.
Oleh: Cahyadi Takariawan
Ar-rifqu atau sikap lemah lembut kepada keluarga, tutur kata yang halus kepada suami/istri, adalah salah satu untaian perhiasan akhlak di dalam Islam. Sikap lemah lembut adalah satu sifat kebaikan yang sempurna. Allah Mahalembut, dan Allah menyukai hambaNya yang bersikap lemah lembut.
Kelembutan Nabi saw Terhadap Istri
Rasulullah saw telah bersabda,
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِيْ
“Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik terhadap keluarganya (istrinya). Dan aku adalah orang yang terbaik di antara kalian terhadap keluargaku (istriku)” (HR at-Tirmidzi, 1195. Disahihkan Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no 284).
Beliau saw mengarahkan para suami agar berlaku lembut kepada istri, sebagaimana sabda beliau,
اِرْفَقْ بِالْقَوارِيْرِ
“Lembutlah kepada gelas-gelas kaca –yaitu para wanita / istri” (HR. Bukhari, no. 5856; Muslim, no. 2323).
Rasulullah saw adalah orang yang terbaik akhlaknya, paling lembut, dan penyayang terhadap keluarga. Beliau mencontohkan bersifat lembut dalam kata-kata, sikap dan perbuatan kepada istri.
Ibnu Asakir meriwayatkan bahwa Rasulullah saw pernah berkata kepada Aisyah, “Apakah engkau tidak senang menjadi istriku di dunia dan di akhirat?” Aisyah menjawab, “Tentu aku senang.” Kata beliau, “Engkau adalah istriku di dunia dan di akhirat”.
Aisyah menceritakan bahwa suatu hari Rasulullah saw memanggil dirinya, “Wahai Aisy, ini Jibril menyampaikan salam untukmu.” Aku menjawab, “Untuknya salam kesejahteraan, rahmat Allah dan keberkahan-Nya. Anda bisa melihat apa yang tidak bisa saya lihat” (HR. Bukhari no. 3768 dan Muslim no. 6254).
Sebutan Aisy adalah khas disampaikan oleh Nabi saw kepada Aisyah. Panggilan ini sangat disenangi oleh Aisyah.
Rasulullah saw juga pernah memanggil Aisyah dengan julukan Humaira yang artinya wanita yang berkulit putih. Aisyah ra dijuluki demikian karena kulitnya putih kemerah-merahan. Dia menyenangi panggilan tersebut.
Kelembutan terhadap istri yang Rasulullah saw contohkan untuk kita sangatlah banyak. Di antaranya, beliau saw terbiasa mencium istri. Aisyah ra menceritakan, “Rasulullah saw pernah mencium salah seorang istrinya saat beliau sedang berpuasa” (HR. Muslim no. 2568).
Dari hadits di atas, sedang sedang berpuasapun tidak menghalangi Rasulullah saw untuk menunjukkan kelembutan dan kemesraan kepada istri beliau. Tentu saja ketika sedang tidak berpuasa, lebih leluasa lagi untuk menunjukkan sikap-sikap lembut dan mesra.
Rasulullah saw juga mengarahkan para suami untuk menyuapi istri. Beliau saw menyatakan bahwa menyuapi istri adalah sebuah bentuk sedekah yang berpahala di sisi Allah. Nabi saw bersabda,
“Tidaklah engkau menginfakkan suatu nafkah yang engkau harapkan wajah Allah subhanahu wa ta’ala dengannya terkecuali engkau akan diberi pahala. Sampai-sampai suapan yang engkau letakkan ke mulut istrimu (itu berpahala)” (HR. Bukhari no. 4409).
Kelembutan beliau juga tampak saat memperlakukan istri beliau, Shafiyyah. Suatu ketika Shafiyyah mengunjungi Nabi saw di tempat i’tikaf pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Shafiyyah berbincang sejenak dengan beliau saw sebelum bangkit untuk pulang.
Rasulullah saw berdiri bersama Shafiyyah untuk mengantarnya sampai pintu rumah. Dalam satu riwayat disebutkan, Rasulullah saw bersabda kepada Shafiyyah, “Jangan buru-buru kembali, aku akan mengantarmu.”
Di antara bentuk kelembutan Nabi adalah senang mengajak bermain istri. Aisyah ra bercerita, “Rasulullah saw mengajakku berlomba lari, maka aku berhasil mendahului beliau. Beberapa lama waktu berlalu saat tubuhku telah gemuk, beliau kembali mengajakku berlomba, maka beliau berhasil mengalahkanku. Beliau bersabda, ‘Kemenangan ini sebagai penebus kekalahan yang dulu.”
Ibnu Katsir menjelaskan, “Rasulullah saw setiap malam biasa mengumpulkan para istrinya di rumah istri yang mendapat giliran malam itu. Terkadang, beliau menikmati makan malam bersama mereka. Setelah itu, para istri beliau kembali ke rumah masing-masing”.
“Beliau pernah tidur bersama salah seorang istrinya dalam satu kain atau selimut. Beliau melepaskan rida (semacam pakaian ihram bagian atas)-nya dari kedua pundaknya, dan tidur dengan kain/sarung. Biasanya setelah shalat Isya, beliau saw masuk rumah dan berbincang-bincang sejenak dengan istrinya sebelum tidur guna menyenangkan mereka” (Tafsir Ibnu Katsir).
BERSAMBUNG.