Kembali
Motivasi Menulis

Kuntowijoyo : Sakit Tak Menghentikannya untuk Terus Menulis

Oleh : Cahyadi Takariawan

Kuntowijoyo (1943 – 2005) adalah begawan sastra dan sejarah Indonesia. Beliau adalah sastrawan, sejarawan, akademisi, sekaligus penulis yang sangat produktif. Bersyukur saya sempat berinteraksi dan mengecap ilmu langsung dari beliau di Gelanggang Mahasiswa UGM dan di Pesantren Mahasiswa Budi Mulia Yogyakarta, pada kisaran waktu sekitar 1986 – 1990.

Pak Kunto, demikian kami biasa memanggil beliau, mengaku tak memiliki resep khusus dalam menulis. Jika ingin menulis, beliau menulis begitu saja. Jika beliau merasa ada sesuatu yang baik untuk ditulis maka beliau pun menuliskannya. Beliau menulis di berbagai kesempatan, di sela-sela kesibukan, dan dikerjakan dengan suasana yang santai dan ringan.

Tahukah Anda kebiasaan seorang doktor dosen Sastra UGM ini? Pak Kunto kemana-mana mengantongi sebuah buku kecil atau notes, untuk mencatat ide-ide yang muncul secara sesaat. Apabila dalam suatu kesempatan beliau menemukan ide untuk ditulis, beliau langsung keluarkan notes kecil dari sakunya, dan menuliskan ide itu di notes tersebut. Nanti apabila sudah memiliki kesempatan, beliau akan membuka notes dan mulai mengembangkan ide yang tadi mendadak muncul. 

Beliau memiliki kebiasaan menulis yang disiplin. Bangun tidur sekitar jam 03.30, kemudian shalat tahajud, dilanjutkan berzikir. Usai berzikir, beliau mulai menulis sampai adzan Subuh. Usai shalat Subuh dan berdoa, beliau meneruskan menulis. Kemudian beliau berhenti menulis untuk sesaat melakukan olah raga berupa jalan pagi. Usai olah raga, beliau melanjutkan menulis lagi, hingga tiba waktu berangkat ke kampus untuk mengajar.

Siang hari beliau sempatkan sejenak tidur, kemudian sore hari ketika tidak ada kegiatan lain, beliau kembali menulis. Pada malam hari, beliau membaca, dan sekitar jam 20.00 beliau menulis sampai tengah malam, bahkan kadang-kadang menulis hingga jam 02.00 dini hari. Padahal jam 03.30 sudah harus bangun lagi. Novel “Khutbah di Atas Bukit” yang membuat beliau semakin populer di zamannya karena dimuat di koran Kompas sebagai cerita bersambung, ditulis hanya sambil lalu —di sela-sela waktu mengajar.

Beragam karya sastra telah dihasilkan Kuntowijoyo, di antaranya adalah novel Pasar (1972), Khutbah Di Atas Bukit (1976), Mantra Pejinak Ular, Wasripin dan Satinah. Sedangkan buku kumpulan cerpen karya Pak Kunto yang terkenal di antaranya Hampir Sebuah Subversi, dan Dilarang Mencintai Bunga-Bunga. Buku kumpulan puisi beliau yang terkenal adalah Suluk Awang-Uwung (1975), serta Makrifat Daun, Daun Makrifat. Ada pula buku drama berjudul Topeng Kayu (1973).

Penyakit Tak Bisa Membuatnya Berhenti Menulis

Pada awal 1992 Kuntowijoyo mengalami sakit, terkena meningoencephalitis. Penyakit ini membuatnya tidak bisa bekerja ataupun menulis. Jangankan bekerja, untuk berbicara saja kesulitan. Saya masih ingat bagaimana kondisi sakit ini sempat membuat beliau lupa banyak hal. Memori dalam otaknya seakan terhapus oleh virus, sehingga untuk mengembalikan ingatan memerlukan cukup waktu.

Penyakit ganas itu tak membuat Pak Kunto berhenti menulis. Ternyata menulis telah menjadi aliran darah dan denyut nadinya. Menulis telah menjadi nafas hidupnya, maka penyakit tak bisa menghentikan semangat untuk menulis. Di tengah sakit yang membuatnya mengalami banyak keterbatasan, Pak Kunto tetap menulis. Dalam kondisi sulit bergerak, sulit berbicara, beliau menulis hanya dengan menggunakan satu jari saja, yaitu jari telunjuk kanan. Itupun dilakukan dengan sangat pelan-pelan. Mengetikkan huruf demi huruf dengan satu jari.

Susilaningsih, sang istri menuturkan, “Satu hal yang menurut saya kelebihan dari Pak Kunto adalah, walaupun dengan satu jari saja, yaitu jari telunjuk kanan itu, Pak Kunto mempunyai kesabaran yang luar biasa, ketika idenya itu sudah sangat besar, ia dengan sabar menulis satu persatu huruf”.

Pak Kunto kembali menghasilkan karya brilian setelah mulai berangsur membaik kondisi kesehatannya. Cerpen “Lelaki yang Kawin dengan Peri”, “Pistol Perdamaian”, dan “Anjing-anjing Menyerbu Kuburan”, bahkan terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas berturut-turut pada 1995 hingga 1997. Kompilasi esainya juga terbit setelah itu, misalnya Demokrasi dan Budaya Birokrasi (1994), Identitas Politik Umat Islam (1997), dan Muslim Tanpa Masjid (2001).

Bahan Bacaan

Fadrik Aziz Firdausi, Bagaimana Kuntowijoyo Meramu Sejarah dan Sastra Sekaligus?  www.tirto.id, 22 Februari 2005

Wan Anwar, Kuntowijoyo: Karya dan Dunianya, Grasindo, Jakarta, 2007

Ditulis oleh Cahyadi Takariawan

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.