.
Oleh: Cahyadi Takariawan
Dari ayat-ayat Al-Qur’an dan berbagai hadits, dapat dimengerti bahwa kelembutan adalah sikap yang harus menjadi kepribadian setiap muslim. Ada tiga tema yang terkait dengan sifat kelembutan, yaitu al-hilm, al-anah dan ar-rifqu. Ketiganya mengandung makna berlemah lembut dalam kehidupan.
Al-hilm (الحلم) adalah kemampuan menguasai atau mengendalikan diri ketika marah atau emosi. Ketika seseorang dilanda amarah, ia bisa menguasai dirinya, tidak terbakar emosi, tidak melampiaskan kemarahan dengan semena-mena. Sifat al-hilm menyebabkan seseorang berlaku lemah lembut.
Al-anah (الأناة) adalah berhati-hati dalam menghadapi permasalahan dan tidak tergesa-gesa (grusa-grusu). Ketika menghadapi suatu permasalahan, tidak hanya melihat sisi permukaan, namun berusaha mendalami hakikat atau esensinya. Ia tidak dengan tergesa-gesa menghakimi / menuduh, sebelum memahami hakikat yang sesungguhnya. Sifat al-anah menyebabkan seseorang berlaku lemah lembut.
Adapun ar-rifqu (الرفق) adalah berinteraksi dengan lemah lembut. Pribadi ar-rifqu selalu lemah lembut, baik dari sisi ucapan, sikap, perbuatan atau tingkah laku. Bahkan jika mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan, ia membalas dengan kebaikan dan kelemahlembutan.
Kelembutan adalah pangkal kebaikan, dan faktor penting yang menghiasi pemiliknya. Nabi saw bersabda,
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُونُ فِى شَىْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَىْءٍ إِلاَّ شَانَهُ »
“Sesungguhnya kelembutan tidaklah diberikan pada segala urusan melainkan akan menghiasinya, dan tidaklah kelembutan ditarik dari tiap urusan kecuali akan menjadikannya buruk“ (HR Muslim no 2594).
Kelembutan juga menjadi pertanda bahwa Allah menghendaki kebaikan kepada sebuah keluarga. Nabi saw bersabda,
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يَا عَائِشَةُ ارْفُقِي, فَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَرَادَ بِأَهْلِ بَيْتٍ خَيْرًا دَلَّهُمْ عَلَى بَابِ الرِّفْقِ »
“Wahai Aisyah lemah lembutlah. Sesungguhnya jika Allah menghendaki kebaikan pada sebuah keluarga Allah akan menunjuki mereka menuju pintu kelembutan“ (HR Ahmad 41/255 no 24734).
Arahan Nabi saw Agar Selalu Lembut
Nabi saw mengarahkan umatnya agar selalu berlaku lembut dalam kehidupan keseharian. Beliau mengarahkan agar para pemimpin umat berlaku lembut kepada orang-orang yang dipimpinnya. Beliau tidak menghendaki ada pemimpin yang keras dan kejam. Nabi saw bersabda,
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « اللَّهُمَّ مَنْ وَلِىَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِى شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِىَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِى شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ »
“Ya Allah, barangsiapa yang mengurusi perkara umatku (jadi pemimpin mereka) kemudian dia menyusahkan mereka maka persulitlah urusannya. Dan barangsiapa yang mengurusi perkara umatku lalu dia berlemah lembut pada mereka maka sayangilah dirinya“ (HR Muslim no 1828).
Bahkan ketika sedang menyembelih hewan pun, beliau memerintahkan agar dilakukan dengan kelembutan. Nabi saw bersabda,
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ فَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ »
“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan berbuat ihsan pada setiap perkara. Maka jika kalian membunuh berlaku lembutlah di dalam (cara) membunuhnya. Dan jika kalian menyembelih maka berlaku lembutlah di dalam menyembelihnya. Yaitu dengan menajamkan pisau kalian dan membuat binatang sembelihannya mereka nyaman“ (HR Muslim no: 1955).
Nabi saw menyatakan, bahwa orang yang terhalangi dari kelembutan sesungguhnya telah terhalangi untuk mendapatkan berbagai kebaikan. Beliau saw bersabda,
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ يُحْرَمِ الرِّفْقَ يُحْرَمِ الْخَيْرَ كله »
“Barangsiapa terhalangi dari sifat kelembutan maka dirinya dihalangi untuk memperoleh kebaikan seluruhnya“ (HR. Muslim no 2592).
BERSAMBUNG.