Kembali
Positive Writing

Menjaga Ketulusan Menulis

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Just as a good man forgets his deed the moment he has done it, a genuine writer forgets a work as soon as he has completed it and starts to think about the next one; if he thinks about his past work at all, he is more likely to remember its faults than its virtues. Fame often makes a writer vain, but seldom makes him proud” –W.H. Auden.

.

WH. Auden adalah penyair, pemenang penghargaan Pulitzer (1948) dan Profesor Puisi di Universitas Oxford. Ia banyak berbicara tentang ketulusan menulis.

“Seorang penulis selalu ditanya, ‘Untuk siapa Anda menulis?’ Pertanyaan yang konyol”, ujar Auden. Ini mengajak kita untuk menelisik ke dalam jiwa terdalam, untuk apa sebenarnya kita menulis.

“Saya bisa memberikan jawaban yang juga konyol. Kadang-kadang saya menemukan sebuah buku yang saya rasa ditulis khusus untuk saya dan hanya untuk saya,” ungkapnya.

“Seperti kekasih yang cemburu”, lanjut Auden, “Saya tidak ingin ada orang lain yang mendengarnya. Memiliki sejuta pembaca seperti itu, tidak menyadari keberadaan satu sama lain, untuk dibaca dengan penuh semangat dan tidak pernah dibicarakan, adalah impian setiap penulis”.

“Every writer would rather be rich than poor, but no genuine writer cares about popularity as such” –W.H. Auden. 

“Sama seperti orang yang baik melupakan perbuatannya begitu dia melakukannya, seorang penulis sejati melupakan sebuah karya segera setelah dia menyelesaikannya dan mulai memikirkan karya berikutnya. Jika terus memikirkan karya yang terdahulu, dia lebih mungkin untuk mengingat kekurangannya daripada kebaikannya”.

“Ketenaran sering membuat seorang penulis sombong, tetapi jarang membuatnya bangga” ujar Auden. “Setiap penulis lebih suka menjadi kaya daripada miskin, tetapi sesungguhnya tidak ada penulis sejati yang peduli popularitas”.

“Sincerity is like sleep. Normally, one should assume that, of course, one will be sincere, and not give the question a second thought. Most writers, however, suffer occasionally from bouts of insincerity as men do from bouts of insomnia” –W.H. Auden.

Ketulusan itu seperti tidur. Biasanya, seseorang harus berasumsi bahwa, tentu saja, seseorang akan tulus, dan tidak memikirkan pertanyaan itu lagi. Kebanyakan penulis, bagaimanapun, kadang-kadang menderita serangan ketidaktulusan seperti yang dialami seseorang karena serangan insomnia.

Ketulusan dalam arti kata yang tepat, yang berarti keaslian, seharusnya menjadi perhatian utama setiap penulis. Tidak ada penulis yang dapat menilai dengan tepat seberapa baik atau buruk hasil karyanya. Tetapi ia dapat mengetahui apakah hasil karya tulisnya adalah asli —dalam tulisan tangan— atau palsu.

“Sincerity in the proper sense of the word, meaning authenticity, is, however, or ought to be, a writer’s chief preoccupation. No writer can ever judge exactly how good or bad a work of his may be, but he can always know, not immediately perhaps, but certainly in a short while, whether something he has written is authentic — in his handwriting — or a forgery” –W.H. Auden.

Mari belajar menjadi penulis yang tulus. Mari menjaga ketulusan.

Bahan Bacaan

Eko Setiawan, Wystan Hugh Auden, https://www.merdeka.com, diakses 13 September 2021

Maria Popova, Auden on Writing, Originality, Self-Criticism, and How to Be a Good Reader, 10 Agustus 2016, https://www.brainpickings.org

Mayo Oshin, The Daily Routine of 20 Famous Writers (and How You Can Use Them to Succeed), 15 Agustus 2017, https://medium.com/

Ditulis oleh Cahyadi Takariawan

Dipublikasikan di Ruang Menulis. Kanal kreasi naskah, literasi, dan karya tulis terpilih.

Positive Writing

Menjaga Ketulusan Menulis

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Just as a good man forgets his deed the moment he has done it, a genuine writer forgets a work as soon as he has completed it and starts to think about the next one; if he thinks about his past work at all, he is more likely to remember its faults than its virtues. Fame often makes a writer vain, but seldom makes him proud” –W.H. Auden.

.

WH. Auden adalah penyair, pemenang penghargaan Pulitzer (1948) dan Profesor Puisi di Universitas Oxford. Ia banyak berbicara tentang ketulusan menulis.

“Seorang penulis selalu ditanya, ‘Untuk siapa Anda menulis?’ Pertanyaan yang konyol”, ujar Auden. Ini mengajak kita untuk menelisik ke dalam jiwa terdalam, untuk apa sebenarnya kita menulis.

“Saya bisa memberikan jawaban yang juga konyol. Kadang-kadang saya menemukan sebuah buku yang saya rasa ditulis khusus untuk saya dan hanya untuk saya,” ungkapnya.

“Seperti kekasih yang cemburu”, lanjut Auden, “Saya tidak ingin ada orang lain yang mendengarnya. Memiliki sejuta pembaca seperti itu, tidak menyadari keberadaan satu sama lain, untuk dibaca dengan penuh semangat dan tidak pernah dibicarakan, adalah impian setiap penulis”.

“Every writer would rather be rich than poor, but no genuine writer cares about popularity as such” –W.H. Auden. 

“Sama seperti orang yang baik melupakan perbuatannya begitu dia melakukannya, seorang penulis sejati melupakan sebuah karya segera setelah dia menyelesaikannya dan mulai memikirkan karya berikutnya. Jika terus memikirkan karya yang terdahulu, dia lebih mungkin untuk mengingat kekurangannya daripada kebaikannya”.

“Ketenaran sering membuat seorang penulis sombong, tetapi jarang membuatnya bangga” ujar Auden. “Setiap penulis lebih suka menjadi kaya daripada miskin, tetapi sesungguhnya tidak ada penulis sejati yang peduli popularitas”.

“Sincerity is like sleep. Normally, one should assume that, of course, one will be sincere, and not give the question a second thought. Most writers, however, suffer occasionally from bouts of insincerity as men do from bouts of insomnia” –W.H. Auden.

Ketulusan itu seperti tidur. Biasanya, seseorang harus berasumsi bahwa, tentu saja, seseorang akan tulus, dan tidak memikirkan pertanyaan itu lagi. Kebanyakan penulis, bagaimanapun, kadang-kadang menderita serangan ketidaktulusan seperti yang dialami seseorang karena serangan insomnia.

Ketulusan dalam arti kata yang tepat, yang berarti keaslian, seharusnya menjadi perhatian utama setiap penulis. Tidak ada penulis yang dapat menilai dengan tepat seberapa baik atau buruk hasil karyanya. Tetapi ia dapat mengetahui apakah hasil karya tulisnya adalah asli —dalam tulisan tangan— atau palsu.

“Sincerity in the proper sense of the word, meaning authenticity, is, however, or ought to be, a writer’s chief preoccupation. No writer can ever judge exactly how good or bad a work of his may be, but he can always know, not immediately perhaps, but certainly in a short while, whether something he has written is authentic — in his handwriting — or a forgery” –W.H. Auden.

Mari belajar menjadi penulis yang tulus. Mari menjaga ketulusan.

Bahan Bacaan

Eko Setiawan, Wystan Hugh Auden, https://www.merdeka.com, diakses 13 September 2021

Maria Popova, Auden on Writing, Originality, Self-Criticism, and How to Be a Good Reader, 10 Agustus 2016, https://www.brainpickings.org

Mayo Oshin, The Daily Routine of 20 Famous Writers (and How You Can Use Them to Succeed), 15 Agustus 2017, https://medium.com/

Ditulis oleh Cahyadi Takariawan

Dipublikasikan di Ruang Menulis. Kanal kreasi naskah, literasi, dan karya tulis terpilih.