.
Oleh: Cahyadi Takariawan
Saat berada di Nagoya beberapa hari lalu, saya bertemu pasangan mixed-culture Indonesia – Jepang. Mbak Dewi adalah perempuan muslimah asli Jogja yang bahasa Jawanya sangat medok. Suaminya, Muto-san adalah lelaki muallaf asli Jepang dengan bahasa Jepangnya yang juga medok.
Mereka dikaruniai enam anak yang dididik dengan cara Islam. Keluarga Muto-san membeli rumah tinggal di kawasan Nagoya, dimana salah satu kamar disetting untuk musholla keluarga. Maklum, di Nagoya tidak mudah menemukan masjid atau musholla.
Muto-san tertarik mempelajari Islam saat kuliah di Nagoya. Sering berinteraksi dengan mahasiswa muslim dari berbagai negara. Salah satu teman kuliah yang sering menjadi teman diskusi adalah Dewi. Dari berbagai diskusi ringan, membuat Muto-san semakin ingin mengetahui Islam.
Hingga dirinya rela datang ke Indonesia untuk melihat secara lebih dekat kehidupan umat muslim. Ia tinggal di rumah salah seorang warga lokal. Dalam sebuah momentum Idul Adha, ia hadir di lapangan shalat Ied bersama keluarga tersebut.
Sesampai di lapangan shalat Ied, ia diperkenalkan kepada para jamaah. Mereka menyambut dengan jabat tangan hangat dan sambutan ramah bersahabat. Tak tampak mata curiga terhadap dirinya.
Sepulang dari shalat Ied, ia menyatakan sudah mantap masuk Islam. Keluarga yang ditinggali merasa khawatir bahwa keinginan Muto-san hanya karena peristiwa sesaat. Jangan-jangan nanti ia akan menyesali keputusannya.
Salah seorang anggota keluarga menyampaikan hal yang mungkin akan “menakutkan” dan membuat Muto-samn berpikir ulang niatnya.
“Muto-san, tahukah kamu bahwa jika seorang laki-laki masuk Islam, ia harus disunat?”
“Apa itu sunat” tanya Muto-san.
Setelah dijelaskan perihal sunat, ia tampak kebingungan. “Izinkan saya berpikir ulang,”ungkapnya.
Keesokan harinya ia memberikan keputusan. “Saya siap masuk Islam dan siap disunat”, ujarnya.
Akhirnya Muto-san diantar ke masjid untuk mengucapkan syahadat di hadapan para saksi. Usai mengucap syahadat, ia pun melaksanakan sunat.

Setelah menjadi muslim, ia memberanikan menyatakan ingin menikah dengan Dewi. Mereka membuat poin-poin komitmen untuk bekal menjalani kehidupan mixed-culture.
Pernikahan terlaksana di Nagoya. Hingga akhirnya mereka dikaruniai enam anak salih dan salihah. Bersyukur, Muto-san komitmen menjalankan kewajiban pokok sebagai muslim, seperti shalat lima waktu dan puasa Ramadhan. Ia juga berproses belajar memahami Al-Qur’an.
Muto-san berperan besar dalam kehidupan warga muslim Indonesia yang berada di Nagoya. Ketika komunitas muslim Indonesia mengupayakan membeli bangunan untuk tempat ibadah, ia membantu mengkomunikasikan dengan berbagai pihak di Jepang.
Demikian pula ketika komunitas Masjid Indonesia Nagoya (MINA) melaksanakan berbagai kegiatan keagamaan, Muto-san aktif berperan di belakang layar untuk suksesnya setiap kegiatan Islam. Saya menyaksikan sendiri bagaimana ia berperan aktif dalam kegiatan komunitas MINA.
Semoga mereka menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah, semoga anak-anaknya tumbuh semakin salih dan salihah, dikaruniai rezeki yang lancar dan penuh berkah, diberikan istiqamah dalam Islam hingga akhirhayat yang indah husnul khatimah, dan kelak diizinkan berkumpul bersama di jannah, surga Allah yang indah. Aamiin.