Menikmati Tarawih Bersama Keluarga Selama Masa Pandemi Corona

Menikmati Tarawih Bersama Keluarga Selama Masa Pandemi Corona

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

Sebagaimana diketahui, salah satu ibadah istimewa di bulan Ramadhan —-selain berpuasa sebulan, adalah melaksanakan shalat tarawih selama sebulan penuh. Shalat tarawih yang dilakukan dengan iman dan pengharapan akan pahala dari Allah, akan menghapuskan dosa-dosa yang telah berlalu. Nabi saw bersabda,

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ اِيْمَانَا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْذنْبِه

“Barangsiapa melakukan qiyam (shalat tarawih) pada bulan Ramadhan, karena iman dan mencari pahala, maka diampuni untuknya apa yang telah lalu dari dosanya.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759).

Yang dimaksud qiyam Ramadhan adalah shalat tarawih sebagaimana yang dituturkan oleh An-Nawawi dalam Syarh Muslim, 3/101.

Biasanya, selama Ramadhan masyarakat bersama-sama melaksanakan shalat tarawih di masjid. Namun kini kita tengah berada dalam suasana pandemi corona, dimana untuk shalat wajib saja dianjurkan untuk dilaksanakan di rumah, termasuk shalat Jum’at dianjurkan diganti dengan shalat duhur di rumah.

Bagaimana kita nanti melaksanakan shalat tarawih selama Ramadhan —apabila masih berada dalam situasi pandemi? Mari kita simak penjelasan para ulama berikut.

  1. Pengertian Tarawih

Disebut sebagai “tarawih”, artinya adalah istirahat, karena orang yang melakukan shalat tarawih beristirahat  setelah melaksanakan empat raka’at. Shalat tarawih termasuk qiyamul lail atau shalat malam, akan tetapi shalat tarawih dikhususkan di bulan Ramadhan. Jadi, shalat tarawih ini adalah shalat malam yang dilakukan di bulan Ramadhan. (Lihat Al-Jami’ li Ahkamish Shalah, 3/63 dan Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, 2/9630)

Pelaksanaan shalat tarawih tidak disyariatkan untuk tidur terlebih dahulu, sedangkan shalat tahajjud menurut para ulama adalah shalat sunnah yang dilakukan setelah bangun tidur dan dilakukan di waktu malam pada bulan apapun. (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, 2/9630). Inilah diantara perbedaan tarawih dan tahajjud.

  1. Hukum Shalat Tarawih

Shalat tarawih bukanlah wajib. Para ulama bersepakat bahwa shalat tarawih hukumnya sunnah. Imam An-Nawawi mengatakan:

فصلاة التراويحِ سُنَّة بإجماع العلماء

“Shalat tarawih hukumnya sunnah dengan ijma ulama” (Al Majmu, 4/37).

Ash-Shan’ani mengatakan:

قيام رمضان سُنَّة بلا خلاف

“Qiyam Ramadhan hukumnya sunnah tanpa ada khilaf” (Subulus Salam, 2/11).

Menurut Ahnaf, Hanabilah, dan Malikiyyah, hukum shalat tarawih adalah sunnah mu’akkad atau sangat dianjurkan. (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 2/9631)

  1. Boleh Dilaksanakan di Rumah atau di Masjid

Karena shalat tarawih bukan shalat wajib, maka kaidahnya mengikuti shalat sunah pada umumnya, yaitu tidak harus dilakukan di masjid. Ibnu Umar ra meriwayatkan, bahwa Nabi saw telah bersabda,

اجْعَلُوا مِنْ صَلاَتِكُمْ فِى بُيُوتِكُمْ وَلاَ تَتَّخِذُوهَا قُبُورًا

“Berikan jatah sebagian shalat sunah kalian di rumah kalian. Dan jangan jadikan rumah kalian seperti kuburan”. (HR. Muslim 1856 dan Ahmad 4653)

  1. Lebih Utama di Rumah atau di Masjid?

Para ulama berbeda pendapat, mana yang lebih afdhal, shalat tarawih di rumah atau di masjid. Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah dinyatakan,

قال بعض أهل العلم: صلاتها في البيت أفضل، وهو قول مالك والشافعي .وقال آخرون: صلاتها في المسجد أفضل، لأن الصحابة رضي الله عنهم كانوا يفعلونها في المسجد أوزاعا في جماعات متفرقة حتى جمعهم عمر رضي الله عنه على إمام واحد، وتابعه الصحابة على ذلك ومن بعدهم.

“Sebagian ulama mengatakan, shalat tarawih di rumah lebiih afdhal. Ini merupakan pendapat Imam Malik dan Imam as-Syafi’i. Ulama lain mengatakan, shalat tarawih di masjid lebih afdhal. Karena dulu para sahabat melakukannya di masjid, berjamaah kelompok kecil-kecil. Kemudian mereka disatukan  oleh Umar bin Khatab ra dengan satu imam. Kemudian diikuti sahabat yang lain, dan generasi setelahnya”. (Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 40359)

  1. Jika Ada Kepentingan, di Rumah Lebih Utama

Jika ada kepentingan atau alasan tertentu, misalnya memotivasi keluarga atau masyarakat untuk tarawih berjamaah, maka tarawih sebaiknya dikerjakan di rumah atau tempat lain di luar masjid, seperti di tempat pertemuan warga. Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah dinyatakan,

وصلاة الرجل التراويح في البيت أفضل إذا كانت بنية حث أهل البيت عليها، ورغبة في عدم تركهم لها، لما في ذلك من إعانتهم على إحياء السنة، وتحصيل الخير

“Shalat tarawih yang diakukan di rumah lebih afdhal apabila diniatkan untuk memotivasi keluarga di rumah untuk shalat, dan membiasakan mereka untuk tidak meninggalkan tarawih. Karena ini berarti membantu mereka untuk menghidupkan sunah dan mendapatkan kebaikan”. (Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 13031)

Apalagi di masa pandemi corona, dimana shalat wajib pun dilaksanakan di rumah masing-masing sesuai arahan MUI, PP Muhammadiyah dan PB NU —maka shalat tarawih lebih utama untuk dilaksanakan di rumah.

  1. Boleh Sendirian, Boleh Berjama’ah

Para ulama berbeda pendapat, mana yang lebih utama, shalat tarawih sendirian atau berjama’ah. Imam Syafi’i, mayoritas ulama Syafi’iyah, Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad, dan sebagian ulama Malikiyah berpendapat bahwa lebih afdhal shalat tarawih dilaksanakan secara berjama’ah sebagaimana dilakukan oleh ‘Umar bin Al-Khatthab dan para sahabat.

Ibnu Qudamah mengatakan lebih utama melaksanakan shalat tarawih secara berjama’ah,

وقال ابنُ   قُدامةَ: (الجماعةُ في التراويح أفضلُ، وإنْ كان رجلٌ يُقتدَى به، فصلَّاها في   بيته، خِفتُ أن يَقتديَ الناس به، وقد جاء عن النبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم: ((اقتدوا   بالخُلفاء))، وقد جاء عن عُمرَ أنه كان يُصلِّي في الجماعة… ولنا: إجماعُ الصَّحابة على ذلك

“Berjama’ah dalam mengerjakan shalat tarawih itu lebih utama. Andai ada seorang yang meniru Nabi saw dengan shalat di rumah, aku khawatir orang-orang lain akan mengikutinya. Padahal Nabi saw bersabda: ‘ikutilah para khulafa (ar-rasyidin)’, dan terdapat riwayat bahwa Umar bin Khathab mengerjakan shalat tarawih secara berjama’ah. Dan kami menegaskan bahwa para sahabat ijma akan hal ini” (Al Mughni, 2/124).

Pendapat Ibnu Qudamah ini tentu saja berlaku dalam situasi normal, dimana tidak ada wabah atau pandemi.

Dalam kitab Majmu’ Syarah Muhadzzab dijelaskan bahwasanya shalat tarawih sendiri maupun jama’ah, kedunya sama-sama memiliki keutamaan.

الصلاة التراويح سنة باجماع العلماء أنها عشرون ركعة بعشر تسليمات وتجوز منفردا وجماعة وأيهما أفضل

“Shalat tarawih sunnah menurut ijma’ ulama, dua puluh raka’at dengan sepuluh kali salam, shalat tarawih diperbolehkan sendiri atau berjama’ah, akan tetapi keduanya sama-sama memiliki keutamaan”.

  1. Nikmati Tarawih Bersama Keluarga

Rasulullah saw terbiasa membangunkan istri beliau dan orang-orang yang ada di rumah-rumah beliau untuk mengerjakan shalat malam, seperti yang beliau lakukan terhadap Aisyah ra. Nabi saw membangunkan Aisyah bila hendak mengerjakan shalat witir. Beliau berkata dengan lembut kepada istri beliau, “Bangunlah dan kerjakanlah shalat witir wahai ‘Aisyah“.

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا: أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ يُصَلِّي صَلاَتَهُ بِاللَّيْلِ ، وَهِيَ مُعْتَرِضَةٌ بَيْنَ يَدَيْهِ ، فَإذَا بَقِيَ الوِتْرُ ، أَيْقَظَهَا فَأوْتَرتْ . رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

وَفِي رِوَايَةٍ لَهُ : فَإذَا بَقِيَ الوِتْرُ ، قَالَ : (( قُوْمِي فَأوْتِرِي يَا عِائِشَةُ)) .

Dari ‘Aisyah ra bahwa Nabi saw biasa melakukan shalat malam dengan posisi ‘Aisyah berbaring (melintang) di hadapan beliau. Maka, ketika tersisa witir, beliau membangunkannya, lalu ‘Aisyah melakukan witir. (HR. Muslim, no. 744). Dalam riwayat Muslim yang lain disebutkan, “Maka tersisa witir, beliau berkata, ‘Bangunlah, dan kerjakanlah shalat witir wahai Aisyah.’”

Maka nikmati shalat tarawih bersama keluarga, di rumah saja, selama masih pandemi corona. Bangunkan semua anggota keluarga untuk mengerjakan shalat malam. Boleh mengerjakan secara berjama’ah bersama dengan keluarga di rumah –baik di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan. Nabi saw pernah mengajak Abdullah bin Abbas untuk shalat malam dan membiarkan Abullah bin Abbas mengikuti beliau shalat malam bersama, di rumah Maimunah —bibi Ibnu Abbas ra.

Wallahu a’lam bish shawab.

 

Bahan Bacaan:

Abu Ihsan Al-Atsary, Membangunkan Keluarga untuk Shalat Malam, dalam – www.radiorodja.com, 6 Agustus 2018

Ammi Nur Baits, Shalat Tarawih di Rumah, dalam – https://konsultasisyariah.com, 6 Juni 2016

Edaran PP Muhammadiyah No 02/EDR/I.0/E/2020 tentang Tuntunan Ibadah dalam Kondisi Darurat Covid-19, dalam : www.muhammadiyah.or.id

Fatwa Nomor 14  Tahun 2020 Tentang Penyelenggaraan Ibadah Dalam Situasi Terjadi Wabah Covid-19, dalam : www.mui.or.id

LBM PBNU Keluarkan Larangan Shalat Jumat bagi Masyarakat Muslim di Zona Merah Covid-19, dalam : www.nu.or.id

Muhammad Abduh Tuasikal, Tuntunan Shalat Tarawih, https://rumaysho.com, 3 Agustus 2011

 

Cahyadi Takariawan

Cahyadi Takariawan telah menulis lebih dari 50 judul buku yang sebagian besarnya bertema keluarga. Aktivitasnya saat ini selain menulis adalah menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Mendirikan Jogja Family Center (JFC) pada tahun 2000 sebagai kontribusi untuk mengokohkan keluarga Indonesia. Kini JFC bermetamorfosis menjadi Wonderful Family Institute. Beliau dapat diakses melalui Instagram @cahyadi_takariawan

Tinggalkan Balasan