Kembali
Keluarga

Lansia Mencipta Harmoni Keluarga

Oleh: Sujono M Syuhada
Direktur Jogja Family Center

Menurut anda, mengapa Kakek dan Nenek menjadi keajaiban bagi kita para cucu? Mereka memiliki perasaan yang begitu mendalam kepada cucu-cucunya. Bahkan melebihi rasa yang dimiliki terhadap anaknya sendiri yang sudah dewasa.

Rasa kasih sayang seoarang Kakek dan Nenek dikarenakan kebutuhan lansia yang semakin besar untuk disayang sekaligus mencurahkan kasih sayang terhadap anak kecil yang membutuhkan limpahan kasih sayang.

Sekelumit cerita pengatar dalam Kajian di Pesantren Lansia Permata, Berbah, Sleman 15 Oktober 2024 yang telah lalu. Suatu ketika Nenek saya dimarahi oleh anak-anaknya, karena Nenek menyimpan makanan di lemari sampai menjamur. Padahal itu makanan yang disukai oleh paman dan bibi saya. Kata Nenek, “Jajanan ini jangan kalian ambil, ya. Itu hanya buat cucuku, nanti, kalau datang kesini, biasanya menumbukkan racikan daun sirih untukku.”

Ternyata, seharian hingga malam itu saya tidak sempat ke rumah Nenek seperti biasanya datang ke rumah Nenek mengobrol sembari menumbuk racikan daun sirih Nenek, sehingga makanan di lemari tidak tersentuh oleh siapa-siapa dan menjamur.

Paman dan bibi seringkali heran dan bertanya tanya, kenapa Ibunya yang sekarang menjadi Nenekku dirasa selalu lebih perhatian kepada cucunya. Tidak seperti dahulu lagi yang sangat perhatian kepada anak-anaknya.

Dalam penelitian berjudul “Korelasi Saraf dari Pengasuhan Nenek” yang terbit di jurnal The Royal Society, Rilling dan rekan-rekannya meneliti 50 Nenek yang memiliki cucu berusia antara 3-12 tahun. Para Nenek diminta untuk melihat foto cucu dan anak mereka, lalu otak mereka dipindai untuk melihat respon sarafnya terhadap foto tersebut. Selain itu, mereka juga diminta mengisi kuesioner untuk mengukur tingkat keterlibatan dan keterikatan terhadap cucu mereka.

Hasilnya sungguh menarik. Ketika Nenek melihat foto cucunya, itu mengaktifkan area terkait empati emosional (kemampuan untuk mengalami emosi yang dirasakan orang lain) dan motorik. Sementara ketika melihat foto anaknya, hasil penelitian menunjukkan aktivasi yang lebih kuat di area otak yang terkait dengan empati kognitif (kemampuan memahami tindakan orang).

“Itu menunjukkan bahwa Nenek cenderung merasakan apa yang dirasakan cucu mereka saat berinteraksi dengan mereka. Jika cucu mereka tersenyum, mereka merasakan kebahagiaannya. Dan jika cucu mereka menangis, mereka merasakan rasa sakit dan kesedihan anak itu,” kata Rilling.

Jika seorang anak adalah buah hati bagi cinta sepasang suami dan isteri, yang dengannya mereka terlahir sebagai seorang ayah dan ibu. Maka, cucu mungkin ibarat benih cinta baru. Lahirnya cucu sekaligus menjadi tonggak lahirnya kembali jiwa yang penuh kasih, seoarng ayah dan Ibu terlahir menjadi seorang Kakek dan Nenek.

Benih cinta baru inilah yang menjadi peluang emas untuk menanam dan merawatnya dengan sepenuh kasih di tengah lahan realita kehidupan yang panjang. Benih itu tampak bersemi indah. Tak kan dibiarkan ia terluka oleh sekitarnya, bahkan termasuk oleh kedua orang tua yang mengasuhnya sepanjang waktu.

Diriwayatkan dari Nasai dan Hakim Syaddad mengatakan, “Suatu ketika Rasulullah pernah datang kepada kami dalam salah satu shalat fardhu malamnya (Maghrib atau Isya’), sambil menggendong Hasan atau Husein, lalu Rasulullah maju ke depan (untuk mengimami), beliau pun menurunkannya (Hasan atau Husein), lalu bertakbir untuk memulai shalatnya. Di tengah-tengah shalatnya beliau sujud dengan sujud yang panjang.

Syaddad mengatakan, maka aku pun mengangkat kepalaku, dan ternyata ada anak kecil (Hasan atau Husein) di atas punggung Rasulullah yang sedang sujud, lalu aku kembali sujud. Setelah Rasulullah menyelesaikan shalatnya, para Sahabatnya bertanya, “Wahai Rasulullah, sungguh engkau telah bersujud dengan sujud yang panjang di tengah-tengah shalatmu, sehingga kami mengira terjadi sesuatu, atau ada wahyu yang turun kepadamu?” Beliau menjawab, “Bukan karena itu semua, akan tetapi cucuku (Hasan atau Husein) menunggangiku, dan aku tidak ingin segera menyudahinya sampai ia puas dengan keinginannya”.

Lihatlah, betapa tumbuh dan berkembangnya Hasan dan Husein di sisi Rasulullah SAW Sang Kakek terbaik di muka bumi. Kehidupan Hasan dan Husein di sisi Kaeknya menjadi peneguh yang sempurna betapa nyata bahwa Islam adalah risalah yang penuh kasih. Ketika Hasan dan Husein menaiki punggung Rasulullah saat sujud Shalat, Rasulullah menunggu cucunya turun dari punggunya. Khawatir kalau-kalau bangkitnya dari sujud menyebabkan jatuh dan sakit, sementara cucunya masih lemah secara fisik, jiwa, dan daya pikirnya untuk memahami betapa sakral saat seorang hamba sedang sujud di hadapan Rabbnya.

Dari Abu Qatadah RA, ia berkata “Aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggendong Umamah bintu al Ash, putrinya Zainab bintu Rasulullah, di pundak beliau. Apabila beliau shalat maka ketika rukuk, Rasulullah meletakkan Umamah di lantai, dan apabila bangun dari sujud maka beliau kembali menggendong Umamah” (Riwayat Bukhari Muslim).

Dalam hadits yang senada, Ummul Mukminin Aisyah bercerita, Rasulullah pernah diberi sebuah kalung oleh seorang perempuan. Beliau lalu bersabda, “Aku akan memberikan hadiah ini kepada keluargaku yang paling aku cintai.” Aisyah RA pergi bersamanya. Kemudian Rasulullah memanggil Umamah putri Zainab, dan mengalungkan hadiah itu di lehernya (Riwayat Ahmad).

Berangkat dari naluriah alami manusia, teladan Nabi SAW, dan sudah barang tentu sesuai sunnatullah, tentu bagi Kakek dan Nenek amat sangat menghendaki keutuhan keluarga anak dan menantunya. Takkan terbesit sedikitpun bagi seorang mertua akan terhadap persitiwa retaknya hubungan anak dan menantunya. Tidak ada mertua di manapun yang menghendaki perceraian keluarga anak-anaknya.

Perceraian akan berdampak sangat besar bagi pertumbuhan dan perkembangan cucu Sang Nenek dan Kakek.

Hetherington (dalam Stevenson & Black, 1995) mengungkapkan bahwa setelah 6 tahun pasca perceraian orang tuanya anak akan tumbuh menjadi seseorang yang merasa kesepian, tidak bahagia, mengalami kecemasan, dan perasaan
tidak aman. Dalam bidang kesehatan, terungkap bahwa anak yang orang tuanya bercerai mempunyai masalah kesehatan yang lebih banyak dan lebih sering menggunakan pelayanan kesehatan dibanding dengan anak yang keluarganya utuh (Cafferata & Kasper; Jennings & Sheldon; Moreno; Worobey & Angel, dalam Stevenson & Black, 1995).

Dalam bidang akademik ditunjukkan melalui penelitian tentang efek perceraian orang tua terhadap performansi anak di kelas yang menyimpulkan bahwa anak memiliki nilai performansi yang lebih rendah jika dibandingkan dengan anak yang orang tuanya tidak bercerai. Hal tersebut disebabkan oleh stres keluarga yang terjadi akibat perceraian sehingga mempengaruhi performansi anak di sekolah (Stevenson & Black, 1995).

Betapa mengerikannya dampak perceraian terhadap cucu. Orang tua pasti akan berusaha merawat keutuhan serta keharmonisan rumah tangga anak-anaknya. Terlebih lagi, setiap pilihan sikap seseorang yang telah lanjut usia, tersebab memiliki tiga pesona, seperti yang telah dirumuskan oleh KH. Hilmi Aminuddin Allahuyarham, yaitu:

  1. Al-khazanah at-tajribiyah (kekayaan pengamalan). Yang demikian bersumber dari panjangnya perjalanan hidup sehingga telah memetik hikmah dari berbagai ujian hidup berumah tangga. Para orang tua juga pada umumnya memiliki kekuatan menelaah situasi dan kondisi yang ada (quwwatul isti’la’iyah) secara matang serta presisi. Dengan kekuatan ini, keluarga muda mendapatkan dari orang tua kekayaan hasanah yang dapat dijadikan pedoman dalam setiap mengambil Keputusan-keputusan penting yang menyangkut masa depan keluarga inti dan keluarga besar, sehingga menjadi keluarga muda yang tidak gegabah dalam menentukan sikap.
  2. Quwwatu syaitharah fikriyah (kekuatan daya berfikir). Yaitu mampu memberi pengaruh pemikiran di tengah-tengah keluarga. Hasil pemikiran orang tua biasanya lebih dihargai daripada pemikiran orang-orang muda karena pertimbangan dalam pemikirannya telah matang. Keluarga muda dapat menimba ilmu-ilmu yang terakumulasi dari proses belajar disertai pengalaman yang panjang. Bukan sekedar ilmu-ilmu dan wacana yang hadir di ruang hampa.
  3. Quwwatu syaitharah ruhiyah (kekuatan daya ruhani). Yaitu kemampuan untuk mendekatkan diri kepada Allah yang member pengaruh (ta’tsir) di hati orang di sekitarnya. Hubungan dengan Allah (ibadah) yang telah lama memberi suatu kedalaman serta kematangan ruhani yang bermanfaat kuatnya bangunan keluarga besar. Sebagaimana dalam penelitian Prof. Dr. John Defrain, bahwa salah satu unsur yang terdapat pada keluarga tangguh adalah terdapatnya kehidupan spiritualitas yang kuat.

Dengan tiga pesona inilah orang tua menjadi inspirasi bagi keluarga di kalangan generasi muda. Melalui hikmah setiap telaah peristiwa secara mendalam berdasarkan pengalaman yang panjang dalam kehidupan berkeluarga. Kearifan yang telah diwariskan para orang tua dalam perjalanan kehidupan berumah tangga merupakan pemelihara agar keluarga senantiasa berada secara tegak di atas nilai-nilai agama dan budaya adilihung.

Semoga Allah anugerahkan kepada kita umur panjang yang penuh berkah. Semoga Allah berikan Ridha dan limpahan karunia kebersamaan orang tua untuk meraih keluarga sakinah, mawaddah, warahmah serta penuh berkah. Amin.[SJN]

Ditulis oleh ruangkeluarga

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.