Kembali
Keluarga

Kelembutan Adalah Keindahan, Kekerasan Adalah Kerusakan (1)

.

Oleh: Cahyadi Takariawan

Betapa sedih dan miris hati kita setiap kali mendengar berita tentang tindak kekerasan yang dilakukan dalam kehidupan rumah tangga. Sebagai konselor (sosial) keluarga, kami juga sangat sering mendapatkan kisah pilu dari para korban kekerasan. Mereka merasakan penderitaan akibat perbuatan pasangan.

Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) adalah perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga (Pasal 1 UU No 23 / 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga).

Tindakan menganiaya, memukul, menendang, menghajar, melukai, menyakiti, adalah contoh KDRT secara fisik. Tindakan mengancam, menghina, mencaci maki dan tindakan lain yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan/atau penderitaan psikis berat pada seseorangadalah contoh KDRT secara psikis.

Tindakan memaksa pasangan untuk melakukan hubungan seksual dengan cara, posisi, waktu dan kondisi yang tak disukai pasangan, adalah contoh KDRT secara seksual. Misalnya memaksa istri melakukan hubungan seksual di saat sedang haid atau nifas, memaksa oral seks padahal sang istri merasa jijik dan tidak nyaman melakukannya, memaksa berhubungan dengan cara anal seks, dan lain sebagainya.

Berbagai bentuk tindakan kekerasan dalam kehidupan pernikahan seperti contoh di atas, bertentangan dengan ajaran agama Islam yang penuh kasih sayang. Islam memberikan sangat banyak landasan bagi umatnya untuk berlaku lembut dalam interaksi sehari-hari. Bukan hanya dengan manusia, namun juga dengan binatang dan lingkungan alam.

Kelembutan Adalah Sifat Allah

Allah memiliki sifat Ar-Rafiq yaitu Mahalembut, maka Allah mencintai kelembutan dalam setiap urusan. Syaikh Abdurahman bin Nashir As-Sa’di menyatakan, “Di antara nama-nama indah yang dimiliki oleh Allah adalah Ar-Rafiq (Mahlembut) baik dalam perbuatan maupun syari’atNya”.

Dengan sifat Mahalembut yang melekat pada diriNya, Allah mencintai kelembutan dalam segala sesuatu. Nabi saw bersabda,

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّهِ »

“Sesungguhnya Allah Mahalembut dan mencintai kelembutan dalam setiap urusan“ (HR Bukhari no 6024 dan Muslim no 2165).

Kelembutan adalah karunia yang tiada terkira, yang tidak Allah berikan kepada selainnya. Nabi saw bersabda,

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِى عَلَى الرِّفْقِ مَا لاَ يُعْطِى عَلَى الْعُنْفِ وَمَا لاَ يُعْطِى عَلَى مَا سِوَاهُ »

“Sesungguhnya Allah Mahalembut yang mencintai kelembutan. Dan Allah memberi pada kelembutan apa yang tidak diberikan pada kekerasan, tidak pula diberikan kepada selainnya“ (HR Muslim no 2593).

Allah Ta’ala memerintahkan Nabi saw agar bersikap lembut terhadap orang-orang beriman, sebagaimana dalam firmanNya,

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ

“Dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman” (QS. Al-Hijr: 88).

Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi mengatakan, “’Berendah dirilah‘ yang dimaksud dalam ayat ini adalah untuk mengungkapkan agar seseorang berlaku lemah lembut dan tawadhu.”

Allah mensifati para sahabat sebagai orang yang selalu berkasih sayang sesama mereka. Allah ta’ala berfirman,

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesame mereka” (QS. Al Fath: 29).

Allah Ta’ala mewartakan sifat hamba-hamba Arrahman atau ibadurrahman adalah dengan kelembutan. Sebagaimana firmanNya,

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu ialah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik” (QS. Al-Furqan: 63).

Tentang ayat di atas, Hasan Al-Bashri berkata,

لا يجهلون على أحد ، وإِن جهل عليهم حَلُموا

“Mereka (‘ibadurrahman) tidak berbuat jahil/nakal kepada orang lain. Jika dijahili, mereka justru membalasnya dengan sikap lemah lembut.”

Ibnu Katsir menjelaskan, “Jika orang jahil mengajak bicara mereka yaitu dengan kejelakan, mereka tidak membalasnya dengan semisalnya. Bahkan mereka memberi maaf dan tidak membalas kecuali dengan kebaikan. Sebagaimana sikap Rasulullah saw, semakin orang yang jahil bertindak kasar pada beliau, semakin beliau berlaku lemah lembut pada mereka”.

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata, “Inilah pujian bagi ‘ibadurrahman karena sifat lemah lembut yang mereka miliki, kejelekan (yang mereka terima) mereka balas dengan kebaikan”.

Demikian pula Allah telah memerintahkan kepada Nabi Musa dan Harun agar mereka mendakwahi Fir’aun dengan lemah lembut. Allah berfirman,

اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى (٤٣)فَقُولا لَهُ قَوْلا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى (٤٤)

“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat dan takut” (QS. Thaha: 43-44).

BERSAMBUNG.

Ditulis oleh Cahyadi Takariawan

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.