.
Oleh : Cahyadi Takariawan
.
Siang ini, Minggu 21 November 2021, saya sangat berbahagia, karena kembali melaunching tiga buku baru karya peserta kelas Emak Punya Karya (EPK). Mereka bertiga berhasil menyelesaikan penulisan dan penerbitan buku, karya sendiri. Emak hebat itu adalah Ineke ‘Naira’ Zandroto, Rita Haryanti dan Sri Rohmatiah.
Mereka bertiga bukanlah sosok yang tidak punya kesibukan. Justru kesibukan mereka sangat tinggi. Selain mengurus rumah tangga, Ineke adalah dokter gigi di rumah sakit, Rita adalah dokter spesialis di rumah sakit, Rohmatiah adalah pengusaha dan aktivis kemasyarakatan. Segudang kesibukan telah mereka miliki setiap hari, namun masih bisa meluangkan waktu menulis.
Kaki Gunung Kesetiaan
Rita Haryanti adalah seorang dokter spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi yang tinggal di Bekasi. Ia bekerja di sebuah rumah sakit swasta. Ibu dari tiga anak ini mulai belajar menulis dan mengikuti kelas Jejak Cinta Ananda (JCA) dan Emak Punya Karya (EPK) batch 4. Bukunya berjudul ”Kaki Gunung Kesetiaan, Menjelajah Rindu Menemui RidhaMu”.

Buku yang diterbitkan Wonderful Publishing tersebut ditulis dalam 36 hari, di sela-sela kesibukannya bertugas di Rumah Sakit dan mengurus keluarga. Ia mengaku tidak suka menulis di malam hari, karena sering sulit mengontrol diri. Pada waktu malam, inspirasi datang dengan deras dan ia bisa menulis dengan lancar. Namun sering lupa waktu, tahu-tahu sudah larut malam.
Buku setebal 288 halaman (isi) tersebut bercerita tentang pengalaman hidupnya. Sejak dari kisah pernikahan, keluarga, kelahiran anak dan pengembaraan untuk berbagai tugas. Rita bercerita tentang negeri Jepang, namun juga tentang Papandayan di Jawa Barat. Sebuah upaya mengumpulan serpihan hikmah, agar tidak berserak, dan bisa menjadi inspirasi yang berharga bagi pembaca.
“Saat itulah aku merasakan getaran cinta dalam hati. Sebentuk rasa yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Seolah-olah Allah mengguyuriku dengan rasa cinta padanya” (halaman 9). “Kami harus menjalani pernikahan jarak jauh, saling berjauhan, entah berapa lama. Karena Ayah tentu harus beradaptasi menjalani kehidupannya di Jepang sebelum memutuskan untuk mengajak aku dan kakak” (halaman 24).
Banyak kisah-kisah unik, menarik dan sekaligus menginspirasi dalam buku ini. Bagaimana menjalani kehidupan pernikahan secara LDR, bagaimana belajar dan berkehidupan di negeri Jepang, bagaimana dinamika pertumbuhan anak-anak, semua menjadi pelajaran berharga bagi pembaca.
Ketegaran Naira
Ineke Zandroto adalah ibu rumah tangga dan berprofesi sebagai dokter gigi. Buku “Naira” bergenre novel ini adalah buku single kedua yang ditulisnya. Buku pertama Ineke berjudul Ksatria Kedua, yang menjadi cikal bakal penulisan novel Naira.
Buku setebal 240 halaman tersebut terdiri dari 24 bagian; dan ditulis dalam waktu 100 hari. Hadir dengan sangat kuat karena mendapat pengantar dari tokoh-tokoh hebat, politisi Netty Prasetiyani Heryawan, novelis Afifah Afra, dan mentor menulis Cahyadi Takariawan serta Ida Nurlaila.

Buku yang diterbitkan oleh Wonderful Publishing ini bercerita tentang sosok Naira dan Rafli dengan segala dinamika kehidupan yang menguras air mata pembaca. Sebuah puisi menghiasi bagian depan buku, sudah memberikan pengantar yang syahdu.
***
Aku pernah bersembunyi di balik hujan,
Dari air mata yang deras berjatuhan
Biarkan kini kusambut semburat jingga,
Yang biasnya melengkung memendarkan warna
Bersamanya,
Ku kan melangkah pada jalan-Nya
Tiada yang sia-sia dari helaian kisah,
Atau tetesan air mata yang membasah
Ketika Dia menitipkan cinta-Nya
Naira
****
Puisi yang ditulis oleh Naira di atas, menggambarkan kerasnya perjuangan kehidupan. Namun selalu ada kelembutan yang tersimpan. Sungguh dalam makna yang tersembunyi di balik bait-bait puisi Naira. Ada hujan, ada air mata yang berjatuhan. Ada jingga, ada hikmah yang tak pernah sia-sia.
Hari-hari Naira, sungguh berat. Perlakuan buruk kerap ia terima. Rumah tangga, tak seindah yang ia damba. Namun itu semua tak membuatnya menjadi sosok lemah dan berputus asa. Simak selengkapnya di novel Naira. Jangan lupa, siapkan tisu yang banyak sebelum membaca.
Isyarat Cinta
Sri Rohmatiah adalah ibu dari dua anak yang tinggal di Madiun, Jawa Timur. Ia mendampingi suami yang dikaruniai keterbatasan fisik, namun memiliki talenta melukis yang luar biasa. Agus Yusuf –suami Sri Rohmatiah, melukis dengan mulut dan kaki. Karyanya telah dikenal di berbagai negara, terutama di kawasan Eropa.
Buku berjudul “Isyarat Cinta Sarat Makna” ini adalah buku single kedua. Sebelumnya Sri Rohmatiah menulis buku berjudul “Kalau Berbeda, Lalu Kenapa?” yang merupakan kisah kehidupan bersama suami tercinta. Buku Isyarat CInta merupakan kelanjutan dari buku sebelumnya.

Buku yang diterbitkan Ziqron Studio ini memiliki ketebalan 200 halaman isi, ditulis dalam 30 hari. Berkisah tentang renik-renik kehidupan yang tak selamanya mudah dan indah. Keputusan seorang gadis untuk menikah dengan lelaki disabilitas, tidak memiliki dua tangan dan hanya memiliki satu kaki, tentu banyak menimbulkan pertentangan.
“Aku bermimpi menggendong lelaki –tanpa kedua tangan dan hanya memiliki satu kaki– itu, melewati pematang sawah. Hingga di ujung pematang, aku menurunkannya. Ia mulai melukis di area pesawahan yang hijau segar –dengan mulutnya. Siapa sangka, lelaki dalam mimpi itu yang kini menjadi suamiku”. Demikian petikan kisah yang ada di buku ini.
Anda pasti penasaran dengan kisah nyata yang ada dalam buku Isyarat Cinta ini. Buku yang menggabungkan curhat dengan nasihat, sehingga pembaca bisa menikmati tanpa merasa digurui atau diceramahi.
Jika Anda ingin menyimak serunya diskusi dan launching buku karya tiga Emak hebat ini, silakan disimak di link Wonderful TV berikut ini: https://youtu.be/1pdIPtl-cic.