Oleh : Cahyadi Takariawan
Dalam kehidupan berumah tangga, kita tidak bisa menghindarkan diri dari konflik. Karena sesungguhnya konflik adalah konsekuensi logis dari adanya interaksi. Tidak ada interaksi yang tidak menimbulkan konflik, baik konflik ringan sampai konflik yang berat. Dalam pernikahan, sering dikatakan bahwa “konflik adalah bumbu kehidupan pernikahan”. Meski demikian, jangan sampai bumbu lebih banyak dibanding masakan utamanya.
Apapun jenis masakannya, kalau bumbu lebih banyak dari bahan pokok, justru akan mengacaukan rasa. Bumbu baru menjadi membuat enak masakan apabila diberikan dengan takaran yang proporsional. Pertengkaran dan konflik dianggap wajar sebagai bumbu kehidupan berumah tangga, apabila proporsional, dan bisa segera diselesaikan. Tidak berlarut-larut, apalagi sampai melakukan tindakan kekerasan dalam mengekspresikan konflik.
Untuk itu, jika tengah menghadapi konflik dengan pasangan, perhatikan benar etika dalam menyikapinya. Paling tidak ada delapan larangan yang tidak boleh dilakukan oleh suami dan istri, saat mereka tengah menghadapi konflik.
1. Jangan melakukan kekerasan fisik terhadap pasangan
Walau tengah ada masalah dengan pasangan, berjanjilah untuk tidak memukul, menampar, menendang, meninju, mencakar, serta tindakan kekerasan fisik lainnya. Jangan melukai dan menyakiti fisik pasangan dengan cara atau sarana apapun. Dengan tangan kosong ataupun dengan alat pemukul, pisau, dan aneka sarana lainnya. Anda wajib menjaga fisik pasangan. Jangan ada satupun luka anda torehkan kepada badan pasangan anda.
Tidak layak suami memukuli istri, tidak layak istri memukuli suami. Tindakan kekerasan fisik yang dilakukan dalam situasi emosi akan sangat membahayakan kesehatan dan keselamatan pasangan. Seorang istri mengadu di ruang konseling, bahwa dirinya kerap menjadi obyek pelampiasan kemarahan suami. Tendangan, tamparan, bahkan di saat dirinya tengah hamil, sering didapatkan. Banyak bekas-bekas luka dan lebam akibat pukulan suami, masih bisa dilihat di beberapa bagian tubuhnya.
Tindakan kekerasan fisik seperti ini sangat merugikan dan membahayakan. Tidak pantas dilakukan oleh dua orang yang berhimpun atas nama cinta. Tidak patut dilakukan oleh manusia yang bertaqwa. Menyiksa binatang saja dilarang agama, apalagi menyiksa pasangan hidupnya, kekasih hatinya. Tentu sama sekali tidak bisa dibenarkan. Sebagai sepasang kekasih, hendaknya mereka berusaha untuk meredam konflik dan tidak mengekspresikan dengan tindakan yang bisa membahayakan jiwa pasangan.
2. Jangan melakukan kekerasan secara psikis terhadap pasangan
Walau tengah emosi karena sedang konflik, berjanjilah untuk tidak memaki, membentak, mengeluarkan sumpah serapah, kata-kata jorok dan kotor, serta tindakan lain yang menyakiti hati pasangan. Pada saat suami dan istri tengah mengalami konflik, biasanya justru memilih kata-kata yang paling pedas dan menyakitkan hati. Kata-kata yang paling jorok sekalipun mudah terucapkan di saat suasana emosi tidak terkendali. Masih ditambah dengan tindakan yang semakin melecehkan pasangan, seperti meludah, atau mengusir dari rumah. Ini sungguh sangat menyakitkan pasangan.
Anda wajib menjaga hati dan perasaan pasangan. Tidak layak suami mencaci maki istri, demikian pula tidak layak istri memaki-maki suami. Kewajiban suami adalah melindungi istri, kewajiban istri adalah menghormati suami. Sepanjang anda terikat sebagai suami dan istri, anda harus saling menjaga hati dan perasaan pasangan. Tidak saling menyakiti, tidak saling melukai.
Kekerasan secara psikis bisa lebih menyakitkan dibanding kekerasan fisik. Walau tidak mengucurkan darah, walau tidak ada bagian tubuh yang cidera, walau tidak ada luka yang menyayat badan pasangan, namun hati yang terluka lebih lama sembuhnya. Perasaan yang tersayat-sayat lebih dalam dan lebih lama rasa sakitnya. Maka sangat tidak patut suami dan istri saling melakukan kekerasan secara psikologis terhadap pasangan. Bukankah anda berdua sepasang kekasih yang diikat oleh cinta?
3. Jangan melakukan konflik terbuka di depan anak
Walaupun sedang konflik dengan pasangan, jangan melakukan konflik terbuka di depan anak-anak. Hal itu akan menyebabkan munculnya kekecewaan, ketakutan dan trauma dalam kehidupan anak di masa depan mereka. Pertunjukan “peperangan” baik secara fisik atau adu mulut antara suami dan istri yang dilihat anak-anak, sama dengan mengajarkan kekerasan, permusuhan dan kebencian pada benak mereka.
Suami dan istri harus mampu meredam konflik secara dewasa, menyelesaikan permasalahan secara bijak. Jangan sampai pertempuran dahsyat justru ditampakkan di hadapan anak-anak. Mereka tidak siap dan tidak sanggup menyaksikan berbagai konflik di antara orang-orang yang sangat mereka cintai. Mereka tidak akan sanggup untuk memilih antara ayah atau ibu. Trauma dalam waktu panjang bisa muncul akibat anak-anak terbiasa menyaksikan kekerasan di antara ayah dan ibu mereka.
Jangan biarkan anak-anak menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya. Bahkan pertengkaran dalam bentuk diam-diaman sekalipun. Anak-anak akan cepat menangkap bahwa antara ayah dan ibu mereka ada sesuatu, karena sudah tidak bisa saling berbicara satu dengan yang lain. Tidak bisa saling tertawa satu dengan yang lain. Ini akan menyakitkan bagi anak-anak yang masih sangat berharap mendapat kehangatan kasih sayang kedua orang tua secara utuh dan penuh.
4. Jangan mengumbar konflik di muka umum
Konflik suami dan istri tidak patut di buka di depan umum. Ada suami istri bertengkar di depan rumah mereka sehingga menjadi tontonan tetangga. Ada suami dan istri bertengkar di stasiun kereta api, terminal bus, bahkan bandara. Ada suami istri bertengkar hebat di hadapan karyawan dan anak buah perusahaan. Pemandangan konflik suami istri, tentu sangat tidak layak dipertontonkan di muka umum. Bahkan sangat memalukan apabila sampai ketahuan pihak lain.
Ada istri yang hobi bercerita detail-detail konfliknya dengan suami, kepada teman-teman pergaulan. Saat ngerumpi bersama komunitas sosialita, cerita tentang konflik dengan suami menjadi salah satu agenda yang mereka buka. Dampaknya, aib suami menjadi konsumsi publik. Ada pula suami yang suka menceritakan konflik dengan istri, kepada teman-teman kerja atau teman di grup-grup chating. Tindakan seperti ini jelas tidak bijaksana dan tidak dewasa, apalagi menyebarkan aib istri kepada pihak-pihak yang tidak memiliki kepentingan untuk mengetahui.
Hal seperti ini tidak patut dilakukan, karena konflik dengan pasangan bukanlah tontonan atau entertainment. Konflik dengan pasangan semestinya dikelola di ruang privat sembari mencari solusi bersama, bukan diumbar di muka umun. Apalagi kalau sampai menggalang dukungan dari teman-teman pergaulan, tentu sudah sangat jauh dari etika. Konflik menjadi semakin melebar kemana-mana, dan semakin meruncing suasananya.
5. Jangan cepat-cepat curhat
Saat tengah konflik dengan pasangan, jangan cepat-cepat curhat kepada pihak lain, apalagi “curhat jalanan” kepada pihak yang tidak berkompeten. Tindakan curhat jalanan setiap mengalami konflik ini justru bisa semakin memperluas medan konlik, bukan menyelesaikan. Yang dimaksud dengan curhat jalanan adalah curhat kepada sembarang orang. Bahkan cepat-cepat curhat kepada orangtua pun bukanlah tindakan yang tepat, karena akan membebani hati dan pikirang orangtua.
Suasana hati suami dan istri itu cepat sekali berubah. Dalam hitungan menit bahkan detik, kemarahan bisa berubah menjadi kehangatan kasih sayang. Istri yang marah atas perilaku suami, tiba-tiba bisa hilang lenyap kemarahannya berganti kasih sayang, saat suami dengan tulus memeluk dan mengucapkan kata cinta. Karena situasi hati suami istri mudah sekali berbolak-balik, maka saat tengah menghadapi konflik, jangan mudah curhat dan menceritakan konflik itu kepada orang lain. Situasinya bisa sangat cepat berubah.
Pihak yang menerima curhat bisa memiliki persepsi permanen atas persoalan itu, padahal suami dan istri telah mengalami berbagai macam perubahan perasaan dalam waktu yang sangat singkat. Tindakan cepat curhat ketika menghadapi pertengkaran dengan pasangan satu sisi menunjukkan ketidakdewasaan dalam hidup berumah tangga, dan di sisi lain membahayakan kebahagiaan rumah tangga.
Curhat hanya pantas dilakukan kepada pihak yang memiliki kompetensi, itupun dilakukan secara privat di ruang tertutup. Dilakukan curhat setelah usaha mereka berdua untuk menyelesaikan masalah tidak berhasil menemukan jalan keluar. Pada hakikatnya masalah bukan untuk diobral, bukan untuk diumbar, dan bukan dilakukan di depan umum.
6. Jangan menumpahkan emosi konflik melalui medsos
Medsos bukanlah sarana untuk berkonflik dan bukan pula sarana untuk menumpahkan emosi kepada pasangan. Saat tengah menghadapi konflik dengan pasangan, hindari menuliskan suasana emosional melalui facebook, twitter, instagram, path dan lain sebagainya. Tindakan curhat terbuka melalui medsos tersebut justru potensial untuk menimbulkan perluasan medan konflik, serta mengumbar aurat keluarga ke ranah publik.
John M. Gottman melontarkan istilah “banjir emosi” untuk menggambarkan suasana hati suami istri yang memulaiinteraksi dengan “awal yang buruk”. Suasana jiwa mereka dibanjiri emosi, dan membuat suami maupun istri sulit mengontrol diri. Pada titik seperti itu membuat mereka mudah meluapkan “banjr emosi” tersebut melalui berbagai macam sarana, termasuk medsos. Tindakan menggunakan medsos untuk konflik suami istri, atau untuk menumpahruahkan emosi kepada pasangan, sama sekali tidak memberikan efek penyelesaian permasalahan.
Maka jangan pernah membuka front dengan pasangan melalui media sosial. Istri menulis status “perang” pada facebook dan aneka fitur medsos lainnya, kemudian ditanggapi oleh suami. Mereka perang terbuka melalui media sosial, yang bisa diakses oleh orang di seluruh dunia. Saat diri tengah dibanjiri emosi, hilanglah rasa malu, hlang pula pertimbangan akal sehat. Yang ada adalah dorongan untuk menumpahkan kemarahan, kekecewaan, kekesalan kepada pasangan melalui media yang mereka miliki.
7. Jangan menjauh dari pasangan
Salah satu tindakan yang membuat konflik semakin memanas dan sulit diselesaikan adalah ketika suami dan istri saling menjauh. Saat merasakan gejala konflik, suami semakin jarang pulang, mencari-cari alasan untuk pergi meninggalkan rumah agar tidak bertemu istri. Demikian pula istri semakin malas melayani suami, semakin cuek dengan suami, dan tidak mau bertemu suami. Walau sama-sama di rumah, mereka berdua memilih diam, saling menghindar, dan tidak berinteraksi satu sama lain. Inilah yang dimaksud dengan gejala menjauh.
Suasana saling menjauh menjadi lebih nyata ketika ditambah dengan saling mengkritik serta mencela dan menyalahkan pasangan. Suami konsisten melontarkan kritikan, celaan dan menyalahkan istri, demikian pula istri konsisten melontarkan kritikan, celaan dan menyalahkan suami. Masing-masing berdiri pada posisi yang berhadap-hadapan dan saling berlawanan. Padahal seharusnya mereka berada pada satu pihak, dan tidak saling menyerang satu dengan yang lain. Suasana kejiwaan mereka akan semakin menjauh apabila meletakkan diri secara berhadap-hadapan, seakan-akan menjadi musuh. Padahal mereka adalah pasangan, hanya saja sedang menghadapi pertengkaran.
Semestinya, di saat menghadapi konflik, mereka justru harus semakin mendekat satu sama lain. Konflik tidak akan selesai apabila dihindari, namun akan menjadi tuntas apabila dihadapi dengan bijak dan dewasa. Suami harus mengupayakan menghadirkan suasana yang kondusif agar konflik segera mereda dan terselesaikan dengan baik, demikian pula istri harus berusaha agar bisa lebih dekat dengan suami sehingga mudah untuk mendapatkan solusi.
8. Jangan membiarkan masalah tanpa penyelesaian
Yang harus anda lakukan adalah segera duduk berdua untuk mencari penyelesaian masalah. Tutup rapat masalah anda berdua, bicarakan baik-baik berdua saja, cari solusi berdua. Jangan emosi, jangan terbakar kemarahan, berpikirlah secara rasional dengan hati yang tenang. Bukankah anda dua orang yang saling mencinta?
Sebagai sepasang kekasih, tentu sangat mudah bagi anda untuk merujuk kembali kisah cinta yang telah anda bangun sejak awal berumah tangga. Merunut kembali motivasi yang mendorong anda berdua menjalani hidup berumah tangga. Itu akan membawa anda kepada suasana pengantin baru. Mengingat kembali masa-masa indah sejak sebelum menikah hingga awal-awal menjalani kehidupan keluarga, bisa membangkitkan cinta dan kasih sayang.
Jika anda berdua benar-benar tidak mampu menyelesaikan persoalan dan konflik, segera lakukan mediasi menggunakan bantuan pihak yang anda percaya bersama. Bisa mediasi melalui psikolog, konselor, pemuka agama, atau pihak keluarga yang terpercaya, agar memberikan advice atas masalah yang tengah melilit anda berdua. Mediasi ini merupakan salah satu bentuk upaya mencari jalan penyelesaian terhadap masalah. Agar masalah anda berdua segera selesai dan segera menemukan titik terang untuk mengakhiri “peperangan.”
Demikianlah delapan larangan saat berada dalam situasi konflik dengan pasangan. Bersikaplah bijak dan dewasa dalam menghadapi persoalan rumah tangga. Anda berdua sudah dewasa, anda berdua diikat dengan cinta dan kasih sayang sebagai pasangan, anda berdua telah berikrar atas nama Allah saat melaksanakan ijab qabul, maka hendaklah mudah menundukkan ego demi terselesaikannya konflik dengan baik.