.
Oleh: Cahyadi Takariawan
Orang besar atau manusia yang berjiwa besar, sangat mudah memaafkan kesalahan orang lain, serta tidak pendendam. Mereka yakin bahwa dengan memaafkan kesalahan orang lain, maka Allah akan memuliakan mereka.
Bagi mereka, memaafkan adalah kemuliaan. Manusia berjiwa kerdil menganggap memaafkan adalah perbuatan orang kalah dan merendahkan martabat. Bagi mereka, memaafkan akan membuat mereka tampak lemah dan tak berdaya.
Seorang wanita Yahudi datang kepada Nabi saw membawa daging kambing yang diracuni. Nabi saw sempat memakannya, namun daging itu kemudian dikembalikan kepada wanita tersebut.
Ada yang bertanya kepada Nabi, “Bagaimana kalau kita bunuh wanita itu?”
Beliau menjawab, “Jangan.”
Anas berkata, “Aku masih mengetahui racun tersebut dari sisa-sisa makanan beliau.”
Lalu beliau bersabda, “Berilah maaf, perintahkan yang makruf dan hindarilah orang-orang yang jahil”.
Imam Ahmad bin Hambal pernah mengalami siksaan yang hebat dalam penjara. Saat itu penguasa memaksa Imam Ahmad mengatakan “Al Quran adalah makhluk”, padahal Al Quran bukan makhluk akan tetapi kalam Allah. Beliau marah bukan untuk hawa nafsunya, akan tetapi marah karena adanya pelecehan terhadap kalam Allah Ta’ala.
Lihatlah keagungan jiwa beliau saat beliau menyatakan, ”Semua yang pernah membicarakanku maka semua halal dan aku maafkan. Dan akupun memaafkan Abu Ishaq (Raja Mu’tashim yang telah memenjarakan dan menyiksa beliau).”
Imam Ahmad mengatakan, “Aku maafkan Abu Ishaq, sebab aku melihat firman Allah Ta’ala:
وَلْيَعْفُوا۟ وَلْيَصْفَحُوٓا۟ ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ ٱللَّهُ لَكُمْ
“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?” (QS. An-Nur: 22).
Subhanallah, betapa mulia jiwa beliau.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah divonis kafir dan difatwakan halal darahnya oleh para ulama waktu itu. Beliau dimasukkan penjara dan disiksa.
Salah satu musuh beliau adalah Ibnu Makhluf. Ia wafat pada masa Ibnu Taimiyah masih hidup. Ibnul Qayyim Al Jauziyah –salah satu murid Ibnu Taimiyah– mengetahui kematian Ibnu Makhluf, bersegera menemui sang guru untuk menyampaikan ‘kabar gembira’ ini.
Syaikhul Islam sempat menghardik Ibnul Qayyim karena menyampaikan kegembiraan atas kematian musuh beliau, justru beliau mengucapkan kalimat istirja’, “inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’un”.
Beliau bersegera mengunjungi rumah Ibnu Makhluf, berta’ziah dan menyampaikan kepada keluarga Ibnu Makhluf, “Sungguh saat ini status saya seperti bapak bagi kalian. Tidak ada sesuatu pun yang kalian butuhkan melainkan aku akan berusaha memenuhi kebutuhan kalian.”
Perhatikan kebesaran jiwa beliau. Syaikhul Islam mendatangi rumah orang yang telah memfatwakan dirinya kafir, dan bahkan menyantuni keluarganya.
Saat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sakit menjelang wafatnya di dalam penjara, beliau dilarang melakukan seluruh aktivitas hingga tidak diberikan pena untuk menulis. Namun beliau tetap menulis dengan menggunakan arang, untuk memberi fatwa kepada kaum muslimin, hingga akhirnya beliau dilarang menulis sama sekali.
Suatu ketika sebagian orang mendatangi Syaikhul Islam di dalam penjara, untuk memohon maaf lantaran menjadi sebab Syaikul Islam dijebloskan dalam penjara.
“Aku telah maafkan kalian. Aku juga sudah memaafkan Raja Nashir yang memenjarakan aku”. Beliau memaafkan orang yang memasukkan beliau ke dalam penjara, serta semua orang yang menjadi sebab beliau masuk penjara. Subhanallah, betapa agung jiwa beliau.
Tindakan seperti ini tidak akan terjadi pada mereka yang berjiwa kerdil. Manusia berjiwa kerdil akan melakukan pembalasan dan mengekspresikan dendam kesumat dengan sepenuh nafsu.
Mereka tidak akan puas sebelum musuh dihinakan, direndahkan dan dihancurkan sehancur-hancurnya. Sangat berbeda dengan mereka yang berjiwa besar, yang memiliki plafon jiwa sangat luas dan sangat tinggi. Daya permaafan (forgiveness) mereka sangat besar untuk memaafkan kesalahan musuh sekalipun.
Mansur bin Muhammad Al-Kuraizi berkata, “Aku akan paksakan sifat pemaaf pada diriku kepada orang-orang yang berbuat keburukan kepadaku walaupun keburukan mereka banyak kepadaku. Karena manusia itu tidak lebih dari tiga; orang yang mulia, orang yang tidak mulia, orang yang seimbang dengan kita”.
“Adapun orang yang lebih mulia dariku maka aku mau mengakui keutamaan dia dan aku mengikuti kebenaran padanya. Karena kebenaran harus diikuti. Kalau ternyata orang itu lebih rendah kemuliaannya dariku dan berbuat buruk kepadaku maka aku sudah melindungi diriku dengan cara aku tidak menjawab dia. Kalau ternyata dia seimbang denganku lalu terpeleset di dalam kesalahan, maka aku sudah berbuat kebaikan. Karena halim merupakan sifat yang lebih bagi orang yang bijak,” lanjut Mansur bin Muhammad Al-Kuraizi.
Begitulah jiwa-jiwa besar. Kebesaran mereka akan selalu melampaui kekerdilan orang-orang yang membenci.