Kembali
Keluarga

Fitrah yang Tertukar

Fitrah yang Tertukar

@Ummu Rochimah

 

“Bu, bagaimana caranya ya kita ngasih tahu ke suami tentang tanggung jawabnya sebagai seorang kepala rumah tangga. Bahwa kewajiban dialah untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, belanja dapur, bayaran anak sekolah, bayar listrik, internet, dan lain-lainnya deh. Aku capek bu.., selama ini semua kebutuhan itu aku yang penuhi, sementara suami cuek banget. 

Waktu diajak ngomong masalah ini, dia cuma bilang, [“Aku ngga punya duit, kan kamu yang punyai duit, ya udah lah kamu yang bayar semuanya..”] 

Memang sih aku kerja, jadi bisa penuhi semua kebutuhan rumah tangga sementara suami pekerjaannya serabutan, hasilnya juga ngga menentu.”

Iyuh…iyuuhhh…pagi-pagi dapat curhatan kayak gini rasanya pengen gigitin sendal, rasa laparpun mendadak dangdut. Wkwkwk

Duh, ini satu dari sekian banyak kisah serupa di luar sana kali ya? Fenomena Fitrah yang Tertukar.

Seiring dengan perkembangan zaman dan kondisi global mau tidak mau, suka tidak suka akan membawa perubahan peran dalam kehidupan rumah tangga. Salah satunya adalah dengan makin banyaknya kesempatan pekerjaan di ruang publlik yang diisi oleh kaum perempuan, dan sepertinya fenomena ini semakin bertambah dari waktu ke waktu. 

Semakin hari semakin banyak kaum laki-laki yang belum atau kurang memahami makna qowwam dalam rumah tangga, kecuali memaknainya sebagai pemimpin dalam arti kekuasaan, orang yang memerintah.

Imam Al Qurthubi di dalam  kitabnya Al Jami’ li Ahkamil Quran memberikan penjelasan mengenai makna ayat,

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ

“Laki-laki adalah qawwam bagi perempuan..” (QS. An Nisa’ : 34) sebagai berikut : 

Kaum laki-laki pemimpin atas kaum perempuan, artinya adalah mereka berkewajiban memberi nafkah kepada kaum perempuan, membela, dan melindunginya.

Dengan demikian, laki-laki atau suami dianggap menjadi pemimpin yang layak ditaati apabila ia memberikan nafkah, membela dan melindung istrinya.

Muhammad Abduh dalam kitab tafsirnya menjelaskan tentang maksud pemimpin dalam ayat di atas adalah kepemimpinan yang didalamnya pihak yang dipimpin bisa berbuat menurut kehendak dan pilihannya, bukan kepemimpinan di mana orang yang dipimpin itu ditekan dan dirampas kehendaknya.

Kepemimpinan laki-laki dalam rumah tangga harusnya berlandaskan sikap cinta, kasih sayang dan keadilan terhadap yang dipimpinnya. Ia tidak boleh menjadikan kepemimpinannya untuk bersikap sewenang-wenang, berlaku semaunya terhadap istri dan anak-anak, berbuat zalim baik secara fisik maupun verbal, atau tidak memenuhi hak-hak mereka yang dipimpinnya.

Dalam Al Quran surat An Nisa : 19 Allah katakan, 

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ…

“Dan pergaulilah mereka(kaum perempuan) dengan ma’ruf (baik).”

Melihat makna ayat-ayat Allah di atas, maka sudah selayaknya laki-laki memiliki ketrampilan memimpin yang bisa membuat mereka yang dipimpin merasa senang, tenang, leluasa, berdaya potensinya dan bahagia.

Laki-laki perlu melatih dirinya untuk tidak menjadi pemimpin yang arogan, otoriter, sewenang-wenang, menyusahkan atau memandulkan potensi pihak yang dipimpin.

Semua itu memang harus berproses, tidak instan. Maka keinginan kuat dari dalam diri laki-laki untuk menjadi pemimpin yang dirindukan, pemimpin yang disayangi, pemimpin yang tidak tertukar fitrahnya harus selalu tumbuh dalam dirinya. Begitu ya fergusso..

Buat marimar, dukung dan doakan fergusso supaya bisa kembali pada fitrahnya, jangan dimarahi atau ditinggalkan ya..

Wallahu’alam

Ditulis oleh Ummu Rochimah

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.