Kembali
Motivasi Menulis

Melawan Kebosanan Saat Isoman

.

Catatan Isoman Hari Ke – 1   

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Alhamdulillah, hari ini Jumat 6 Agustus 2021, tepat pukul 08.30 saya dinyatakan positif Covid-19. Sebuah anugerah, bahwa saya diizinkan Allah untuk mendapatkan musibah di masa pandemi ini. Bisa merasakan seperti yang banyak orang lain telah merasakan.

Meskipun saya di rumah saja, relatif tidak ke mana-mana, namun toh selalu ada yang datang ke rumah. Mengantar paket barang, pesanan online dan seterusnya, sehari bisa 10 kali. Jadi pasti tetap ada interaksi dengan orang lain.

Tentu saja saya tidak menuduh mereka sebagai pembawa Covid. Di zaman sekarang kita tidak pernah tahu dari mana datangnya virus super kecil masuk ke tubuh kita. Terima saja, nikmati saja, dan jalani dengan penuh kesadaran diri.

Mulai pagi ini pula saya melakukan isolasi mandiri (isoman) di kamar yang terpisah, di bagian belakang rumah. Selamat datang di dunia isoman. Dunia yang dulu hanya mendengar cerita. Kini saya mengalaminya.

Agar Tak Bosan Selama Isoman

Dikurung di dalam kamar, tak berinteraksi dengan dunia luar secara langsung, adalah musibah yang lebih berat dibanding terpapar Covid itu sendiri. Rasa kebosanan, bahkan sebagian ada yang mengalami ketakutan, kecemasan dan depresi selama isolasi mandiri.

Kebosanan, ketakutan, kecemasan itu akan potensial melemahkan imunitas. Selama masa isolasi mandiri, imunitas kita harus sangat dikuatkan. Salah satu pendekatan untuk penguatan imunitas adalah spiritualitas. Dekatkan diri kepada Allah, perbanyak ibadah, selalu husnuzhan kepada Allah, ini akan menguatkan imunitas.

Saya tertarik untuk menerapkan konsep ajuan Martin Seligman selama menjalani isoman. Lima aspek yang diyakini bisa memberikan pertumbuhan bagi kebahagiaan, yakni positive emotion (emosi positif), engagement (kelekatan), relationship (relasi yang positif), meaning (kemampuan memberi makna) dan accomplishment (pencapaian / prestasi).

Lima aspek ini disingkat dengan PERMA. Sebuah konsep yang ‘masuk akal’ untuk diterapkan selama isoman, agar bisa menguatkan pertahanan diri. Bagaimana isoman bisa tetap mendapatkan kebahagiaan? Mari saya ajak Anda mendalaminya.

ISOMAN

Hadirkan Positive Emotion

Hal pertama untuk mendapatkan kebahagiaan adalah dengan menghadirkan positive emotion. Jangan izinkan diri kita dibanjiri emosi negatif, seperti cemas, takut, bosan dan lain sebagainya. Jika emosi negatif yang menguasai diri selama isoman, imunitas akan semakin melemah.

“Increasing positive emotions helps individuals build physical, intellectual, psychological, and social resources that lead to this resilience and overall wellbeing” (Melissa Madeson, 2021).

Berjuanglah untuk menghadirkan sebanyak mungkin emosi positif dalam jiwa kita. Menurut Seligman, positive emotion (emosi positif) dapat tercapai melalui dua sumber; yaitu kenikmatan dan kesenangan. Kenikmatan adalah hal-hal yang bersentuhan dengan fisik atau tubuh, seperti makan yang enak di saat lapar, atau tidur di saat lelah.

Pada sebagian orang, saat terpapar Covid mereka kehilangan indera perasa dan penciuman. Namun untuk memenuhi nutrisi, harus tetap memasukkan energi ke dalam tubuh. Jika perlu, dengan suntikan anti muntah, agar tetap bisa memasukkan makanan ke dalam tubuh.

Pencapaian  positive emotion dari sisi ini sepertinya tidak akan bisa optimal pada saat isoman. Karena ada sangat banyak keterbatasan, baik karena rasa sakit, maupun karena ketiadaan pilihan. Tidak enak makan sate, tidak enak makan pizza dan spagheti. Tidak ada rasa semuanya.

Kendatipun manusia bisa memenuhi selera makan, minum dan kenikmatan lainnya, namun jika tidak menguatkan sisi spiritualitas, tidak melakukan aktivitas intelektual dan tidak menumbuhkan kreativitas, tidak akan bisa optimal merasakan kebahagiaan. Selama isoman, sisi intelektualitas dan kreativitas bisa ditumbuhkan.

Sisi kesenangan –menurut Seligman, lebih berhubungan dengan intelektual dan kreativitas. Ada kesenangan yang muncul akibat kita mengembangkan kemampuan intelektualitas dan kreativitas. Ini bisa dilakukan di saat isoman.

Bagaimana caranya? Banyaklah belajar selama isoman, membaca buku, mendengarkan kajian keilmuan yang bermanfaat, serta merancang karya selama isoman. Lahirkan kreativitas, apa yang bisa dilakukan di saat isoman? Karya apa yang bisa diciptakan  selama isoman? Tentu setiap orang berbeda-beda kondisinya.

Menghadirkan Emosi Positif dengan Dzikir

Sebagai  manusia beriman, kita bisa menambahkan sumber pencapaian emosi positif, yaitu jiwa yang selalu ridha, sabar dan tawakal kepada Allah. Jiwa yang selalu mendekat dan mencintai Allah. Ini menjadi sumber paling kuat untuk merasakan ketenangan dan kebahagiaan dalam jiwa.

Bagi yang beragama Islam, kita meyakini, dengan berdzikir atau mengingat Allah, hati menjadi tenang (QS. Ar-Ra’du : 28). Dzikir adalah penenteram jiwa yang gelisah resah. Dzikir melahirkan kekuatan dan kedamaian dalam jiwa. Ini harus diperbanyak, lebih bayak dibanding hari-hari sebelumnya saat tidak isoman.

Dzikir adalah pernyataan kecintaan. Dzikir adalah pernyataan kelemahan. Dzikir adalah pernyataan penghambaan. Dengan banyak berdzikir kita bisa membangun emosi positif. Bisa membangun optimisme, bisa membangun harapan kebaikan, bisa membangun kekuatan untuk bangkit.

Anda tidak akan bosan menjalani isoman, jika suasana jiwa selalu dipenuhi emosi positif. Jangan mengizinkan jiwa dibanjiri emosi negatif. Terus jaga semangat berkarya dengan hal-hal yang kita bisa melakukannya.

Bahan Bacaan

Martin Seligman, Flourish, A Visionary New Understanding of Happiness and Wellbeing, Atria Books, 2012

Melissa Madeson, Seligman’s PERMA+ Model Explained: A Theory of Wellbeing, 22 Mei 2021, https://positivepsychology.com/

Ditulis oleh ruangkeluarga

Dipublikasikan di Ruang Menulis. Kanal kreasi naskah, literasi, dan karya tulis terpilih.