Kembali
Motivasi Menulis

Melawan Demensia dengan Membaca dan Menulis

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“People who never learned to read and write may be at increased risk for dementia” — Nicholas Bakalar, 2019

.

Sebuah studi neuropsikologi yang dilakukan di Columbia, Amerika Serikat pada tahun 2019 lalu memberikan hasil yang semakin menguatkan hasil studi terdahulu. Ternyata, kebiasaan membaca dan menulis memberikan pengaruh sangat positif terhadap kesehatan manusia.

“Orang yang tidak pernah membaca dan menulis memiliki risiko lebih tinggi terkena demensia”, tulis Nicholas Bakalar (2019), mengutip hasil studi tersebut.

Sebagaimana diketahui, demensia (dementia) adalah sindrom yang ditandai dengan disorientasi ingatan atau memori, proses berpikir, perilaku, dan penurunan kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Sebagaimana definisi yang dismpaikan oleh World Health Organization (WHO), “dementia is a syndrome in which there is deterioration in memory, thinking, behaviour and the ability to perform everyday activities”.

Hampir seluruh penderita demensia adalah kelompok lanjut usia (lansia). Meskipun demikian, demensia bukan bagian dari proses penuaan yang normal. Umumnya, demensia ditandai dengan gejala mudah lupa atau pikun, karena sindrom ini mengganggu kemampuan otak untuk mengingat.

Demensia bukan semata-mata terkait dengan persoalan daya ingat, namun bisa berpengaruh lebih luas dalam kehiupan manusia. Pengaruhnya bisa terkait dengan hipertensi, diabetes, penyakit jantung dan faktor risiko demensia lainnya. Maka demensia jelas tidak bisa dianggap sederhana dan ringan.

Membaca dan Menulis adalah Pencegahan Demensia

Untuk melawan demensia, kebiasaan membaca dan menulis secara rutin memberikan pengaruh yang positif.  Penulis laporan studi tersebut, Jennifer J. Manly, seorang profesor neuropsikologi di Columbia menyatakan, “Titik eksposur pada diri dan sosial, memberikan pengaruh positif pada kehidupan selanjutnya”.

Menurut Jennifer, kebiasaan membaca dan menulis secara rutin memberikan eksposur dan keterlibatan (engagement) serta peluang seumur hidup yang mengarah pada penyehatan otak. Dengan bahasa yang mudah, membaca dan menulis adalah salah satu mekanisme menyehatkan otak yang berdampak secara jangka panjang.

Orang yang rutin membaca dan menulis, akan membuat otaknya sehat. Kita tahu betapa hebat kapasitas otak manusia. Allah memberikan otak dengan kapasitas yang ajaib. Andy Habermacher (2019), “You are basically born with all the brain cells you will ever need and use”. Pada dasarnya Anda dilahirkan dengan semua sel otak yang Anda butuhkan dan gunakan dalam kehidupan.

Ada sekitar 100 miliar sel neuron di sistem saraf otak manusia, yang bertugas mengirimkan pesan di otak kita. Ajaibnya, setiap kali manusia belajar hal-hal baru dan berlatih dengan tekun, akan terbentuk jaringan baru di otak. Sungguh luar biasa. Sayangnya, potensi ini kurang disyukuri oleh manusia, bahkan cenderung tidak dijaga.

Apabila kita rajin membaca dan menulis, akan terbentuk jaringan baru di otak kita. Ini yang membuat otak manusia selalu sehat, dan tidak mengalami kepikunan. Tua adalah keharusan, namun pikun bukanlah kondisi yang harus terjadi. Sangat banyak orangtua sejak zaman dulu kala hingga sekarang, yang mereka tidak pikun hingga usia senja dan tutup usia.

Orang-orang salih zaman dulu, mereka rutin membaca Al-Qur’an setiap hari, maka otak selalu sehat. Tidak mengalami kepikunan. Sebagian dari mereka juga rutin menulis hal-hal positif setiap hari, ini semakin menyehatkan otak. Ada penulis hadits, ada para ulama penulis berbagai ilmu. Dengan rajin membaca dan menulis, mereka menjadi terjaga kesehatan otaknya. Tidak mengalami kepikunan hingga usia senja.

Saya bertemu orang paling tua di kampung tempat saya tinggal, yang sampai akhir hayatnya tidak pikun padahal usia lebih dari 80 tahun. Beliau hanya tamat SD. Mengapa tidak pikun? Karena sejak kecil selalu membaca Al-Qur’an, sampai dengan hari kematiannya. Selalu membaca. Ini yang membuat otak selalu bekerja, dan sehat. Satu sisi, ini keberkahan Al-Qur’an. Di sisi lain, inilah cara kerja otak pada orang yang rutin membaca.

Nah, sudah jelas bukan? Jika ingin menjaga kesehatan otak, rutinkan membaca dan menulis. Bagi Anda yang beragama Islam, rutinitas membaca Al-Qur’an menjadi salah satu sarana. Lalu tuliskan spirit dari bacaan Anda tersebut. Niscaya Anda tidak pikun sampai akhir hayat. Insyaallah.

Bahan Bacaan

Andy Habermacher, The Truth about Brain Development, www.leading-brains.com, 28 Februari 2019

Nicholas Bakalar, The Brain Benefits of Reading and Writing, www.nytimes.com, 19 November 2019

World Health Organization, Dementia, http://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/dementia, 21 September 2020

.

Ilustrasi : https://www.entrepreneurshiplife.com

Ditulis oleh Cahyadi Takariawan

Dipublikasikan di Ruang Menulis. Kanal kreasi naskah, literasi, dan karya tulis terpilih.