Kembali
Keluarga

Kelembutan Adalah Keindahan, Kekerasan Adalah Kerusakan (3)

.

Oleh: Cahyadi Takariawan

Di antara akhlak terpuji serta sifat mulia yang dicontohkan oleh Nabi saw ialah sifat kelembutan. Allah menyebutkan dalam firmanNya,

 فَبِمَا رَحۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu” (QS. Ali Imran: 159).

Dalam ayat di atas, Allah menyatakan bahwa sikap lemah lembut adalah rahmat dari Allah. Pada dasarnya manusia bisa memiliki kelemahlembutan dalam kehidupan, adalah karunia dan rahmat Allah Ta’ala yang harus disyukuri.

Allah menggambarkan Nabi saw adalah sosok yang sangat care dan penuh sifat kasih sayang. Nabi saw menghendaki keselamatan pada umatnya, dan tak ingin melihat penderitaan mereka.

 لَقَدۡ جَآءَكُمۡ رَسُولٞ مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ عَزِيزٌ عَلَيۡهِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِيصٌ عَلَيۡكُم بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin” (QS. At-Taubah: 128).

Malik bin Al-Huwairits ra menceritakan, “Aku pernah datang berguru kepada Nabi Muhammad saw bersama beberapa orang dari kaumku, dan kami tinggal bersama Nabi selama dua puluh hari. Beliau adalah orang yang penyayang dan lembut. Tatkala beliau melihat rona kerinduan pada wajah-wajah kami terhadap keluarga maka beliau bersabda,

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «ارْجِعُوا فَكُونُوا فِيهِمْ وَعَلِّمُوهُمْ وَصَلُّوا فَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ»

“Pulanglah kalian lalu tinggallah bersama kaummu. Ajarilah mereka dan shalatlah bersamanya. Dan jika masuk waktu shalat hendaknya salah seorang di antara kalian beradzan lalu jadikanlah orang yang paling dewasa sebagai imam kalian“ (HR. Bukhari no 628. Muslim no 674).

Abu Hurairah menceritakan, “Pernah suatu ketika ada Arab badui yang kencing di dalam masjid. Orang-orang berusaha untuk mencegahnya. Akan tetapi Nabi saw berkata pada mereka,

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « دَعُوهُ وَهَرِيقُوا عَلَى بَوْلِهِ سَجْلًا مِنْ مَاءٍ أَوْ ذَنُوبًا مِنْ مَاءٍ, فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ »

“Biarkan dirinya (sampai selesai kencing), lalu siramlah bekas air kencingnya dengan seember air atau satu timba air. Sesungguhnya aku diutus untuk mempermudah, tidak diutus untuk mempersulit“ (HR Bukhari no 6128).

Tatkala beliau mengutus Abu Musa al-Asy’ari dan Mu’adz bin Jabal ke Yaman sebagai duta dakwah maka beliau berpesan pada keduanya:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يَسِّرَا وَلَا تُعَسِّرَا وَبَشِّرَا وَلَا تُنَفِّرَا وَتَطَاوَعَا وَلَا تَخْتَلِفَا »

“Permudahlah jangan engkau persulit. Beri kabar gembira jangan jadikan mereka lari, bersatu padulah jangan berselisih“ (HR Bukhari no 6124. Muslim no 1733).

Imam Ahmad menjelaskan, “Beliau menyuruh untuk berlaku lemah lembut dan merendahkan diri walaupun sekiranya mereka mendengar hal yang tidak menyenangkan. Dan jangan marah yang menyebabkan dirinya terjatuh untuk membela diri semata”.

Aisyah ra bercerita, “Orang-orang Yahudi pernah mendatangi Nabi saw lalu mereka mengucapkan salam, “Semoga kematian atasmu’. Mendengar itu maka Aisyah menyahut, “Atas kalian, dan laknat Allah dan kemurkaanNya atas kalian”. Maka Nabi menegurnya,

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَهْلًا يَا عَائِشَةُ ,عَلَيْكِ بِالرِّفْقِ, وَإِيَّاكِ وَالْعُنْفَ وَالْفُحْشَ. قَالَتْ: أَوَلَمْ تَسْمَعْ مَا قَالُوا .قَالَ: أَوَلَمْ تَسْمَعِي مَا قُلْتُ. رَدَدْتُ عَلَيْهِمْ, فَيُسْتَجَابُ لِي فِيهِمْ, وَلَا يُسْتَجَابُ لَهُمْ فِيَّ »

“Tunggu wahai Aisyah, bersikap lemah lembutlah. Hati-hati dari kekerasan dan kata-kata kotor”. Aisyah menjawab, “Tidakkah anda dengar apa yang mereka ucapkan? Beliau berkata, “Apakah engkau tidak mendengar jawabanku? Aku membalas (ucapan salam mereka), “Dan atas kalian juga”. Maka Allah mengabulkan doaku untuk mereka, sedang doa mereka tidak dikabulkan atasku“ (HR Bukhari no 6030 dan Muslim no 2165).

BERSAMBUNG.

Ditulis oleh Cahyadi Takariawan

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.