Kembali
Sastra Budaya

Kopi Pertama di Masa Karantina

Serial SHSB “Seratus Hari Satu Buku”

Oleh : Cahyadi Takariawan

Pagi ini, yang paling ingat adalah, bahwa sekarang bulan Syawal. Maklum sudah terlalu lama di karantina sejak pandemi corona. Tak ingat lagi, ini hari apa, dan tanggal berapa, baik dalam kalender Hijriyah maupun dalam kalender Masehi. Mengalir saja, menikmati hari demi hari.

Pagi ini, yang segera teringat adalah aroma kopi. Sudah sebulan lebih ternyata saya tidak meng-grinding biji kopi, dan tidak menikmati aroma kopi. Puasa, harus puasa juga dari beberapa jenis kesenangan. Selama Ramadhan, saya tidak meminum kopi.

Sediaan serbuk kopi di rumah ternyata sudah habis. Segera saya mencari sediaan biji kopi. Ada yang terbaru, alhamdulillah. Saya terima di bulan Ramadhan lalu, dari seorang sahabat penulis, Mang Agus Saefullah. Sembari mengirim buku terbaru beliau, “Bahtera Nabi Nuh”, terselip dua pack biji kopi dari tanah Sumedang, Jawa Barat.

Dengan penuh semangat saya menyiapkan mesin grinder yang sudah hampir dua bulan tidak beroperasi. Saya bersihkan dengan perlahan, saya lap dengan kain halus, bagian demi bagian. Sampai yakin semua sudah terbersihkan, baru biji kopi dimasukkan.

Biji kopi kiriman Mang Agus Saefullah berjenis Arabica, aromanya segera semerbak luar biasa, semenjak saya membuka segelnya. Biji kopi ini dari Gunung Cakrabuana Sumedang, satu lagi dari Dusun Cisoka Sumedang, bermerk Menakopi. Tak sabar, segera saya grinding yang kopi Gunung Cakrabuana, dengan ukuran medium —untuk diseduh dengan V-60.

Subhanallah  —maka nikmat Tuhan yang manakah yang kalian dustakan— aroma kopi tambah menjadi-jadi saat selesai penggilingan. Serbuk medium sudah siap. Aromanya, subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar. Sepercik aroma surga turun ke dunia melalui aroma kopi.

Air panas 70 derajat Celcius sudah disiapkan istri tercinta. Alat-alat pun sudah saya siapkan. Pagi ini saya memilih V-60 untuk menyeduh kopi Cakrabuana. Penyeduhan dimulai, semerbak wangi membuat adrenalin makin terpacu untuk menoreh karya di hari ini.

Istri saya bukan pecinta kopi, sesekali ia ikut mencicipi ketika saya selesai menyeduh kopi. Maka ia hanya menyiapkan air saja. Kopi, dan alat-alat seduh, saya sendiri yang memilihnya. Di rumah ada aneka alat seduh manual. Sejak Vietnam Drip, French Press, V-60, Moka Pot, Chemex, Syphon, Kalita Wave Dripper, termasuk Cold Brew.

Selesai sudah proses penyeduhan, sekitar 4 menit. Aroma semerbak ke seluruh ruang rumah kami, sejak proses grinding hingga selesainya penyeduhan. Saatnya menikmati. Menyeruput kopi pertama di masa karantina, luar biasa nikmatnya. Wangi Arabica kopi, mengingatkan hidup harus selalu bersyukur meski di tengah pandemi.

Selesai ditulis. Lihat statistik tulisan. Jumlah : 2.183 karakter. Waktu menulis : 10 menit. Langsung posting.

———————————————————————————————————-

Tulisan di atas, sekedar contoh bagaimana cara menulis kegiatan di pagi hari. Kita bisa menulis apa saja, termasuk kegiatan rutin setiap hari. Maka untuk menulis dua postingan di Facebook atau Instagram, satu postingan pagi hari dan satu postingan sore hari —untuk program Seratus Hari Satu Buku— tidaklah sulit, jika Anda selalu membiasakan diri.

Masih ada yang bilang bahwa menulis itu sulit? Masih ada yang mengatakan mustahil —menulis semudah bernafas? Pasti karena Anda tidak pernah menulis.

#SHSB

#SeratusHariSatuBuku

Yogyakarta, entah tanggal berapa, 2020

Ditulis oleh Cahyadi Takariawan

Dipublikasikan di Ruang Menulis. Kanal kreasi naskah, literasi, dan karya tulis terpilih.