Kembali
Dunia Buku

Inisiator Pembuatan Buku Antologi

.

Ayuk Menulis Buku Antologi – 5

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Pada dasarnya, proses pembuatan buku antologi melewati beberapa tahapan yang sangat fleksibel. Setiap buku antologi lahir dengan proses yang beragam dan unik, tidak sama antara satu dengan yang lainnya. Selalu ada kisah seru dan menarik di balik terbinya sebuah buku antologi.

Kehadiran sebuah buku antologi, dimulai dengan adanya pihak yang saya sebut sebagai inisiator. Pihak inilah yang mengawali ajakan, sehingga akhirnya bergulis menjadi proses, hingga kelahiran buku antologi. Inisiator adalah pihak yang memiliki inisiatif untuk membuat buku antologi.

Siapa Saja yang Bisa Menjadi Inisiator?

Siapa yang disebut sebagai inisiator? Ia bisa perseorangan, bisa suatu komunitas, bisa lembaga, organisasi atau instansi, bisa pihak penerbit, atau pihak lain –siapapun, yang berkepentingan menghadirkan buku antologi. Inilah pihak yang menginisiasi hadirnya sebuah buku antologi.

Pada dasarnya, siapapun bisa menjadi inisiator pembuatan buku antologi. Tidak ada kriteria atau ketentuan khusus tentang inisiator ini.

  • Pribadi / Perseorangan

Siapapun berhak menjadi inisiator. Jika Anda memiliki ide untuk menulis buku antologi dengan tema tertentu, Anda berhak menjadi inisiator. Anda mengajak teman-teman, atau memberikan ajakan secara terbuka melalui media sosial, guna mencari kontributor tulisan. Jika ajakan Anda ada yang menyambut, maka buku antologi bisa Anda wujudkan bersama mereka.

Misalnya, seorang aktivis lingkungan, mengajak para pemerhati lingkungan untuk membuat buku antologi bertema menjaga lingkungan hidup. Bermula dari keprihatinan dari kondisi lingkungan yang semakin penuh polusi, ia mengajak para pemerhati lingkungan untuk memberikan edukasi tertulis kepada masyarakat.

Contoh lainnya, seorang ibu rumah tangga yang setiap hari mengantar dan menunggui anak di Playgroup. Ia bisa berinisiatif mengajak ibu-ibu lainnya yang setiap pagi bertemu di Playgroup tersebut untuk menuliskan kisah-kisah anak masing-masing. Ini bisa menjadi buku antologi tentang pendidikan dan pengasuhan anak.

  • Gabungan Beberapa Orang

Dua orang mahasiswa yang bersahabat erat, rutin berkegiatan bersama. Bertemu setiap hari, mengobrol, berdiskusi, hingga akhirnya muncul ide membuat buku antologi untuk menunangkan pemikiran kritis mereka. Agar lebih berbobot, mereka mengajak serta beberapa teman kuliah dan dosen. Dua orang ini bertindak sebagai inisiator pembuatan buku antologi.

Dalam sebuah grup whatsapp, muncul diskusi hangat tentang suatu tema. Beberapa orang mengusulkan agar diskusi mereka dibuat lebih serius dengan dituliskan. Akhirnya gayung bersambut, anggota grup lainnya mendukung gagasan tersebut. Dalam hal ini, beberapa orang yang melontarkan ide di grup, adalah para inisiator pembuatan buku antologi.

Dalam satu keluarga, suami, istri dan anak-anak mengobrol santai. Dalam obrolan tersebut, muncul ide membuat buku antologi keluarga. Lalu mereka merancang tema, hingga teknis penulsan naskah. Hadirlah buku antologi yang ditulis oleh suami, istri dan anak-anak dalam satu keluarga.

  • Komunitas

Indonesia sangat terkenal dengan kehangatan sosial antar anggota masyarakat. Maka terbentuklah banyak komunitas, perkumpulan, paguyuban, maupun trah. Ada komunitas gowes, komunitas anggrek, komunitas motor tua, komunitas mancing, dan lain sebagainya.

Dalam sebuah komunitas, biasanya akan muncul inisiatif untuk membuat kegiatan. Misalnya sebuah komunitas pecinta kucing, berinisiatif membuat tulisan tentang kucing, yang ditinjau dari berbagai sisi.

Sebagai inisiator, komunitas ini mengajak komunitas lainnya sesama pecinta kucing untuk berkontribusi dalam pembuatan buku antologi kucing. Akhirnya ajakan membuat tulisan tentang kucing ini beredar di komunitas-komunitas pecinta kucing. Hingga berhasil terwujud buku antologi tentang kucing.

  • Lembaga / Instansi Resmi

Sudah banyak lembaga atau instansi, baik pemerintahan, pendidikan, maupun kemasyarakatan yang menyelenggarakan lomba penulisan ilmiah. Hasil lomba ini dibukukan dalam bentuk antologi.

Misalnya, dalam rangka memeringati Hari Pendidikan Nasional, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan menyelenggarakan lomba karya tulis ilmiah remaja bertema pendidikan. Hasil penilaian dari lomba tersebut, menjadi dasar untuk kesertaan dalam buku antologi.

Demikian pula ormas, partai politik, LSM, yayasan, penerbit dan berbagai lembaga lainnya, bisa berinisiatif mengajak warga masyarakat menulis tentang suatu tema. Tulisan yang memenuhi kualifikasi akan disertakan dalam buku antologi.

Penyiapan Tim Kerja oleh Inisiator

Selanjutnya, pihak inisiator, perlu membentuk tim kerja atau panitia pelaksana, untuk merancang dan menjalankan teknis pembuatan buku antologi. Tim kerja bertugas menyiapkan berbagai hal sejak dari tema antologi, ketentuan penulisan naskah, deadline pengumpulan naskah, editing naskah, hingga aktivitas pracetak dan penerbitan buku.

Tim kerja terdiri dari beberapa orang, seperti koordinator atau penanggung jawab, sekretaris, bendahara, bagian naskah, bagian edit, bagian pracetak, dan lain sebagainya. Mereka membagi tugas dengan jelas, untuk mengawal proses pembuatan buku antologi sampai jadi.

Keberadaan tim kerja ini menjadi lebih terasa urgensinya apabila buku antologi dikerjakan secara mandiri, dan diterbitkan secara indi atau self publishing. Ketika dikerjakan secara mandiri, tentu harus ada tim kerja untuk menuntaskan semua tahapan. Sejak dari teknis mengundang partisipasi penulis, kontrol pengiriman naskah oleh penulis, sampai pada pengerjaan setting / lay out, cover, negosiasi dengan penerbit, sampai promosi dan penjualan.

Namun apabila sudah ada penerbit mayor yang bersedia  menerbitkan buku antologi tersebut, maka semua pekerjaan teknis pracetak (edit, layout, cover) bisa dikejakan oleh pihak penerbit. Tinggal urusan pengumpulan naskah. Selanjutnya, pihak inisiator atau tim kerja berkomunikasi dengan penerbit yang dipilih.

Ditulis oleh ruangkeluarga

Dipublikasikan di Ruang Menulis. Kanal kreasi naskah, literasi, dan karya tulis terpilih.