Kembali
Positive Writing

Menjaga Spirit Menulis – 10

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“It’s great fun to be an author. I know that my books are out there representing me and people are enjoying them” –Virginia Jensen.

.

Salah satu kebahagiaan penulis adalah ketika menyaksikan bukunya sudah terbit dan beredar luas di tangan pembaca. Selalu ada spirit baru setelah selesai menulis dan menerbitkan buku. Kebahagiaan ini menjadi dorongan untuk menulis lagi, dan lagi. Maka sekali terbit buku, biasanya lebihmudah terbit buku-buku berikutnya.

Virginia Jensen, penulis buku spesialis bead stitching menyatakan, “Menyenangkan sekali menjadi seorang penulis. Saya tahu bahwa buku saya di luar sana mewakili saya dan orang-orang menikmatinya”. Jensen merasa bahwa dirinya telah diwakili oleh buku untuk hadir dan menyapa pembaca.

Setelah dibaca, beberapa orang akan memberikan umpan balik. Ada yang berupa pujian tulus, ada yang berbentuk ucapan terima kasih karena telah terinspirasi, namun ada pula yang memberikan masukan bahkan kritik pedas. Bagi Jensen, setiap feedback membuat dirinya semakin terpacu untuk berkarya lebih baik. “Setiap umpan balik adalah kesenangan. Ketika Anda dikritik, berarti seseorang telah membaca buku Anda”, ujar Jensen.

“Every bit of feedback is a pleasure. And even criticism means someone has read your book. Don’t be afraid to try. Failing is just a step to success. I try to ask myself as I’m proposing something new: What if I succeed?” –Virgina Jensen

Bagi Jensen, apabila ada penulis yang merasa gagal—misalnya naskah bukunya ditolak penerbit mayor, atau bukunya tidak direspon pasar, itu adalah langkah menuju kesuksesan. “Jangan takut untuk mencoba. Kegagalan hanyalah sebuah langkah menuju kesuksesan. Saya mencoba bertanya pada diri sendiri ketika saya melakukan sesuatu yang baru: Bagaimana jika saya berhasil?” ungkapnya.

Kesabaran dan Keuletan adalah Kunci Keberhasilan

“I would say patience and tenacity are key” –Allison Maruska.

Apa kunci keberhasilan menulis buku? “Saya ingin mengatakan bahwa kesabaran dan keuletan adalah kuncinya”, ujar Allison Maruska, penulis novel The Fourth Descendant. Menulis novel, menulis buku, atau menyusun bahan buku, benar-benar memerlukan kesabaran dan keuletan. Tidak bisa berpikir instan, sim salabim, sekali buka laptop langsug selesai.

Menulis buku nonfiksi dengan ketebalan 200 halaman, jelas memerlukan waktu berpekan bahkan berbulan-bulan. Apalagi untuk sebuah novel fantasi yang memerlukan imajinasi liar, dengan ketebalan di atas 300 halaman. Lebih memerlukan kesabaran lagi untuk menyelesaikan keperluan naskah 50.000 kata, guna menjadi sebuah novel.

Tak berlebihan jika Haruki Murakami menyebut, menyelesaikan penyulisan novel itu mirip dengan peristiwa survival di tengah hutan belantara. Memerlukan daya tahan untuk melaluinya, serta energi tinggi untuk menghadapinya. Jika tidak menyiapkan daya tahan yang bagus, akan mudah berjatuhan disepanjang perjalanan penulisan.

“Many are surprised how long it takes to get a coherent book completed, let alone the glacial pace of publishing and the non-stop need to feed the marketing beast. It won’t always be fun. But when it is, it’s the best.” –Allison Maruska.

 “Banyak yang terkejut betapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sebuah buku”, ujar Maruska. “Terlebih industri penerbitan yang sangat cepat dan kebutuhan tanpa henti untuk keperluan pemasaran. Hal-hal ini tidak akan selalu menyenangkan. Tetapi ketika itu terjadi, itu yang terbaik,” ungkap Maruska

Maka berbekal kesabaran dan keuletan, Allison Maruska mampu menghasilkan puluhan novel. Daya tahan untuk terus menerus menghasilkan kata demi kata, kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf. Sepekan, sebulan, bahkan kadang setahun. Seperti ibu mengandung, hingga bisa melahirkan dengan lancar tanpa sesar adalah kebahagiaan yang luar biasa.

Menemukan Makna Terdalam

“A certain voice nags inside my head: perhaps I should be doing better things with my time, get out of my house more, get a real job with steady money” –Carol Pratt Bradley.

Salah satu penguat spirit menulis adalah ketika kita sudah menemukan makna terdalam dari menulis. Jika kita belum menemukan makna menulis, kadang akan merasakan kesia-siaan –bahwa duduk berjam-jam hanya menghasilkan tulisan. Bukan uang cash. Buka popularitas yang segera.

Carol Pratt Bradley, penulis novel Fire of The World dan puluhan lainnya, menuturkan pengalaman spiritualnya dalam menulis. Kadang ada desakan dalam dirinya untuk melakukan hal-hal lain, seperti keluar rumah untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dengan uang yang pasti.

“Suara tertentu bergema di dalam kepala: mungkin aku harus melakukan hal-hal yang lebih baik dengan waktuku, lebih sering keluar rumah, mendapatkan pekerjaan nyata dengan uang tetap”, ujar Bradley. Ini seperti mempertanyakan manfaat menulis yang telah dia lakukan  selama ini. Bukankah ada sangat banyak pilihan kegiatan lain yang lebih menjanjikan dibandingkan menulis?

“But then I return to the realization that writing is not just a pursuit that I do only for myself. It is not inherently selfish. It is sharing how I see the world and human nature. It is developing empathy for others, and sensing what all people have in common across time and circumstances. It is my attempt to find the meaning of seemingly senseless things” –Carol Pratt Bradley.

Bradley segera berusaha mengembalikan kepada kakna terdalam dari aktivitas menulis. “Kemudian saya kembali pada kesadaran bahwa menulis bukan hanya sekedar pengejaran yang saya lakukan untuk diri saya sendiri. Menulis itu pada dasarnya tidak egois”, lanjut Bradley.

“Menulis adalah berbagi, bagaimana saya melihat dunia dan sifat manusia. Ini mengembangkan empati terhadap orang lain, dan merasakan kesamaan yang dimiliki semua orang sepanjang waktu dan keadaan. Ini adalah upaya saya untuk menemukan makna dari hal-hal yang tampaknya tidak masuk akal,” lanjut Bradley.

Dengan memiliki makna yang sangat penting dari menulis, spirit itu tetap menyala. Bagaimana dengan Anda?

Bahan Bacaan

Colleen M. Story, 24 Inspiring and Encouraging Quotes for Writers, https://writingandwellness.com, 17 Desember 2018

Ditulis oleh Cahyadi Takariawan

Dipublikasikan di Ruang Menulis. Kanal kreasi naskah, literasi, dan karya tulis terpilih.