.
Oleh: Cahyadi Takariawan
Tidak baik berandai-andai. Namun ini hanyalah sebuah pertanyaan, jika Anda memiliki uang 16 (enambelas) trilyun rupiah, Anda gunakan untuk apakah uang sebesar itu? Apakah jumlah itu banyak? Tentu saja sangat relatif.
Cobalah kita tengok kesungguhan insan perfilman Hollywood bekerja menghasilkan karya film. Kesungguhan mereka tampak dalam besaran biaya yang dikeluarkan untuk proses pembuatan film, dan tampak pula dari kualitas produk yang dihasilkan.
Kita tercengang melihat kesungguhan insan perfilman Hollywood yang mudah sekali menghamburkan dana ratusan juta dolar Amerika, demi memuaskan ambisi mereka. Padahal, dari keseluruhan usaha dan kesungguhan tersebut, hasilnya hanyalah sebuah karya film! Bukan kompleks pemukiman atau pondok pesantren dengan luas satu kecamatan.
Ya, hasilnya adalah film berdurasi dua jam. Diputar di bioskop dan layar televisi. Sekali orang menonton, mungkin ada yang mengulang menonton sekali lagi. Setelah itu bosan, tidak akan mengulang menontonnya lagi.
Lebih 16 Trilyun Rupiah Habis untuk Membuat 3 Film
Seluruh kesungguhan tim dalam menggarap sebuah film, mengeluarkan dana ratusan juta dolar Amerika, hasilnya adalah panggung hiburan. Sebuah khayalan, sebuah imajinasi, yang dibuat dengan penuh kesungguhan.
Coba kita perhatikan tiga film berikut ini. Film Avengers: Endgame (2019) menghabiskan biaya US$365 juta atau sekitar Rp 5.6T. Film Avatar: The Way of Water (2022) menghabiskan biaya US$350 juta atau sekitar Rp 5,3T. Film Fast X (2023) menghabiskan biaya US$340 juta atau sekitar Rp 5,2T.
Dari 3 film tersebut saja, sudah menghabiskan dana 16,1 trilyun Rupiah. Di Hollywood, dana “receh” 5 triliyunan dengan mudah diwujudkan dalam sebuah tayangan berdurasi sekitar 2 jam. Ya, hasilnya adalah sebuah film.
Padahal prosesnya sangat bersungguh-sungguh, namun hasilnya berupa hiburan dan tontonan saja. Kita sering mendengar keluhan sulitnya menghadirkan tuntunan, karena tidak ada yang serius membiayai, sedangkan untuk tontonan begitu mudah orang mengeluarkan biaya.
Dimana Kesungguhan Kita ?
Lalu bagaimanakah dengan kesungguhan kita melakukan proyek kebaikan? Bagaimana kesungguhan kita melakukan proses pembangunan manusia Indonesia seutuhnya? Bagaimana kesungguhan kita dalam membantu saudara-saudara kita di Gaza yang menjadi korban genosida?
Bagaimana kesungguhan kita menjaga wilayah perbatasan Indonesia? Bagaimana usaha kita untuk menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan yang merata bagi seluruh warga bangsa? Bagaimana usaha kita mengatasi pengangguran dan kemiskinan? Bagaimana usaha kita memajukan pendidikan khususnya di wilayah yang jauh dari ibukota?
Sudah pasti, kesungguhan tidak bisa diukur dari banyaknya dana yang dikeluarkan. Namun perbandingan tadi saya angkat dalam rangka untuk menunjukkan betapa sebuah hiburan, sebuah tontonan, ternyata dibangun dari kerja keras dan kesungguhan menghadirkan berbagai hal terbaik, sehingga biayanya menjadi mahal.
Belajar Dari Kesungguhan Pembuatan Film
Sekedar membuat tontonan 2 jam, proses pembuatannya berbulan-bulan. Menggunakan berbagai perlatan canggih, menghimpun sangat banyak pakar dan keahlian, melibatkan ratusan hingga ribuan orang dalam pembuatannya.
Mereka sangat perfect dalam pengambilan gambar, sehingga harus melakukan latihan serius dan harus mengulang-ulang adegan demi mendapat hasil yang sempurna. Tidak jarang harus membuang banyak bagian karena hasilnya tidak memuaskan. Dalam proses animasi, mereka menggunakan teknologi super canggih untuk mendapatkan hasil maksimal.
Sementara untuk melakukan kebaikan, kadang belum tampak usaha yang serius dan belum tampak kesungguhan yang optimal dalam merancang maupun menjalankan programnya. Padahal yang akan dihasilkan bukanlah tontonan, bukanlah hiburan, namun sebuah peradaban yang nyata.
Kita masih banyak permakluman dan permaafan kepada program yang ala kadarnya, yang kurang terencana, yang kurang bagus manajemennya. Semua kita maklumi sendiri, dengan alasan masih belajar, sedang berproses, harus bersabar, dan lain sebagainya.
Padahal kita tidak sedang mengada-ada tentang Avengers atau Avatar. Yang kita lakukan adalah membangun peradaban yang sesungguhnya. Membangun bangsa dan negara yang tidak boleh pecah dan karam.
Yang kita lakukan adalah merawat NKRI agar tetap utuh dan tidak tercerai berai. Seharusnya dilakukan dengan segenap kesungguhan jiwa, dilakukan dengan segenap pikiran dan perasaan. Bukan ala kadarnya, bukan semaunya, bukan sesempatnya.
Sudahkan kita bersungguh-sungguh melakukan kebaikan? Sudahkah kita menghadirkan segenap kesungguhan dalam kerja di medan kehidupan? Ingatlah, hasil akhir yang akan kita wujudkan bukanlah hiburan, bukanlah tontonan, namun sebuah peradaban. Sebuah kehidupan. Sebuah harapan.
Mari bekerja sepenuh kesungguhan.