Kembali
Edukasi

Mengapa Kamu Bersedih?

.

Oleh: Cahyadi Takariawan

Sedih adalah salah satu emosi yang dimiliki setiap manusia. Kesedihan tidak bisa dinilai secara pasti sebagai positif atau negatif. Yang memberinya nilai adalah sedih karena apa, dan apa ekspresi kesedihannya.

Yang pertama menyangkut dorongan motivasi. Yang kedua adalah cara mengekspresikan kesedihan. Jika dorongan motivasinya benar, dan cara mengekspresikannya benar, maka sedih menjadi dibolehkan. Bahkan dalam konteks tertentu menjadi terpuji.

Dorongan Motivasi

Jika sedih karena ditinggalkan orang-orang terkasih, maka perasaan itu adalah wajar dan manusiawi. Nabi saw juga bersedih saat putra tercinta, Ibrahim meninggal dunia.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik, ia mengatakan, “Kami bersama Rasulullah saw mendatangi Abu Saif Al-Qayyin yang (isterinya) telah mengasuh dan menyusui Ibrahim (putra Nabi saw)… dalam kondisi bayi Ibrahim meninggal dunia. Hal ini menyebabkan kedua mata Rasulullah saw berlinang air mata”.

‘Abdurrahman bin ‘Auf bertanya, “Mengapa engkau menangis, wahai Rasulullah?”

Beliau saw menjawab,

يَا ابْنَ عَوْفٍ إِنَّهَا رَحْمَةٌ

“Wahai Ibnu ‘Auf, sesungguhnya ini adalah rahmat (tangisan kasih sayang).”

Beliau saw melanjutkan,

إِنَّ العَيْنَ تَدْمَعُ، وَالقَلْبَ يَحْزَنُ، وَلاَ نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا، وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ يَا إِبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ

“Kedua mata boleh mencucurkan air mata, hati boleh bersedih, hanya kita tidaklah mengatakan kecuali apa yang diridhai oleh Rabb kita. Dan kami dengan perpisahan ini wahai Ibrahim, pastilah bersedih” (HR. Bukhari dan Muslim).

Menangis dan sedih karena kehilangan orang terkasih tentu dibolehkan, tetapi tidak boleh diiringi dengan ekspresi yang terlarang. Di antara ekspresi kesedihan yang dilarang adalah ratapan berupa ucapan, teriakan, atau tindakan yang dilarang. Seperti memukul badan, menyobek baju, membenturkan kepala, dan lain-lain.

Nabi Ya’qub juga sedih atas kondisi Yusuf, yang mendapatkan perlakuan tidak baik dari saudara-saudaranya. Ini adalah kesedihan yang manusiawi. Namun perhatikan bagaimana ekspresi kesedihan Ya’qub?

قَالَ اِنَّمَآ اَشْكُوْا بَثِّيْ وَحُزْنِيْٓ اِلَى اللّٰهِ وَاَعْلَمُ مِنَ اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

Dia (Yakub) menjawab, “Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui” (QS. Yusuf: 86).

Ya’qub mengembalikan dan mengeluhkan kesedihan hanya kepada Allah. Baik kesedihan yang teramat sangat berat (batsi), maupun kesedihan yang biasa saja (huzni); semua diadukan hanya kepada Allah. Bukan kepada manusia.

Ekspresi Kesedihan

Inilah ekspresi yang benar. Kesedihan yang berat tidak boleh seseorang melampiaskan dengan cara-cara yang tercela dan menyimpang dari ajaran agama. Yang harus dilakukan orang yang sedang sedih adalah:

  1. Tidak mengucapkan kata-kata atau kalimat yang tidak disukai Allah

Hal ini sebagaimana ungkapan Nabi saw,

وَلاَ نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا

“…kita tidak mengatakan kecuali apa yang diridhai oleh Rabb kita”

2. Mengadukan hanya kepada Allah

Sebagaimana ungkapan Nabi Ya’qub dalam kesedihan atas kondisi anak tercinta,

اِنَّمَآ اَشْكُوْا بَثِّيْ وَحُزْنِيْٓ اِلَى اللّٰهِ

“Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.”

Syaitan menghendaki kesedihan menimpa manusia. Dengan kondisi sedih ini, manusia akan lalai dari kebaikan. Ibnul Qayyim menjelaskan,

وسر ذلك أن الحزن موقف غير مسير، ولا مصلحة فيه للقلب، وأحب شيء إلى الشيطان :أن يحزن العبد ليقطعه عن سيره ويوقفه عن سلوكه

“Rahasianya adalah, karena kesedihan adalah keadaan yang tidak menyenangkan, tidak ada maslahat bagi hati. Suatu hal yang paling disenangi setan adalah, membuat sedih hati seorang hamba. Hingga menghentikannya dari rutinitas amalnya dan menahannya dari kebiasaan baiknya”.

Maka jangan bersedih. Karena Allah bersama kita. La tahzan, innalllaha ma’ana.

Ditulis oleh ruangkeluarga

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.