebih baik daripada haji setelah haji?”

Lalu mereka pun kembali pada Tsabit dan berkata seperti itu. Tsabit pun meninggalkan i’tikaf dan mengikuti murid-murid Al Hasan Al Bashri untuk memberikan pertolongan pada orang lain.

Menunaikan Tugas Peradaban

Inilah salah satu tugas peradaban bagi orang-orang yang beriman. Hendaknya kita saling peduli, saling berbagi kemanfaatan dan kebahagiaan, gemar menolong, gemar memberikan bantuan, gemar memberi kemudahan, sebagaimana sabda Nabi Saw, “Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini –masjid Nabawi– selama sebulan penuh”.

Berikut beberapa prinsip penunaian tugas peradaban dalam konteks Fikih Penantian.

  1. Memfasilitasi, Bukan Membully

Di antara tugas peradaban adalah memfasilitasi, bukan membully. Hendaknya kita membantu para lajang untuk bisa mendapatkan jodoh dan melaksanakan pernikahan. Jangan membully mereka. Jangan mengejek dan menghina mereka. Justru kita harus memfasilitasi mereka untuk bisa melaksanakan salah satu sunnah kenabian yang sangat agung, yakni pernikahan.

Lakukan fasilitasi dengan cara yang syar’i, sebagai bentuk kepedulian terhadap para lajang. Ini adalah langkah yang membahagiakan mereka semua. Membully pasti akan membuat mereka tidak happy dan justru merasa terzalimi. Jika belum bisa memfasilitasi, minimal jangan membully.

  1. Membina, Bukan Menghina

Di antara tugas peradaban adalah membina, bukan menghina. Dalam kehidupan keseharian, tak jarang kita jatuh dalam perilaku menghina. Misalnya, menghina para lajang karena pacaran, menghina para lajang karena belum segera menikah, menghina para lajang karena belum laku, dengan kata-kata “perawan tua”, dan yang semacamnya.

Padahal tugas kita adalah membina mereka, mengarahkan mereka, membimbing mereka, agar bisa menempuh jalan yang benar dalam proses pernikahan. Jika masih ada yang melakukan perbuatan tercela, ingatkan dengan penuh kasih sayang. Jika masih ada yang melakukan pacaran, nasehati dengan bijak. Karena tugas kita adalah membina, bukan menghina.

  1. Mendoakan, Bukan Membiarkan

Di antara tugas peradaban adalah mendoakan, bukan membiarkan. Jika belum mampu membantu untuk mencarikan jodoh bagi para lajang, hendaknya kita terus mendoakan agar Allah segera memberikan jodoh terbaik bagi dunia dan akhirat mereka. Ada sangat banyak gadis muslimah sudah siap menikah, ada banyak pula lelaki muslim siap menikah dan belum menemukan jodoh.

Mari doakan mereka, jangan membiarkan dan tidak mempedulikan. Jangan bersikap cuek dan tidak mau tahu urusan serta kesulitan mereka. Jika belum bisa memberikan jodoh kepada mereka, paling tidak ikut mendoakan mereka. Ini menjadi salah satu bukti kepedulian dan kasih sayang sesama muslim.

  1. Mengikhtiarkan, Bukan Mentelantarkan

Di antara tugas peradaban adalah mengikhtiarkan, bukan mentelantarkan. Hendaknya ada langkah kongkret untuk mengikhtiarkan jodoh bagi para lajang yang sudah siap menikah. Sebagian dari mereka sangat menjaga diri, khawatir melakukan kesalahan, sehingga tidak melakukan aktivitas untuk “mencari sendiri” calon pendamping hidupnya.

Sebagian dari mereka memang ingin dicarikan, bukan mencari, karena merasa lebih aman. Untuk itu, menjadi kewajiban orang-orang beriman yang berada di sekitarnya untuk mengikhtiarkan jodoh. Jangan sampai mentelantarkan. Lakukan aktivitas nyata untuk mempertemukan para lajang laki-laki dan perempuan, karena kewajiban kita hanya berusaha.

  1. Memberi Solusi, Bukan Menyulut Emosi

Ketika kita menemukan di antara saudara kita sudah berusia semakin dewasa, yang sudah sangat ingin menjalani kehidupan berumah tangga, namun belum ada lelaki salih  yang datang melamarnya atau belum ada perempuan salihah yang bersedia dijadikan istrinya, menjadi tugas kita untuk memberi mereka solusi. Ini adalah tugas kolektif dari orang-orang beriman yang ada di sekitarnya.

Terkadang, bukannya menawarkan solusi, justru ada pihak yang menyampaikan pernyataan atau melakukan tindakan yang menyulut emosi. Tentu saja ini bukan karakter orang beriman. Seharusnya kita gemar membantu dan menolong saudara sesama muslim, agar mereka mendapatkan kebahagiaan. Salah satu hal yang membahagiakan adalah apabila dibantu untuk mendapatkan jodoh salih / salihah bagi para lajang —terlebih yang sudah berumur lebih dewasa.

Demikianlah beberapa tugas peradaban bagi orang-orang beriman, terhadap saudara-saudara seiman yang masih lajang di masa penantian jodoh. Mari kita bantu mereka, mari kita bahagiakan mereka, semampu kita.

 

 

 

 

 

Bahan Bacaan:

Cahyadi Takariawan, Wonderful Marriage, Era Adicitra Intermedia, Solo, 2017

Istifadah ilmu dari fadhilatul Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal dalam https://rumaysho.com/

 

 

Cahyadi Takariawan

Cahyadi Takariawan telah menulis lebih dari 50 judul buku yang sebagian besarnya bertema keluarga. Aktivitasnya saat ini selain menulis adalah menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Mendirikan Jogja Family Center (JFC) pada tahun 2000 sebagai kontribusi untuk mengokohkan keluarga Indonesia. Kini JFC bermetamorfosis menjadi Wonderful Family Institute. Beliau dapat diakses melalui Instagram @cahyadi_takariawan

Tinggalkan Balasan