Menikah Penuh Berkah di Masa Wabah

Menikah Penuh Berkah di Masa Wabah

Tausiyah Pernikahan Faris Maulana Al Muzakki dan Nurkhoyrin Nasihah di Lampung Tengah, 31 Mei 2020

 

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

Faris dan Ririn, selamat atas akad nikah kalian, yang telah terikrar pada hari Sabtu 30 Mei 2020 di Lampung Tengah. Alhamdulillah, pernikahan kalian dilaksanakan pada bulan Syawal, sebagaimana anjuran para ulama dalam madzhab Syafi’i, yang menyatakan ada keutamaan menikah di bulan Syawal. Dulu Nabi saw menikah dengan A’isyah di bulan Syawal, maka A’isyah senang menikahkan muslimah di zaman itu pada bulan Syawal.

Demikian pula, pernikahan tetap kalian lakukan meskipun di tengah wabah, karena menikah adalah hal yang harus disegerakan, sementara kita tidak tahu wabah akan berakhir sampai kapan. Semoga kalian berhasil membentuk keluarga sakinah, mawadah warahmah dan penuh berkah. Aamiin.

Faris dan Ririn,

Sesungguhnyalah sikap orang beriman dalam kehidupan pernikahan dan berumah tangga, selalu berorientasi kepada keridhaan Allah dalam setiap langkah dan pengambilan keputusan. Maka hendaknya kalian tidak mengejar kebahagiaan, namun raihlah ridha Allah. Carilah keberkahan dalam setiap aktivitas kehidupan. Jika ridha Allah kalian dapatkan, jika keberkahan kalian utamakan, pasti kalian akan mendapatkan kebahagiaan.

Agar rumah tangga kalian selalu dalam ridha Allah dan dipenuhi keberkahan, tepatilah beberapa prinsip berikut ini.

Pertama, pernikahan adalah mitsaqan ghalizha

Faris dan Ririn, pahamilah menikah bukan coba-coba, bukan main-main, bukan  sendau gurau. Nikah adalah perjanjian yang sangat kuat, sebagaimana Allah telah berfirman,

وَأَخَذْنَ مِنكُم مِّيثَٰقًا غَلِيظًا

“Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat” (QS. An-Nisa’ : 21).

Oleh karena itu, pegang kuat-kuat perjanjian ini. Pernikahan kalian dihalalkan oleh Allah, dicontohkan oleh Rasulullah, disaksikan oleh keluarga dan masyarakat, dicatat dalam lembar pemerintahan. Ikatan ini tidak boleh dirusak dengan sembarangan.

Kedua, suami dan istri adalah pasangan

Faris dan Ririn, corak interaksi suami dan istri, bukanlah atasan dengan bawahan, bukan boss dan anak buah, bukan pula sebagai rival atau lawan. Suami istri adalah pasangan, sebagaimana Allah telah berfirman,

وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri (pasangan) dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang” (QS. Ar-Rum : 21).

Pasangan itu saling melengkapi, saling menjaga, saling memberi yang terbaik, saling memuliakan, salig menghargai, saling mencintai, saling menyayangi. Mereka berdua jelas tidak sama, namun saling memahami dan saling mengerti.

Ketiga, suami adalah pemimpin dalam rumah tangga

Faris dan Ririn, meskipun secara nilai kemanusiaan dan posisi di hadapan Allah kalian berdua adalah setara, namun keluarga sebagai sebuah entitas harus ada yang memimpin. Allah telah menunjuk laki-laki sebagai pemimpin dalam kehidupan berumah tangga, sebagaimana firmanNya,

ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَآ أَنفَقُوا۟ مِنْ أَمْوَٰلِهِمْ

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka” (QS. An-Nisa : 34).

Suami harus memimpin istri dengan cara bijak, penuh kelembutan dan kesabaran, menuju kepada keridhaan Allah. Jangan sampai menjadi pemimpin yang otoriter dan sewenang-wenang. Pimpinlah keluargamu menuju surga.

Keempat, interaksi suami istri dengan prinsip mu’asyarah bil ma’ruf

Interaksi suami istri —termasuk kepemimpinan— tidak boleh diaplikasikan secara zalim, namun harus berlandaskan prinsip mu’asyarah bil ma’ruf. Allah telah berfirman,

وَعَاشِرُوهُنَّ بِٱلْمَعْرُوفِ

“Dan bergaullah dengan mereka secara patut” (QS. An-Nisa : 19).

Interaksi yang ma’ruf adalah dengan kelembutan, cinta, kasih sayang, penghargaan, dan penghormatan. Dengan demikian, suasana keluarga menjadi menyenangkan bagi semua penghuninya.

Kelima, pasangan suami istri sebagai pakaian

Suami dan istri memiliki kelekatan (intimacy) yang melegakan dan nyaman, sebagaimana kelekatan pakaian dengan tubuh. Al-Qur’an menggambarkan suami dan istri sebagai pakaian,

هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ

“Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka” (QS. Al-Baqarah : 187).

Sangat romantis penggambaran Al-Qur’an tentang suami dan istri. Diibaratkan seperti pakaian atau libas, yang memiliki ciri melekat tanpa jarak, dengan kelekatan yang nyaman dan melegakan. Bukan kelekatan yang menyesakkan, menyakiti dan melukai.

Keenam, menikmati kesenangan yang halal

Faris dan Ririn, setelah akad nikah, suami dan istri dihalalkan menikmati kesenangan yang telah Allah berikan dalam pernikahan. Kenikmatan dan kesenangan ini digambarkan sebagai ‘ladang’ dalam firmanNya,

نِسَآؤُكُمْ حَرْثٌ لَّكُمْ فَأْتُوا۟ حَرْثَكُمْ أَنَّىٰ شِئْتُمْ

“Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki” (QS. Al-Baqarah : 223).

Tubuh istri adalah fasilitas yang Allah halalkan untuk dinikmati oleh suami, pun tubuh suami adalah fasilitas yang Allah halalkan untuk dinikmati oleh istri. Maka silakan menikmati “bagaimana saja kamu kehendaki”.

Faris dan Ririn, demikianlah beberapa prinsip dalam membangun rumah tangga, agar selalu mendapatkan ridha dan keberkahan Allah. Dengan menjalankan berbagai prinsip tersebut, rumah tangga kalian akan harmonis, sejahtera dan bahagia. Semoga keluarga kalian selalu sakinah mawadah wa rahman serta penuh berkah. Mendapatkan rejeki halal yang melimpah ruah. Dikaruniai putra putri yang salih dan salihah. Kelak berkumpul di jannah, surga yang sangat indah.

 

Yogyakarta 31 Mei 2020

 

 

 

Cahyadi Takariawan

Cahyadi Takariawan telah menulis lebih dari 50 judul buku yang sebagian besarnya bertema keluarga. Aktivitasnya saat ini selain menulis adalah menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Mendirikan Jogja Family Center (JFC) pada tahun 2000 sebagai kontribusi untuk mengokohkan keluarga Indonesia. Kini JFC bermetamorfosis menjadi Wonderful Family Institute. Beliau dapat diakses melalui Instagram @cahyadi_takariawan

Tinggalkan Balasan