.
Oleh: Leni Cahya, ID – 01601 EEPK 2020
.
Rencana melanjutkan penulisan buku emak-emak punya karya, sore ini ditunda dulu. Beberapa pesan WA dan SMS bersahutan, pesanan sudah sampai, harus segera diambil.
Anak bujang Ghazy, qadarullah, dapat tugas menghafalkan satu hadis tiap hari dari buku Umdatul Ahkam. Sementara bukunya aku ga punya.
Aku usulkan pesan di shopee aja. Dia ogah “nyampenya lama Bu. Paling cepat empat hari,” tolaknya.
“Adik ikut ibu aja, kita ke kota. Ada beberapa pesanan yang harus ibu ambil. Nanti kita cari di toko buku Citra, kalo ga ada kita ke Barokah,” kutawarkan solusi padanya.
Si bujang pun setuju. Dia lalu memanaskan mobil, setelah kuminta.
Kampungku letaknya sekitar satu jam perjalanan berkendara ke kota terdekat. Jika memesan barang secara online, aku biasa mengalamatkannya ke kantor sub cabang sebuah ekspedisi langgananku.
Hal itu selain untuk mengirit ongkos, juga mengurangi “kecurangan’ pihak ekspedisi. Pssst… Mungkin karena ga mau rugi, pihak ekspedisi ogah ngantar paket ke kampungku, padahal ongkir terhitung sampai rumah. Makanya, aku balas mereka dengan mengalamatkannya ke kantornya. Hehehe…
Selesai dandan seadanya, ku ajak serta juga Mak menemani kami. Anak gadis menolak, dia sedang asyik dengan kreasi membuat ‘entah apa’. Coretan huruf yang dibuat sedemikian rupa. Katanya itu bagian dari tugas menulisnya.
Singkat cerita, bertiga kami sampai juga di kota. Tadi sempat agak macet di jalan karena ada proyek perbaikan jalan. Alhamdulillah, sebentar lagi jalanan ke kota bakalan mulus semua.
Ada empat tempat yang akan kami tuju. Ku atur sedemikian rupa agar tidak bolak-balik alias mondar-mandir ngabisin bensin, hanya karena salah strategi.
Tujuan pertama, teman tahsinku Sepni. Ada dua buku yang ku pesan melaluinya. Alhamdulilah dia ada di rumah.
Tujuan berikutnya, mencari buku Umdatul Ahkam. Di toko Citra nihil. Kami berjalan ke toko Barokah, setelah merasa lebih aman parkir di depan Citra saja.
Di Barokah, buku yang diinginkan si bujang ternyata tidak tersedia. Mumpung sudah di sana, aku plarak plirik buku yang di pajang. Iseng.
Upss, aku melihat sesuatu di rak paling atas. Berjejer rapi beberapa buku dengan model serupa, hanya warnanya yang berbeda.
Teringat tadi wa mba admin kelas menulis yang membalas WA (Bukunya Pak Cah bisa di pesan lewat wa Bu) atas pertanyaanku, apakah buku Pak Cah bisa di pesan di shopee.
Si mba juga me-list daftar buku Pak Cah. Aku terpikir untuk memesan buku Wonderful Parent dan Wonderful Journey. Judul lainnya, menyusul.
Bulan ini anggaran beli bukunya sudah melampaui limit. Ga enak saja sama paksu. Walau beliau ga pernah protes.
Kembali ke Barokah. Aku meminta si Abang penjaga toko untuk diambilkan dua buku, Wonderful Parent dan Wonderful Journey.
Waktu menyerahkan Wonderful Journey, si Abang tanya, bukunya buat siapa. Buat ibunya atau anaknya, dengan ekspresi sedikit menyelidik.
“Buat ibunya. Buat saya,” aku menjawab yakin.
“Wah, ‘berat’ bacaan ibu” jawabannya membuatku sedikit bingung. Masa buku Pak Cah dibilang berat.
Kuamati buku berwarna biru muda itu dengan seksama. Astaghfirullah, Wonderful Journeys for a Mariage. Pantas si Abang bertanya-tanya.
Malu, aku mengelak.
“Wah, bukan journey yang ini. Journey yang isinya perjalanan Pak Cah ke luar negri,” jawabku sok. Ampuuun Pak Cah.
Aku sungguh malu. Bagaimana mungkin aku berkoar-koar mengatakan Pak Cah adalah mentor terbaikku. Aku kenal Pak Cah. Pak Cah hebat, dan lain sebagainya. Sementara aku tertipu dengan judul bukunya.
Hari ini aku menyadari sesuatu. Pengakuanku masih setengah-setengah. Baiklah, aku akan berusaha menjadi murid yang lebih baik lagi.
Suluruh pesanan selesai ku ambil. Karena jam sudah menunjukkan setengah empat, kami bergegas pulang. Untuk si bujang, akhirnya kami putuskan memesan di shopee.
Pelajaran kedua yang kudapat hari ini ketika membaca salah satu isi paketku. Sebuah antologi karya kakak-kakak KMO Alineaku ‘Anakku Guru Istimewa.’
Ternyata memang menulis itu semudah bernapas. Pengalaman nyata yang dituliskan dengan hasrat yang kuat, kesungguhan hati, kebulatan tekad, komitmen, dan disiplin. Akhirnya membuahkan karya nyata.
Ahaiii… Semangat itu kian menggelora. Menyambut ajakan ‘sang arsitek’ dan mengikuti jejak ‘kompor meleduk’
Tunggu aku ya….