JAS MERAH : ADA APA DENGAN KETURUNAN ARAB INDONESIA?

JAS MERAH : ADA APA DENGAN KETURUNAN ARAB INDONESIA?

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

Bung Karno berpesan, “Jas Merah, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah”. Sebuah pesan yang sangat mendalam maknanya. Bung Karno menghendaki, bangsa Indonesia menjadi bangsa yang pandai menghormati sejarah. Tidak meliupakan jasa para pahlawan, para pendahulu kita yang telah bersusah payah memerdekakan dan membangun Indonesia.

Jika kita tengok catatan sejarah, kita akan bertemu dengan banyak tokoh yang berjasa besar di masa prakemerdekaan, dalam masa perjuangan kemerdekaan, hingga masa-masa pembangunan Indonesia. Di antaranya adalah keterlibatan sejumlah tokoh keturunan Arab. Mereka tidak hanya sekedar tinggal dan menetap, sejumlah tokoh keturunan Arab itu aktif dan berperan langsung dalam perjuangan di era sebelum kemerdekaan, pada saat kemerdekaan, dan saat mengisi kemerdekaan Indonesia.

Tokoh Penting Keturunan Arab Indonesia Pada Masa Pra Kemerdekaan

Kita mengenal seorang tokoh bernama Raden Saleh. Ia lahir tahun 1807, dengan nama lengkap Raden Saleh Sjarif Bustaman. Tahukah anda, bahwa Raden Saleh keturunan Arab? Ia adalah cucu dari Sayyid Abdoellah Boestaman dari jalur ibu. Ayahnya adalah Sayyid Hoesen bin Alwi bin Awal bin Jahja, seorang keturunan Arab. Ibunya bernama Mas Adjeng Zarip Hoesen. Keluarga ini tinggal di daerah Terboyo, Semarang.

Ia adalah pelukis Indonesia yang mempopulerkan seni modern Indonesia, yang saat itu bernama Hindia Belanda. Sempat mendapat beasiswa untuk belajar di negeri Belanda tahun 1829. Di sana ia berkenalan dengan kalangan bangsawan dari banyak istana di Eropa, khususnya dengan Grojbherzog von Sachsen-Corburg-Gotha. Raden Saleh menerima gelar ksatria Belanda, Austria dan Prusia.

Ialah pelukis yang mengharumkan nama Indonesia ke seluruh dunia, dan dianggap sebagai pelukis paling berbakat pada abad ke 19. Kini ia dikenal sebagai “bapak” ilmu seni lukis Indonesia. Meninggal dunia di Bogor tahun 1880.

Kita juga mengenal nama Habib Abubakar bin Ali Shahab, salah seorang tokoh keturunan Arab yang aktif dalam pergerakan dan pendidikan Islam pada masa prakemerdekaan Indonesia. Ia adalah pendiri Jamiat Kheir dan Malja Al Shahab. Lahir di Jakarta tahun 1870 dari ayah Ali bin Abubakar bin Umar Shahab, kelahiran Hadramaut, dan ibu Muznah binti Syech Said Naum. Wafat pada tahun 1944, setahun sebelum kemerdekaan Indonesia.

Dalam tekanan kolonial yang keras, Habib Abubakar mendirikan perguruan Islam, yang bukan hanya mengajarkan agama, tetapi juga pendidikan umum. Pada tahun 1901, berdirilah perguruan Islam Jamiat Kheir yang berkontribusi dalam pendidikan dan pencerdasan anak bangsa, terutama warga keturunan Arab Indonesia.

Tokoh Penting Keturunan Arab Indonesia Pada Masa Kemerdekaan

Kita mengenal nama Abdurrahman Baswedan atau AR. Baswedan —seorang pejuang kemerdekaan, sekaligus diplomat dan sastrawan Indonesia. Lahir di di Surabaya pada tahun 1908, wafat di Jakarta, tahun 1986. AR Baswedan pernah menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha dan Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Wakil Menteri Muda Penerangan RI pada Kabinet Sjahrir, Anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP), Anggota Parlemen, dan Anggota Dewan Konstituante.

AR Baswedan adalah salah satu diplomat Indonesia yang berhasil mendapatkan pengakuan de jure dan de facto pertama bagi eksistensi Republik Indonesia, yaitu dari Mesir. AR Baswedan merupakan keturunan Arab yang fasih berbahasa Jawa. Dalam perjuangannya, dia sering menyerukan pada orang-orang keturunan Arab agar bersatu membantu perjuangan Indonesia.

Pada 1 Agustus 1934, Harian Matahari Semarang memuat tulisan AR Baswedan tentang orang-orang Arab. Dalam artikel itu terpampang foto AR Baswedan mengenakan blangkon. Ia mengajak keturunan Arab, seperti dirinya sendiri, menganut asas kewarganegaraan ius soli: di mana saya lahir, di situlah tanah airku. Melalui harian Matahari, AR Baswedan secara rutin melontarkan pemikiran tentang pentingnya integrasi, persatuan orang Arab di Indonesia, untuk bersama-sama komponen bangsa Indonesia yang lain memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

AR Baswedan bersama tokoh keturunan Arab lainnya menggelar suatu konferensi Peranakan Arab Indonesia, pada 4 – 5 Oktober 1934 di Semarang. Dalam konferensi itu para pemuda Indonesia keturunan Arab membuat sumpah: “Tanah Air kami satu, Indonesia. Dan keturunan Arab harus meninggalkan kehidupan yang menyendiri (isolasi)”. Sumpah ini dikenal dengan Sumpah Pemuda Indonesia Keturunan Arab.

Sejak 4 Oktober 1934 itu keturunan Arab bersatu bersama pergerakan nasional dan meninggalkan isolasi ke-Araban, lalu mengubah identitas dari semangat kearaban menjadi semangat keIndonesiaan. Hasil konferensi itu adalah dibentuknya Persatuan Arab Indonesia yang kemudian menjadi Partai Arab Indonesia.

Kita juga mengenal Faradj bin Said bin Awad Martak, seorang pedagang Indonesia keturunan Arab yang merelakan rumahnya Jalan Pegangsaan Timur nomor 56 digunakan untuk upacara proklamasi. Bahkan, selama Bung Karno tinggal di rumah Proklamasi itu, ia memberikan pelayanan, termasuk membantu menyembuhkan penyakit dari Bung Karno. Faradj sering disebut sebagai salah satu donatur untuk kemerdekaan Indonesia.

Rumah tersebut sejak tahun 1962 dipugar atas perintah Soekarno, kemudian dibangun Gedung Pola, dan di tempat Bung Karno berdiri bersama Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia itu didirikan monumen Tugu Proklamasi. Sejak itulah Jalan Pegangsaan Timur berubah menjadi Jalan Proklamasi.

Faradj lahir di Hadramaut, Yaman Selatan dan menetap di Indonesia. Faradj tercatat pernah menjabat sebagai Presiden Direktur N.V. Alegemeene Import-Export en Handel Marba. Sebagai pebisnis sukses di masanya, ia aktif berjuang untuk kemerdekaan dan pembangunan Indonesia.

Jasa Faradj mendapatkan apresiasi dari Menteri Pekerjaan Umum dan Perhubungan Republik Indonesia Ir HM Sitompul tertanggal 14 Agustus 1950. Dalam surat itu, Pemerintah Indonesia menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan kepada Faradj bin Said Awad Martak. Penghargaan diberikan kepadanya karena telah membantu Indonesia dalam hal beberapa usahanya membeli beberapa gedung di Jakarta, antara lain Jalan Pegangsaan Timur 56, Cikini Jakarta.

“Jas Merah”, Membangun Kesadaran Sejarah

Demikianlah kiprah beberapa tokoh keturunan Arab Indonesia, yang sangat nyata bagi kemerdekaan dan pembangunan Indonesia. Jangan sampai bangsa kita tidak mengerti sejarah, jangan sampai menjadi bangsa yang melupakan sejarah. Peran penting warga keturunan Arab di Indonesia tidak akan pernah bisa terhapuskan dari sejarah kemerdekaan Indonesia.

“Kesadaran bangsa Indonesia keturunan Arab pada 4 Oktober 1934, menurut kami memang suatu peristiwa yang sangat penting, yang sudah sepatutnya mendapat perhatian secukupnya. Peristiwa tersebut tidak saja penting bagi saudara bangsa kita yang berketurunan Arab, namun amat penting pula untuk kita semua,” kata Ki Hajar Dewantara dalam peringatan 20 tahun Persatoean Arab Indonesia.

Sangat menyedihkan jika ada tokoh nasional Indonesia yang memberikan pernyataan sinis terhadap warga Indonesia keturunan Arab. Seakan mereka menutup mata terhadap jasa para pahlawan kemerdekaan, yang sebagiannya dari keturunan Arab. Bukan hanya menutup mata untuk dirinya, dengan pernyataan sinis itu juga akan menutup mata bangsa Indonesia dari sejarah. Ada apa di pikiran para tokoh nasional ini? Mengapa mereka sinis dan nyinyir dengan keturunan Arab?

Sungguh benar pesan Bung Karno, Jas Merah ! Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Sebuah pesan yang mak jleb.

 

 

Bahan Bacaan

Hamid Algadri, C. Snouck Hurgronje Politik Belanda terhadap Islam dan Keturunan Arab, Jakarta, Sinar Harapan, 1983.

Dr. Bahafdullah, Madjid Hasan, Dari Nabi Nuh Alaihissalam Sampai Orang Hadhramaut di Indonesia: Menelusuri Asal Usul Hadharim, Jakarta, Bania Publishing, 2010.

Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942, Jakarta, LP3ES, 1982

Cahyadi Takariawan

Cahyadi Takariawan telah menulis lebih dari 50 judul buku yang sebagian besarnya bertema keluarga. Aktivitasnya saat ini selain menulis adalah menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Mendirikan Jogja Family Center (JFC) pada tahun 2000 sebagai kontribusi untuk mengokohkan keluarga Indonesia. Kini JFC bermetamorfosis menjadi Wonderful Family Institute. Beliau dapat diakses melalui Instagram @cahyadi_takariawan

Tinggalkan Balasan