Kembali
Motivasi Menulis

Menjadi Writer Bukan Waiter (10)

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Pagi ini (Senin 3 Januari 2022) adalah pagi yang  melelahkan bagi saya. Hadir di Polres Bantul untuk perpanjangan SIM A pukul 08.45 wib, saya adalah antrean ke 91.

Saat saya mendapat nomer antre, baru sampai nomer 7 yang diproses. Berarti masih cukup panjang jatah antrenya. Saya pun duduk di ruang tunggu yang sangat padat.

Ruang tunggu itu tak terlalu luas. Meski ada tanda physical distancing, namun sulit dipatuhi, saking banyaknya  antrean. Tampak semua tempat duduk penuh terisi, bahkan banyak yang rela antre di luar ruangan.

Waktu serasa bergerak sangat lambat. Satu per satu antrean dipanggil untuk proses pengurusan SIM, namun masih sangat jauh dari angka 91.

Menunggu ternyata sangat melelahkan. Tidak ada kepastian pukul berapa akan dipanggil sesuai nomer antrean. Andai saja waktu bagi tiap orang lebih pasti, kita bisa memilih untuk jalan-jalan dulu. Bisa.ngopi dan makan spagheti sambil menunggu panggilan. Sayangnya tidak bisa demikian.

Sembari menunggu antrean yang masih sangat jauh, saya membayangkan mereka yang tengah duduk antre ini adalah para penulis. Ratusan orang duduk menunggu panggilan, seakan ratusan penulis yang tengah menunggu inspirasi.

Di mata saya ruang ini adalah ruang menulis. Sedangkan ratusan orang yang tengah antre adalah para penulis yang duduk menunggu sesuatu. Saya bayangkan tengah mendatangi mereka dan menyapa satu per satu.

Apa yang Anda Tunggu?

Ketika ditanya apa yang mereka tunggu, jawaban mereka memang beragam. Namun semua dari mereka memiliki kesamaan, bahwa mereka sama-sama menunggu.

Apa yang mereka tunggu? Sebagian dari mereka menjawab, menunggu mood. Mereka duduk dengan gelisah. Nomer antrean ‘hadirnya mood’ serasa tak segera mendekat. Mereka merasa tak bisa menulis apapun tanpa mood. Itu sebabnya mereka tak menulis. Mereka hanya duduk menunggu sembari berharap semoga mood segera datang.

Sebagian dari mereka menjawab, sedang menunggu ide. Mereka duduk dengan sabar menunggu kehadiran ide. Sayang, ide yang ditunggu tak kunjung datang. Tanpa ide cemerlang, mereka merasa tak akan bisa menulis. Maka mereka memilih untuk duduk menunggu kehadiran ide.

Sebagian dari mereka menjawab, sedang menunggu motivasi. Mereka duduk dengan harap-harap cemas. Karena motivasi yang dinanti tak segera datang menjumpai. Tanpa motivasi, mereka merasa tak berarti.

Sebagian lain lagi menjawab, sedang menunggu kesempatan. Mereka duduk dengan berjuta harapan semoga mendapat kesempatan. Mereka sangat ingin menjadi penulis namun merasa tak memiliki kesempatan. Akhirnya mereka duduk menunggu hadirnya kesempatan.Berharap semoga kesempatan benar-benar datang.

Sebagian dari mereka menjawab, menunggu momentum keajaiban. Mereka duduk dengan kepala tengadah, berharap momentum keajaiban segera tiba. Sayang keajaiban tak segera menampakkan jati dirinya. Maka merekapun duduk terpekur sembari mengharap keajaiban dari langit.

Sebagian dari mereka menjawab, menunggu memiliki sarana. Mereka duduk dengan harapan bisa membeli sarana menulis yang canggih. Mereka ingin memiliki laptop, atau tablet, atau smartphone canggih yang memudahkan proses menulis. Tanpa alat modern, mereka merasa tak akan bisa menulis.

Sebagian dari mereka menjawab, menunggu suasana yang kondusif. Mereka duduk dengan membayangkan segera menemukan suasana yang kondusif untuk menulis. Mereka merasa tidak bisa.menulis dalam suasana yang tidak kondusif. Ada banyak gangguan di sekitar yang membuat mereka terganggu.

Sebagian dari mereka menjawab, menunggu ketenangan. Mereka duduk dengan berharap mendapatkan kondisi tenang yang membuat bisa lancar menulis. Ada sangat banyak kebisingan dan kesibukan lingkungan sekitar, yang membuat tidak tenang. Dengan kegaduhan itu, mereka merasa tak bisa menulis.

Sebagian dari mereka menjawab, menunggu referensi. Mereka duduk dengan resah karena belum menemukan buku-buku referensi untuk menulis. Mereka tidak bisa menulis jika tidak memiliki referensi. Seakan semua jalan telah buntu, jika tak ada referensi.

Sebagian dari mereka menjawab, menunggu hilangnya masalah. Mereka tengah menghadapi suatu masalah sehingga tidak bisa menulis. Mereka berharap masalah segera selesai agar bisa menulis dengan lancar. Namun rupanya masalah belum segera bisa diselesaikan.

Sebagian yang lain menjawab, sedang menunggu hilangnya kelelahan. Mereka merasa sangat lelah sehingga tidak bisa menulis. Mereka berharap rasa lelah segera sirna agar bisa.menulis dengan leluasa. Jika kondisi tubuh bugar, tidak didera kelelahan, mereka yakin bisa menulis.

Sebagian dari mereka menjawab, menunggu kesegaran.  Mereka merasa kantuk dan jenuh, sehingga tidak bisa menulis. Berharap rasa kantuk dan jenuh bisa segera hilang untuk menulis. Dalam suasan kantuk dan jenus, mereka merasa tidak akan bisa menulis apapun.

Ada pula sebagian dari mereka yang menunggu waktu untuk tiba di rumah. Mereka merasa tidak bisa menulis karena sedang di luar rumah. Jika sudah tiba di rumah, nanti akan bisa jenak menulis. Maka mereka menunggu untuk bisa segera sampai di rumah.

Menulis, Bukan Menunggu

Itulah sebagian alasan yang mereka kemukakan, ketika ditanya apa yang sedang mereka tunggu. Alasan-alasan yang dikemukakan oleh banyak kalangan, yang membuat mereka tidak menulis. Ada yang menunggu mood, ada yang menunggu ide, ada yang menunggu motivasi, ada yang menunggu kesempatan, dan lain sebagainya.

Lihat betapa lelah menunggu. Betapa tidak produktif menunggu. Berjam-jam duduk tanpa kejelasan dan tanpa melakukan hal bermakna. Hanya menunggu saja dan tidak menulis apa-apa. Sungguh banyak waktu terbuang sia-sia.

Padahal untuk menjadi penulis, tidak ada yang perlu ditunggu. Menulis tidak harus menunggu mood, Anda tetap bisa produktif menulis walau tidak memiliki mood.. Menulis tidak harus.menunggu ide, sebab ide sudah ada di sekitar kita.

Menulis tidak perlu menunggu kondisi ideal. Kita bisa.menulis dalam berbagai situasi dan kondisi yang tidak ideal sekalipun. Mungkin sedang sepi, mungkin sedang bising, mungkin sedang gelap malam, mungkin pula di tengah terang benderang siang.

Tak perlu menunggu kondisi badan segar bugar, sebab terkadang  Anda harus melewati hari-hari yang sangat melelahkan.  Tak perlu menunggu tiba di rumah sebab Anda bisa menulis kapan saja dan di mana saja.

Hanya satu kunci menjadi penulis, yaitu segeralah menulis. Semua hal bisa menjadi ide dan inspirasi menulis. Semua kejadian bisa menjadi bahan tulisan. Semua kondisi bisa menjadi nutrisi untuk motivasi.

Menunggu sesuatu untuk menulis, membuat Anda menjadi penunggu. Bukan menjadi penulis.

.

Polres Bantul, 3 Desember 2022

Pukul 09.30 – 10.30 wib

Ini adalah contoh tulisan yang saya buat di tengah antrean membuat SIM, di Polres Bantul, DI Yogyakarta. Saya tulis dengan android di HP Samsung.

Ditulis oleh Cahyadi Takariawan

Dipublikasikan di Ruang Menulis. Kanal kreasi naskah, literasi, dan karya tulis terpilih.