.
Oleh : Cahyadi Takariawan
“To sound like a teenager, you need to become a teenager again” — Kurt Dinan, 2016
.
Sudah banyak disampaikan para ahli perkembangan, bahwa masa remaja adalah “fase menggerutu”. Apapun yang disampaikan orangtua kepada remaja, sering ditanggapi dengan gerutuan. Maka kadang remaja perlu mendapat sentuhan nasihat dari pihak lain, misalnya melalui tulisan untuk mereka.
Namun jika Anda sudah bukan lagi remaja, persoalan yang akan Anda hadapi saat menulis untuk segmen remaja adalah memahami dunia mereka. Semakin jauh jarak usia kita dari remaja, sering kali semakin sulit memahami dunia mereka. Oleh karena itu, diperlukan usaha untuk memasuki dunia mereka, sebelum mulai menulis sesuatu untuk mereka.
Bagaimana Memasuki Dunia Remaja?
Salah satu ciri dunia remaja, sebagaimana diungkap dalam web Psychology Discussion adalah, “An adolescent boy or girl may take any rash or reckless step out of anger or frustration. An adolescent lacks in emotional maturity”. Karena sedang bertumbuh menjadi dewasa, kurang dalam kematangan emosinya.
Situasi ini menyebabkan remaja memiliki karakter yang khas. Mereka bukan lagi anak-anak, namun mereka juga belum dewasa. Mereka berada dalam fase antara yang kadang rumit, dan perlu bimbingan orangtua. Nah, tulisan untuk segmen remaja, perlu memahami kondisi ini, agar bisa lebih tepat menyapa mereka.
Tidak masalah berapapun usia Anda saat ini, namun Anda perlu mengerti dunia remaja jika ingin menulis untuk mereka. Agar tulisan Anda bisa memasuki dunia remaja, upayakan hal-hal berikut ini.
- Memilih topik yang disukai remaja
Jika ingin menyapa remaja, pilih topik yang mereka sukai, bukan yang Anda sukai. Mungkin saja Anda menyukai filsafat atau politik internasional, namun kebanyakan remaja lebih suka topik ringan dan seru-seruan.
Lihat betapa film hantu dan pocong banyak disukai remaja. Karena ini sekedar seru-seruan. Demikian pula cerita soal cinta, misteri, petualangan, fantasi dan hobi, sangat mereka sukai. Dunia selebritis dan medsos, termasuk menarik minat mereka.
Dari topik-topik ringan dan seru-seruan itu, bisa Anda oleh untuk mengajak remaja menjadi positif dan kontributif. Bukan menjadi lebay dan apalagi menyimpang.
- Mengerti jalan pikiran remaja
Remaja suka berimajinasi. Maka mengajak mereka melakukan petualangan imajinasi, lebih mereka sukai, ketimbang teori-teori. Sebagai pelajar, mereka merasa sudah ‘jenuh’ dengan buku-buku pelajaran yang teoritik. Mereka memerlukan bacaan untuk refreshing.
Tulisan berbentuk novel atau cerita pendek, lebih mereka sukai daripada buku teoritik. Anda juga bisa membuat tulisan nonfiksi yang berbentuk kisah nyata, atau memuat banyak kisah di dalam tulisan nonfiksi Anda. Berimajinasi membuat mereka merasa memiliki banyak pilihan.
- Bersifat “manusiawi”, bukan menggurui
Berkisah tentang kehidupan sehari-hari, membuat remaja merasa tidak digurui atau diinstruksi. Maka ketika membuat karakter tokoh dalam kisah yang Anda tulis, jangan menghadirkan sosok sempurna. Karena pada dasarnya tidak ada manusia sempurna hidup di zaman kita ini.
Menggambarkan sosok bernama Alim yang sangat alim tanpa cacat, itu tampak tidak masuk akal di pikiran remaja. Mereka perlu mendapat sentuhan penuturan berbasis karakter nyata, seperti cewek super cantik tapi hobi ngupil, remaja yang pinter tapi mudah ketiduran saat pelajaran. Atau cowok ganteng tapi takut sama anjing, dan lain-lain.
Dengan karakter yang ‘manusiawi’ seperti ini, remaja merasa lebih nyaman, karena merasa tidak dibandingkan dengan sosok sempurna. Anda bisa menitipkan pesan-pesan kebaikan melalui tokoh-tokoh yang apa adanya tersebut.
- Banyak menggunakan dialog, ketimbang narasi
Pada umumnya remaja akan cepat bosan dengan paparan yang panjang. Dalam tulisan fiksi, mereka senang membaca bagian dialog. Maka kemampuan mengolah dialog menjadi hal penting untuk segmen remaja. Jika dalam beberapa lembar mereka tidak menemukan bagian dialog, akan cenderung boring.
Jika Anda menulis nonfiksi, masukkan kisah dalam tulisan Anda, yang memungkinkan memuat dialog. Pesan-pesan lewat dialog yang cerdas sesuai karakter remaja, membuat pesan lebih masuk. Dibandingkan tulisan penuh nasihat yang –meskipun berbobot, tapi lebih terasa berat untuk mereka akses.
Bersambung
Bahan Bacaan
Kurt Dinan, How to Write for Teens Without Sounding Like an Adult Writing for Teens, https://www.writersdigest.com, 4 April 2016
Psychology Discussion, 11 Major Characteristics of Adolescence, www.psychologydiscussion.net, diakses 26 Desember 2020