.
Oleh : Cahyadi Takariawan
“If you wait for inspiration to write you’re not a writer, you’re a waiter” –Dan Poynter.
.
Richard Bach, penulis “Running from Safety” dan puluhan buku lainnya, menyatakan, “A professional writer is an amateur who didn’t quit”. Beda seorang profesional dengan amatir adalah, apakah mereka rutin menulis atau tidak. Jika rutin menulis setiap hari, mereka adalah profesional. Jika jarang-jarang menulis, mereka adalah amatir.
Maka hal sangat penting adalah membuat keteraturan dalam menulis. Meski hanya 15 menit atau 30 menit, namun teratur menulis setiap hari. Dengan cara seperti ini Anda akan benar-benar menjadi penulis profesional.
Menciptakan Habit Menulis
“If you ask most successful writers, they will tell you that they have a writing habit they keep to – writing daily. When you write daily, it becomes a habit. You will get better and better each day and writing blocks will be no more” –Hephzy Asaolu, 2016.
Sebenarnya tidak ada teknik atau tips menulis yang paling tepat untuk semua orang. Namun membangun habit atau kebiasaan menulis, akan sangat bermanfaat bagi Anda yang ingin belajar menulis.
Hepzhy Asaolu (2016) menyatakan, “Jika Anda bertanya kepada sebagian besar penulis sukses, mereka akan memberi tahu Anda bahwa mereka memiliki kebiasaan menulis yang mereka pertahankan –menulis setiap hari”.
Saya kira ungkapan Asaolu tersebut benar. Umumnya penulis sukses berhasil membangun keteraturan yang berlaku untuk diri mereka sendiri. Ada pengorbanan yang mereka relakan, demi mendapatkan ritme terbaik menulis.
“Ketika Anda menulis setiap hari, itu akan menjadi kebiasaan. Anda akan menulis lebih baik dan lebih baik setiap hari dan writers block tidak akan ada lagi”, ujar Asaolu. Anda tidak perlu bingung mengatasi writers block, yang penting Anda telah mampu membangun keteraturan menulis.
Berapa Lama Membangun Habit Menulis?
Philippa Lally dan tim (2009) telah melakukan serangkaian riset untuk menyelidiki proses pembentukan kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Sejumlah 96 relawan diminta memilih perilaku makan, minum atau aktivitas tertentu untuk dilakukan setiap hari selama 12 pekan. Aktivitas tersebut harus dilakukan dalam konteks yang sama, misalnya, setelah sarapan.
Mereka diminta menyelesaikan ‘indeks kebiasaan laporan diri’ (SRHI) setiap hari dan mencatat apakah mereka telah melakukan aktivitas rutin tersebut. Mayoritas (82) peserta memberikan data yang cukup untuk analisis, dan peningkatan otomatisitas diperiksa selama masa studi.
Waktu yang dibutuhkan peserta untuk mencapai 95% asimtot otomatisitas mereka berkisar antara 18 hingga 254 hari. Hal ini menunjukkan variasi yang cukup besar terkait berapa lama waktu yang dibutuhkan orang untuk mencapai batas otomatisitas mereka. Tampak bahwa membangun sebuah kebiasaan bisa memakan waktu yang cukup lama.
Survei juga menunjukkan, bahwa kehilangan satu kesempatan untuk melakukan perilaku yang dibiasakan tidak mempengaruhi proses pembentukan kebiasaan. Dengan pengulangan perilaku dalam konteks yang konsisten, otomatisitas pun meningkat.
Setiap orang bisa saja berbeda dalam lamanya waktu menciptakan habit menulis. Jika kita ambil hasil survei Philippa Laly dan kawan-kawan ini, kisarannya adalah 18 hingga 254 hari. Sebagian Anda cukup 18 hari bisa membangun habit menulis. Sebagian dari Anda memerlukan 254 hari hingga mampu membangun habit menulis. Tergantung kesungguhan masing-masing.
Menghindari Gangguan Menulis
“There are several things that can distract you from writing. They include the social media (Facebook account, Twitter, e.t.c.), the television, your friends, e.t.c. You need to get rid of distractions if you want to be a successful writer” –Hephzy Asaolu, 2016.
Ada godaan berat bagi Anda yang ingin menciptakan habit menulis. Terlebih pada zaman cyber dan medsos saat ini. Godaan mengasyiki medsos, chating, nonton sinema, kuliner dengan teman-teman, sering kali terlalu berat untuk dilawan. Banyak orang kalah dan terkapar pada perjuangan melawan godaan seperti itu.
“Ada banyak hal yang dapat mengalihkan perhatian Anda dari menulis. Misalnya asyik dengan media sosial (Facebook, Twitter, Instagram, dan lain-lain), televisi, teman, dan hal-hal lain”, ujar Asaolu. “Anda perlu menyingkirkan gangguan jika Anda ingin menjadi penulis yang sukses”, lanjutnya.
Tentu saja Anda boleh beraktivitas medsos, nonton film, dan –apalagi, menjalin pertemanan. Namun persoalannya adalah, ketika Anda tidak memiliki disiplin untuk menepati waktu yang sudah Anda tetapkan sendiri untuk menulis.
Misalnya Anda menetapkan waktu menulis antara pukul 19.00 hingga 20.00 di malam hari. Namun Anda terlalu lemah untuk menghadapi berbagai godaan chating, update status, undangan makan malam, ajakan nonton film, dan lain sebagainya. Semestinya Anda bisa mengatur waktu. Boleh saja chating, boleh saja update status, boleh saja jalan jalan kulineran, tapi bukan pada jam menulis yang sangat terbatas tersebut.
Bagaimana dengan Anda? Sudahkah terbangun habit menulis?
Bahan Bacaan
Philippa Lally, et.al., How are habits formed: Modelling habit formation in the real world, https://onlinelibrary.wiley.com, 16 Juli 2009
Hephzy Asaolu, Are These 12 Bad Writing Habits Stopping You From Being Successful? 29 Maret 2016, https://www.business2community.com