“Kesalahan Psikologis” dalam Mendidik Anak

“Kesalahan Psikologis” dalam Mendidik Anak

Oleh : Jamaluddin, Peserta Kelas “Bapak Punya Karya”

 

 

Pernahkah Anda berpikir berapa biaya yang akan Anda keluarkan untuk menyekolahkan anak Anda kelak hingga selesai? Sudahkah Anda mempersiapkan dan memberi jaminan biaya hingga anak Anda kelak bisa menyelesaikan sekolahnya?

Pertanyaan ini dituliskan Safir Senduk (2008) seorang Financial Planner atau perencana keuangan, di salah satu bukunya yang berjudul Mempersiapkan Dana Pendidikan Anak. Pertanyaan ini tentunya ditujukan kepada kita semua yang berstatus sebagai orangtua yang memiliki buah hati.

Lebih lanjut Safir Senduk menuliskan bahwa ada dua kesalahan umum yang biasa dilakukan oleh orangtua dalam mempersiapkan dana pendidikan anaknya, yaitu kesalahan psikologis dan kesalahan keuangan. Maksudnya apa? Kok kesalahan, kenapa bukan kebenaran? Hehehe. Tidak apa-apa pembaca, mari kita lanjutkan!

Secara psikologis, banyak orangtua melakukan kesalahan ketika hendak atau sedang menyiapkan dana pendidikan anaknya. Menurut Safir Senduk, ada empat kesalahan umum yang terjadi, yaitu:

Kesalahan pertama, menganggap anak sebagai investasi ekonomi

Banyak orangtua menganggap anak sebagai investasi ekonomi. Mereka mempersiapkan dana pendidikan untuk anaknya, menyekolahkannya ke sekolah mahal, memberikan fasilitas yang terbaik, dengan harapan mereka kelak bisa memberi “pengembalian”. Ini adalah sebuah kesalahan.

Kalau anak Anda kelak lulus sekolah dan masuk kerja, apakah Anda akan meminta uang darinya? Apakah Anda meminta anak Anda mengembalikan semua biaya pendidikan yang telah Anda keluarkan? Walaupun dia mau mengembalikan uang Anda, apakah Anda tega menerimanya?

Saran saya: jangan anggap anak sebagai investasi. Membiayai pendidikan anak adalah suatu kewajiban yang harus Anda lakukan, bukan suatu tindakan investasi.

Kesalahan kedua, berharap anak akan bekerja begitu ia selesai sekolah

Orangtua menganggap sekolah adalah investasi waktu yang dilakukan oleh si anak. Begitu selesai sekolah, anak diharapkan bekerja sehingga investasi waktu yang dilakukan oleh anak, tidak sia-sia. Dan si anak bisa mendapatkan pengembalian investasi berupa uang yang didapat dari penghasilannya.

Pendidikan adalah ilmu yang harus didapatkan oleh si anak, sedangkan dunia kerja berkaitan dengan uang (paling tidak begitulah menurut orangtua). Bila memang demikian halnya maka ilmu dan uang adalah dua hal yang berbeda. Jangan berpikiran bahwa ilmu harus selalu dimanfaatkan untuk mencari uang.

Tekankan pada anak Anda bahwa ilmu harus selalu dicari, walaupun sampai ke negeri Cina. Malah, banyak orangtua yang lebih senang bersekolah dari pada bekerja mencari uang. Tidak apa-apa, karena ilmu sebetulnya jauh lebih berharga daripada uang. Ilmu adalah hal yang harus selalu dicari, karena hal itu lebih berharga daripada uang.

Kesalahan ketiga, menganggap bahwa sekolah yang bagus bisa memberikan penghasilan tinggi kelak

Anggapan ini keliru. Sekolah yang bagus tidak berarti apa-apa, kecuali kalau si anak bisa memanfaatkan ilmu yang didapat dari sekolah itu. Banyak dari mereka yang menempuh pendidikan di sekolah yang dianggap biasa-biasa saja, ternyata bisa mendapatkan penghasilan tinggi. Bahkan jauh lebih tinggi daripada mereka yang menempuh pendidikan di sekolah yang dianggap bagus.

Kesalahan keempat, semakin tinggi sekolah, semakin tinggi juga penghasilan yang didapat

Anggapan ini juga keliru. Yang benar adalah, semakin tinggi anak Anda sekolah, semakin tinggi pula ilmunya. Tetapi, tidak selalu orang yang ilmunya tinggi bisa mendapatkan banyak penghasilan kelak.

Penghasilan tergantung dari banyaknya faktor, seperti dedikasi, sikap mental, minat terhadap pekerjaan, bahkan keadaan ekonomi yang banyak tidaknya permintaan atas tenaga kerja yang berkecimpung di bidang itu. Ingatlah bahwa ilmu dan uang adalah dua hal yang berbeda.

 

Bersambung.

 

Makassar, 20 Agustus 2020

 

 

 

 

 

Cahyadi Takariawan

Cahyadi Takariawan telah menulis lebih dari 50 judul buku yang sebagian besarnya bertema keluarga. Aktivitasnya saat ini selain menulis adalah menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Mendirikan Jogja Family Center (JFC) pada tahun 2000 sebagai kontribusi untuk mengokohkan keluarga Indonesia. Kini JFC bermetamorfosis menjadi Wonderful Family Institute. Beliau dapat diakses melalui Instagram @cahyadi_takariawan

Tinggalkan Balasan