Kembali
Positive Writing

Mengapa Tetap Menulis di Bulan Ramadan?

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Allan Cott, M.D. penulis buku Fasting as A Way of Life dan Fasting The Ultimate Diet, menghimpun hasil penelitian para ahli terhadaap manfaat puasa. Menurutnya, di antara manfaat puasa adalah mampu membuat kondisi fisik dan psikis lebih baik”.

.

Untuk semua sahabat yang beragama Islam, saya ucapkan selamat menunaikan ibadah Ramadan. Baik yang memulai puasa hari Sabtu 2 April 2022 (sesuai hitungan hisab PP Muhammadiyah), maupun hari Ahad 3 April 2022 (sesuai hasil sidang Isbat Pemerintah RI). Semoga ibadah Ramadan kita mampu menghantarkan kita mencapai posisi takwa.

Pada bulan Ramadan, sebagaimana kita ketahui, ibadah pokok yang dilakukan semua umat muslim adalah berpuasa pada siang hari, dan tarawih pada malam hari. Disertai dengan berbagai amal kebaikan lainnya yang sangat beragam jenisnya.

Salah satu cara mengoptimalkan Ramadan adalah dengan jalan menetapkan target untuk diri pribadi. Misalnya, target membaca dan mengkhatamkan Al-Qur’an; target memperbaiki kualitas bacaan Al-Qur’an; target memperbanyak hafalan Al-Qur’an; target memahami dan menghayati kandungan ayat-ayat Al-Qur’an; dan lain sebagainya.

Selain target ibadah-ibadah khusus, bisa pula ditambah dengan target memperbanyak ibadah dalam konteks yang luas. Misalnya target dalam menghasilkan karya tulis berkualitas selama Ramadan.

Alasan Menulis di Bulan Ramadan

Pada bulan Ramadan, umat Islam menjalankan puasa sebulan penuh, disertai penjagaan diri dari perbuatan dan tindakan yang tercela. Puasa itu artinya menahan diri. Maka harus mampu menahan diri dari makan, minum, serta dari hal-hal yang sia-sia dan tercela.

Ada sangat banyak alasan mulia, mengapa tetap menulis selama bulan puasa. Paling tidak, ada lima alasan berikut ini.

  • Memperbanyak amal kebaikan selama Ramadan

Ramadan adalah bulan yang disarankan kepada umat Islam agar banyak melakukan kebaikan, dan berusaha menjauhi keburukan. Sebuah hadits riwayat At-Tirmidzi nomer 682 dan Ibnu Majah nomer 1642 menyatakan, pada bulan Ramadan semua pintu surga dibuka, semua pintu neraka ditutup, setan dan jin jahat dibelenggu,

إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ

Syaikh Ibrahim bin ‘Amir Ar-Ruhaili dalam kitab Tajridul Ittiba’ ketika menjelaskan makna hadits riwayat At-Tirmidzi nomer 682 dan Ibnu Majah nomer 1642 tersebut menyatakan, “Dalil ini menunjukkan keutamaan seluruh amalan kebaikan yang dilakukan di bulan Ramadan”. Artinya, semua perbuatan baik di bulan Ramadan sangat dianjurkan untuk dilakukan.

Tentu sudah sangat banyak amal kebaikan yang dilakukan umat Islam selama Ramadan. Sejak puasa, tarawih, sahur, buka puasa, tadarus Al-Qur’an, tahsin tilawah dan tahfizh, dzikir, doa, infak, sedekah, dan lain sebagainya. Menulis menjadi salah satu aktivitas kebaikan yang bisa dilakukan di bulan Ramadan.

Menulis adalah salah satu amal yang bisa membawa kepada kebaikan, apabila isi tulisan tersebut berisi nilai-nilai kebaikan. Baik tulisan fiksi maupun nonfiksi, bisa menjadi sarana untuk menanamkan kebaikan kepada jiwa manusia.

Maka menulislah selama Ramadan, dan niatkan aktivitas menulis sebagai ibadah Ramadan. Nilai kebaikannya akan berlipat dibanding menulis pada bulan-bulan biasa.

  • Mengoptimalkan waktu

Ramadan adalah waktu-waktu istimewa dengan banyaknya keutamaan di dalamnya, namun sangat terbatas durasnya. Hanya satu bulan saja. Maka hendaknya tidak menyia-nyiakan waktu yang terbatas tersebut. Jangan menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidakproduktif dalam kebaikan serta pahala.

Sungguh, waktu hidupkita sangat terbatas. Ja’far bin Sulaiman berkata bahwa dia mendengar Rabi’ah menasehati Sufyan Ats Tsauri, sebagaiman dinukil dalam kitab Shifatush Shofwah,

إنما أنت أيام معدودة، فإذا ذهب يوم ذهب بعضك، ويوشك إذا ذهب البعض أن يذهب الكل وأنت تعلم، فاعمل.

“Sesungguhnya engkau adalah kumpulan hari. Jika satu hari berlalu, maka sebagian dirimu juga akan hilang. Bahkan hampir-hampir sebagian harimu berlalu, lalu hilanglah seluruh dirimu; sedangkan engkau mengetahuinya. Oleh karena itu, beramallah.”

Menulis menjadi sarana untuk mengoptimalkan waktu. Ada sangat banyak kebaikan-kebaikan yang bisa kita lakukan selama Ramadan, baik pagi, siang, sore serta malam harinya. Pada jeda waktu tertentu, terkadang kita lalai mengoptimalkan untuk melakukan aktivitas kebaikan. Menulis bisa menjadi sarana mengoptimalkan semua waktu untuk kebaikan.

Bawalah alat tulis di manapun sedang berada. Segera menulis saat mendapatkan jeda waktu yang bisa digunakan. Tuliskan inspirasi dan motivasi kebaikan, sehingga banyak manfaat bisa didapatkan dari tulisan Anda.

  • Peluang terbukanya pintu kebaikan

Sepanjang Ramadan, suasana sangat kondusif untuk memasukkan nilai-nilai kebaikan melalui berbagai sarana. Salah satunya melalui tulisan. Perbanyaklah memproduksi tulisan yang bermuatan nilai kebaikan.

Suasana kebaikan Ramadan tampak dalam arahan Nabi saw berikut ini,

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

”Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan pun dibelenggu.”

Al-Qadhi ‘Iyadh mengatakan, “Hadits di atas dapat bermakna, terbukanya pintu surga dan tertutupnya pintu Jahannam dan terbelenggunya setan-setan sebagai tanda masuknya bulan Ramadhan dan mulianya bulan tersebut.”

“Juga dapat bermakna terbukanya pintu surga karena Allah memudahkan berbagai ketaatan pada hamba-Nya di bulan Ramadhan seperti puasa dan shalat malam. Hal ini berbeda dengan bulan-bulan lainnya,” lanjutnya.

“Di bulan Ramadhan, orang akan lebih sibuk melakukan kebaikan daripada melakukan hal maksiat. Inilah sebab mereka dapat memasuki surga dan pintunya. Sedangkan tertutupnya pintu neraka dan terbelenggunya setan, inilah yang mengakibatkan seseorang mudah menjauhi maksiat ketika itu”, demikian penjelasan Al-Qadhi ‘Iyadh sebagaimana dikutip dalam kitab Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim.

Hati manusia akan mudah terbuka menerima nasehat kebaikan, sepanjang Ramadan. Maka tulisan berisi motivasi kebaikan akan lebih mudah menyentuh jiwa manusia, ketika mereka tengah berpuasa. Sebuah peluang melakukan perubahan dan perbaikan yang sangat terbuka, melalui tulisan Ramadan.

  • Menulis pada suasana penuh pahala

Ramadan adalah bulan penuh pahala kebaikan. Saking berlimpahnya pahala, sampai masyarakat Indonesia senang mengutip hadits dhaif bahwa tidurnya orang puasa adalah ibadah. Hadits tersebut derajatnya lemah atau dhaif, tidak bisa untuk menjadi landasan mentapkan hukum.

Maksud dari ungkapan tersebut, saking besarnya pahala bulan puasa, bahkan tidurpun dinilai pahala. Apalagi aktivitas kebaikan nyata, seperti menulis, dan memposting tulisan kebaikan. Tentu pahalanya lebih besar dan lebih nyata.

Imam An-Nawawi dalam Syarh Muslim menyatakan,

أَنَّ الْمُبَاح إِذَا قَصَدَ بِهِ وَجْه اللَّه تَعَالَى صَارَ طَاعَة ، وَيُثَاب عَلَيْهِ

“Sesungguhnya perbuatan mubah, jika dimaksudkan dengannya untuk mengharapkan ridha Allah Ta’ala, maka dia akan berubah menjadi ketaatan dan mendapatkan balasan pahala.”

Ibnu Rajab Al-Hambali dalam kitab Latha-if Al-Ma’arif menjelaskan, “Jika makan dan minum diniatkan untuk menguatkan badan agar kuat ketika melaksanakan shalat dan berpuasa, maka seperti inilah yang akan bernilai pahala. Sebagaimana pula apabila seseorang berniat dengan tidurnya di malam dan siang harinya agar kuat dalam beramal, maka tidur seperti ini bernilai ibadah.”

Maka niatkan menulis sebagai ibadah, agar mendatangkan pahala melimpah saat puasa. Di saat puasa, kondisi fisik dan psikis kita menjadi lebih baik dibanding waktu-waktu lainnya. Allan Cott, M.D. penulis buku Fasting as A Way of Life dan Fasting The Ultimate Diet, menghimpun hasil penelitian para ahli terhadaap manfaat puasa. Di antara manfaat puasa adalah mampu membuat kondisi fisik dan psikis lebih baik.

Dalam suasana fisik dan psikis yang bagus, aktivitas menulis menjadi lebih segar dan bertenaga. Mampu melahirkan karya tulis yang menyentuh relung-relung jiwa manusia. Ditulis dalam kondisi mentalitas yang bagus, karena sedang berpuasa dan meniatkan kegiatan menulis sebagai bagian dari ibadah.

  • Tulisan adalah kebaikan yang mampu menembus batas

Ada sangat banyak keterbatasan dalam pembicaraan lisan di hadapan audiens. Terlebih pada masa terdahuluyang belum mengenal media online. Tulisan bisa menembus batas-batas yang tak bisa dicapai oleh suara lisan. Maka kitab karya para ulama terus menerus memberi pelajaran kepada semua generasi Islam di berbagai kawasan.

Seorang ulama besar, Ibnu Al-Jauzi, dalam kitab Shaidul Khathir menceritakan keutamaan tulisan dibandingkan dengan pembicaraan lisan. Beliau berkata,

رَأَيْتُ مِنَ الرَّأْيِ القَوِيْمِ أَنَّ نَفْعَ التَّصَانِيْفِ أَكْثَرُ مِنْ نَفْعِ التَّعْلِيْمِ بِالْمُشَافَهَةِ؛ لأَنِّيْ أُشَافِهُ فِيْ عُمُرِيْ عَدَدًا مِنَ الْمُتَعَلِّمِيْنَ، وَأُشَافِهُ بِتَصْنِيْفِيْ خَلْقًا لاَ تُحْصَى مَا خُلِقُوْا بَعْدُ، وَدَلِيْلُ هذا أَنَّ انْتِفَاعَ النَّاسِ بِتَصَانِيْفِ الْمُتَقَدِّمِيْنَ أَكْثَرَ مِنْ انْتِفَاعِهِمْ بِمَا يَسْتَفِيْدُوْنَهُ مِنْ مَشَايِخِهِمْ.

“Saya memandang manfaat tulisan itu lebih besar daripada manfaat mengajar secara lisan. Di sepanjang umurku, aku telah mengajar banyak murid secara lisan. Dan aku bisa mengajar murid yang tak terhitung jumlahnya melalui tulisan karyaku, yang bahkan mereka belum lahir. Bukti yang menunjukkan hal ini adalah orang-orang jauh lebih banyak memanfaatkan karangan karangan ulama generasi terdahulu daripada mereka memanfaatkan ilmu dari guru-guru (langsung) mereka.”

Di zaman cyber saat ini, pembicaraan lisan di sebuah majelis, bisa pula disebar dan disimak tanpa batas. Melalui berbagai media online, sebuah pelajaran lisan yang disampaikan di suatu mushalla kampung nan kecil, bisa disimak oleh masyarakat dunia melalui youtube dan media sosial lainnya.

Meski demikian, tradisi lisan sangat berbeda dengan tradisi tulisan. Sebuah inspirasi dan motivasi yang ditulis, akan menjadi lebih sistematis dan akademis. Pada tradisi lisan, seseorang akan berbicara dengan bebas dan mengalir. Pada tradisi tulisan, seseorang akan memproses pemikiran menjadi berstruktur dan sistematis.

Selamat menulis, selamat meraih keutamaan Ramadan.

#30harimenulis #ramadanmenulis #ramadanpenuhkebaikan

#tulisanhari1ramadan

Ditulis oleh Cahyadi Takariawan

Dipublikasikan di Ruang Menulis. Kanal kreasi naskah, literasi, dan karya tulis terpilih.