.
Oleh : Cahyadi Takariawan
Syaiful Anwar, seorang mahasiswa Indonesia di Yaman, di tahun 2004 mengirim sebuah SMS kepada Nur Fasikhah, seorang mahasiswi di Yogyakarta. Belum ada WA waktu itu. Teknologi belum secanggih sekarang.
Apa isi SMS? Mengajak menikah. Padahal belum kenal. Sama sekali. Mereka berdua diperkenalkan oleh seorang ustadz, melalui sebuah email.
Nur Fasikhah merenung, menimbang dengan serius. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Beliau segera konsultasi kepada seorang Kyai sebuah Pesantren di Yogyakarta.
Kata sang Kyai, “Melihat bahasa SMS yang dikirim ini, insyaallah pengirimnya orang salih”. Berbekal jawaban Kyai yang dipercaya, Nur Fasikhah menerima lamaran tersebut. Bismillah.
Karena terpisah jarak yang jauh, saat akad nikah hanya dihadiri oleh pengantin perempuan saja. Pengantin lelaki masih kuliah di Yaman. Akad nikah dilaksanakan di rumah orangtua Nur Fasikhah, di Pemalang, Jawa Tengah.
Ayah dan ibu serta keluarga besar Syaiful Anwar hadir di rumah pengantin perempuan. Akad nikah dipimpin oleh petugas KUA berjalan dengan lancar, dan pernikahan mereka berdua pun dinyatakan sah. Selesai sudah prosesi akad nikah.
Setelah akad nikah, mereka berdua masih tinggal terpisah. Syaiful di Yaman, Fasikhah di Yogyakarta. Setelah selesai urusan kuliah, Fasikhah sudah siap untuk menyusul Syaiful di Yaman.
Pada saat itulah, untuk pertama kalinya Syaiful dan Fasikhah bertemu secara fisik. Sebagai suami dan istri yang sah. Di mana mereka bertemu pertama kali? Di bandara Yaman!
Saat itu Fasikhah terbang untuk menyusul suami ke Yaman. Dijemput oleh sang suami di bandara. Saat di bandara, Syaiful menunggu dengan berdegub, yang manakah istriku? Seperti apa bentuk orangnya?
Keluar dari bandara, Fasikhah juga tersipu malu. Ia berdebar-debar, akan segera bertemu dengan suaminya. Yang manakah suamiku? Seperti apa bentuk orangnya?
Subhanallah. Itulah kesempatan mereka berdua bertemu pertama kali setelah akad nikah.
Coba kita tanyakan kepada mereka berdua, mengapa mau menikah dengan orang yang belum dikenal? Mengapa mau menikah jarak jauh tanpa pernah bertemu sebelumnya? Belum pernah melihat fisik calon pasangannya?
Ketika saya tanyakan kepada Syaiful dan Fasihah, mengapa mereka mau menikah dengan cara seperti itu? Jawaban mereka sama. Karena keduanya full yakin kepada Allah. Inilah kuncinya.
Rupanya mereka berdua adalah dua insan beriman yang benar-benar bersih orientasinya. Mereka berdua berharap ridha Allah. Mereka berdua berharap keberkahan dari Allah.
Mereka berdua meyakini bahwa kebahagiaan hanya bisa didapatkan dengan hati yang bersih, dengan jiwa yang tunduk kepada Allah, dengan ketaatan sepenuhnya kepada syariat Allah.
Syaiful Anwar full yakin kepada Allah, Nur Fasihah full yakin kepada Allah. Keduanya dipersatukan oleh Allah dalam ridhaNya. Keduanya dilekatkan dalam cinta kepada Allah.
Kini beliau berdua hidup bahagia, bersama anak-anak mungil dan lucu yang semuanya penghafal Al Qur’an sejak kecil. Mereka berdua mengelola lembaga tahsin dan tahfizh Al Qur’an di Balikpapan.
Di usia pernikahan yang telah berlangsung 20 tahun saat ini, mereka dikaruniai 9 (sembilan) anak salih dan salihah. Pada momentum 20 tahun pernikahan ini pula, Fasikhah menulis sebuah buku kenangan.
Jodohku, Jannahku. Demikian judul buku perdana Nur Fasikhah. Ditulis dengan apik dan renyah. Menghadirkan jutaan hikmah berlimpah. Mengajak kita semua hidup sepenuh berkah. Bismillah.
Bagi para lajang, mulailah proses pernikahan Anda dengan full yakin kepada Allah. Insyaallah Anda akan bahagia dalam makna yang sesungguhnya. Karena dengan sama-sama memiliki keyakinan yang penuh kepada Allah, maka akan mudah bersatu, bersenyawa dan bersejiwa.
Ini yang akan memudahkan keduanya membentuk keluarga yang sakinah, mawadah warahmah serta penuh berkah. Bahagia hingga jannah. Aamiin.
.
Judul buku: Jodohku, Jannahku
Penulis: Nur Fasikhah
Penerbit: Diandra, Yogyakarta
Cetakan pertama: 2024