Kembali
Keluarga

Hindari Kebiasaan Terlalu Cepat Mengoreksi Pembicaraan Pasangan

Oleh : Cahyadi Takariawan

Terkadang, dalam sebuah komunikasi antara suami dan istri, mendadak tersendat atau bahkan terhenti dengan tidak nyaman. Salah satu sebabnya adalah, kebiasaan salah satu pihak untuk cepat-cepat mengoreksi pembicaraan pasangan. Apalagi ketika hal itu dilakukan di hadapan anak atau orang lain. Tentu membuat pasangan merasa tidak nyaman karena merasa dipermalukan atau disalahkan.

Banyak istri mengeluh tidak bisa leluasa berbicara dengan suami. Namun giliran ada kesempatan berbicara, membuat suasana menjadi tidak nyaman. Akhirnya pembicaraan menjadi terhenti lagi, dan suasana menjadi rusak. Hal ini karena kebiasaan untuk cepat-cepat mengoreksi pembicaraan pasangan yang dianggapnya keliru atau tidak benar. Mari kita lihat beberapa contoh kendala komunikasi yang disebabkan oleh kebiasaan terlalu cepat mengoreksi pembicaraan pasangan.

Contoh 1

Suami : Dulu, sekitar bulan April tahun 2017, Ayah ada agenda kantor di Bangkok, lalu…

Istri (memotong pembicaraan suami) : Itu bukan April Yah… Ayah ke Bangkok itu Agustus 2017…

Suami : Terserahlah…. Gak penting itu…

Istri : Loh, Ayah memang Agustus kok perginya ke Bangkok, bukan April…

Contoh 2

Istri : Sudah empat tahun terakhir ini, kita tidak pernah liburan keluarga ke luar kota, jadinya…..

Suami (memotong pembicaraan istri) : Ngawur kamu, dua tahun lalu kita jalan-jalan ke Bali….

Istri : Ya gak lah, ke Bali itu bahkan sudah lama sekali…

Suami : Terserahlah….

Contoh 3

Suami : Sekitar tiga bulan yang lalu, saya bersama istri dan empat anak kami, sempat berkunjung ke….

Istri (memotong pembicaraan suami) : Itu kan sudah lima bulan yang lalu Pah, lagian yang ikut anak kita cuma tiga, kan si Alvin tidak bisa ikut waktu itu….

Suami : Emmmm…. ya, saya teruskan. Kami waktu itu ada agenda di Jakarta, dan kami sempatkan berkunjung ke rumah Abang… Ternyata Abang waktu itu tidak ada di rumah, katanya sedang pergi ke Medan ya Bang?

Istri (memotong pembicaraan suami) : Bukan Medan, ke Aceh. Ya kan Bang?

Tahan Keinginan untuk Terlalu Cepat Mengoreksi Pembicaraan Pasangan

Agar pembicaraan menjadi nyaman dan melegakan, tahanlah keinginan untuk cepat-cepat mengoreksi pembicaraan pasangan. Karena ada hal-hal yang bukan menjadi tema pembicaraan, sehingga tidak perlu terlalu dikoreksi atas kesalahan penyebutan atau kesalahan ingatan untuk menyebutkan sesuatu. Yang harus diperhatikan adalah, apa tema atau topik utama dari pembicaraan yang sedang berlangsung.

Dalam tiga contoh di atas —dan yang sejenis dengan itu— poin pembicaraan yang dikoreksi itu bukanlah hal yang sangat esensial. Hanya menyangkut masalah-masalah teknis, mungkin terkait terbatasnya ingatan, atau karena dianggap tidak terlalu penting, maka penyebutan tanggal atau waktu itu dilakukan secara sekilas. Apalagi arah pembicaraan tersebut tidak bermaksud untuk fokus pada sisi waktu.

Setting pembicaraan pada contoh pertama, seorang ayah ingin bercerita kepada istri dan anak-anaknya, pengalaman saat di Kota Bangkok. Ia ingin menyampaikan beberapa kesan serta pelajaran yang ia dapatkan selama perjalanan di Bangkok. Namun kenyamanan pembicaraan menjadi terganggu karena koreksian yang dilakukan dengan memotong pembicaraan pada hal yang bersifat teknis, dan bukan esensi pembicaraan. Tidak jadi masalah apakah yang benar bulan April atau Agustus, namun esensinya ia ingin menyampaikan pelajara penting yang ia dapatkan dari Kota Bangkok.

Pada contoh kedua, setting pembicaraannya adalah, seorang istri ingin mengajak suaminya jalan-jalan keluar kota gersama anak-anak. Ia hanya sekedar ingin memberi gambaran ‘sudah lama kita tidak jalan-jalan liburan keluar kota’, maka mari kita rencanakan lagi liburan bersama keluarga. Itu tema pentingnya. Tidak penting apakah terakhir ke Bali dua tahun lalu atau empat tahun lalu, yang penting mari kita rencanakan lagi perjalanan yang menyenangkan bersama keluarga.

Setting pembicaraan pada contoh ketiga, pasangan suami istri sedang berbincang dengan Abangnya yang baru datang dari Jakarta. Suami sedang berbasa-basi membangun pembicaraan dengan Abang, namun suasana menjadi tidak nyaman saat sang istri terlalu bersemangat mengoreksi pembicaraan suami. Esensi pembicaraan yang ingin disampaikan suami kepada Abang adalah, bahwa mereka selalu berusaha untuk menyambung silaturahim, dengan mengunjungi rumah Abang di Jakarta. Tidak terlalu penting apakah waktu itu dengan megajak empat anak atau tiga anak, apakah itu terjadi tiga bulan lalu atau lima bulan lalu. Karena tidak sedang fokus pada asepk waktu.

Sekali lagi, tahanlah kebiasaan dan keinginan untuk terlalu cepat mengoreksi pembicaraan pasangan. Utamakan kelancaran, kenyamanan, kelegaan dalam pembicaraan.  Karena dengan komunikasi suami istri yang lancar, akan membuat suasana kehidupan rumah tangga menjadi lebih harmonis, tenteram dan bahagia.

Ditulis oleh ruangkeluarga

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.