Kembali
Positive Writing

Menjaga Spirit Menulis – 15 

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“If you put in the work, you’re a writer. If you make time to write, you’re a writer” –Mel Lee-Smith, 2017.

.

Menjadi penulis bukanlah hal yang sulit dan rumit. Tidak ada ketentuan atau peraturan baku yang bisa digunakan sebagai acuan, kapan seseorang disebut sebagai penulis. Berbeda dengan profesi dokter, psikolog, psikiater, akuntan, apoteker, dan lain sebagainya. Berbagai profesi tersebut mengharuskan persyaratan lulus kuliah S1 dan terakreditasi dari lembaga yang berwenang.

Untuk menjadi penulis, tidak ada lembaga yang berwenang melakukan akreditasi untuk memberikan penilaian lulus atau tidak lulus kepada seseorang “calon” penulis. Calon dokter harus lulus penilaian tim akreditasi agar bisa mendapat izin praktik sebagai dokter. Demikian pula profesi lainnya. Hal ini tidak berlaku untuk profesi menulis.

Hanya ada satu cara untuk menjadi penulis, yaitu dengan rutin menulis. Akreditasi dilakukan oleh pembaca –apakah pembaca menerima dan menyukai karya tulis seseorang atau tidak. Maka tidak ada istilah “calon” penulis, karena tidak ada yang akan memberikan pernyataan kelulusan. Semua dari kita adalah penulis, sepanjang kita rutin menulis.

Memenuhi Persyaratan Sebagai Penulis

“You don’t have to be published. You don’t have to study writing or language at university. You don’t have to be the next J.K. Rowling or Stephen King. Being a writer requires only one thing: actually writing” –Mel Lee-Smith, 2017.

Apa persyaratan untuk bisa disebut sebagai penulis? Secara formal, tidak ada persyaratan khusus yang dibuat oleh lembaga yang berwenang. Menurut MelLee-Smith, untuk bisa disebut sebagai penulis, tidak ada syarat bahwa tulisan Anda harus dipublikasikan.

Anda tidak harus belajar menulis atau kuliah bahasa di suatu universitas. Anda juga tidak harus menjadi sosok sekualitas J.K. Rowling atau Stephen King, untuk bisa disebut sebagai penulis. Menjadi penulis hanya membutuhkan satu hal: benar-benar menulis.

Tidak masalah apakah Anda menulis fiksi atau nonfiksi. Tidak masalah apakah Anda pernah mengikuti lomba menulis atau tidak pernah sama sekali. Tidak masalah apakah Anda pernah memenangkan lomba menulis atau tidak pernah menang.

Demikian pula, tidak masalah apakah Anda mendapat bayaran dari menulis atau tidak. Untuk disebut sebagai penulis, Anda tidak harus pernah mendapat sejumlah uang tertentu. Bahkan seandainya semua tulisan Anda bagi secara gratis melalui berbagai media. Anda tetap disebut sebagai penulis, meskipun tidak pernah mendapat bayaran sama sekali.

Tidak masalah apakah hasil tulisan Anda publikasikan melalui facebook, instagram, twitter, blog atau website. Bahkan seandainya tulisan itu tidak pernah Anda publikasikan di media manapun, namun Anda memiliki file dokumennya. Setiap selesai menulis, langsung Anda simpan di file.

Ketika Anda ditanya oleh teman, “Kamu menyebut diri sebagai penulis, mana bukti tulisanmu?” Dengan gagah Anda bisa menunjukkan dokumen naskah karya tulis yang Anda simpan di berbagai file. Laptop atau komputer sebagai saksi karya tulis yang Anda simpan di dalamnya.

Anda benar-benar telah menjadi penulis, saat Anda rutin menulis. Pembuktian bisa dilakukan dalam dua konteks. Pertama, kegiatan menulis yang Anda lakukan. Kedua, karya tulis yang Anda hasilkan. Keduanya adalah bukti bahwa Anda benar-benar seorang penulis.

Membangun Mental Sebagai Penulis

“So give yourself some credit. Drop the ‘aspiring’ from your writer identity, and use those extra characters in your Twitter bio to add a little more humanity to your profile. After all, potential clients (and fellow writers) like to see the real you” –Mel Lee-Smith, 2017.

Mengapa masih ragu untuk menyebut diri Anda sebagai penulis? Sepertinya ini masalah mentalitas. Bukan soal kualitas hasil tulisan. Bukan pula jumlah karya tulis yang pernah dihasilkan. Seseorang perlu memiliki mentalitas yang kuat untuk menyebut diri sebagai penulis.

“Berikan nilai untuk diri Anda sendiri. Singkirkan istilah ‘calon penulis’ dari identitas diri Anda. Tambahkan keterangan jatidiri Anda sebagai penulis di bio Twitter dan media sosial lain milik Anda”, demikian saran Lee-Smith. Tidak ada sesuatu pengakuan yang perlu Anda tunggu.

Katakan kepada diri sendiri dengan yakin, bahwa Anda adalah penulis. Buktikan dengan jalan menulis. Tunjukkan hasil tulisan Anda dengan publikasi melalui media sosial ataupun media massa. Anda bisa publikasi tulisan di grup whatsapp, telegram, facebook, instagram, twitter, blog, web. Anda juga bisa publikasi secara terbatas, hanya di satu grup whatsapp atau grup telegram tertentu.

Jika Anda tidak ingin publikasi, Anda bisa menyimpan semua karya tulis di laptop atau komputer. Supaya karya tulis Anda tidak hilang. Mungkin suatu saat nanti Anda tertarik untuk memublikasikannya. Semua karya tulis Anda yang tersimpan di file adalah portofolio bahwa Anda benar-benar seorang penulis, meskipun tidak pernah memublikasikan karya tulis di media apapun.

Meski Anda tidak publikasikan tulisan, Anda adalah penulis, selama Anda memiliki karya tulis. Disebut penulis, bukan karena publikasi tulisan, tapi karena menulis. Publikasi hanyalah cara untuk menunjukkan hasil dari proses menulis.

Yang penting adalah, hargai pilihan Anda sebagai penulis. Hilangkan mental sebagai ‘calon’ dalam diri Anda. Secara yakin Anda harus menyatakan, bahwa Anda adalah penulis, karena Anda telah benar-benar menulis. Anda benar-benar memiliki karya tulis.

“You don’t call someone who’s driving a car an “aspiring driver.” You don’t call someone painting a house an ‘aspiring painter’. And you don’t call a surgeon, even one performing his first surgery, an ‘aspiring surgeon’. You’re a writer. Drop the ‘aspiring’” –Cecil Adkins, 2019.

Menurut Cecil Adkins, Anda tidak akan menyebut seseorang yang mengendarai mobil sebagai ‘calon sopir’. Anda tidak menyebut seseorang yang mengecat rumah sebagai ‘calon tukang cat’. Anda tidak memanggil seseorang yang melakukan operasi pertamanya, sebagai ‘calon ahli bedah’. Jadi, Anda adalah seorang penulis. Hilangkan kata “calon.”

Bagaimana dengan Anda? Sudah siap menyebut diri sebagai penulis?

Bahan Bacaan

Cecil Adkins, Why You Need to Stop Calling Yourself an Aspiring Writer, www.medium.com, 7 November 2019

Mel Lee-Smith, Stop Calling Yourself an “Aspiring” Writer, https://www.melleesmith.com,  23 Juni 2017

Ditulis oleh Cahyadi Takariawan

Dipublikasikan di Ruang Menulis. Kanal kreasi naskah, literasi, dan karya tulis terpilih.

Positive Writing

Menjaga Spirit Menulis – 15 

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“If you put in the work, you’re a writer. If you make time to write, you’re a writer” –Mel Lee-Smith, 2017.

.

Menjadi penulis bukanlah hal yang sulit dan rumit. Tidak ada ketentuan atau peraturan baku yang bisa digunakan sebagai acuan, kapan seseorang disebut sebagai penulis. Berbeda dengan profesi dokter, psikolog, psikiater, akuntan, apoteker, dan lain sebagainya. Berbagai profesi tersebut mengharuskan persyaratan lulus kuliah S1 dan terakreditasi dari lembaga yang berwenang.

Untuk menjadi penulis, tidak ada lembaga yang berwenang melakukan akreditasi untuk memberikan penilaian lulus atau tidak lulus kepada seseorang “calon” penulis. Calon dokter harus lulus penilaian tim akreditasi agar bisa mendapat izin praktik sebagai dokter. Demikian pula profesi lainnya. Hal ini tidak berlaku untuk profesi menulis.

Hanya ada satu cara untuk menjadi penulis, yaitu dengan rutin menulis. Akreditasi dilakukan oleh pembaca –apakah pembaca menerima dan menyukai karya tulis seseorang atau tidak. Maka tidak ada istilah “calon” penulis, karena tidak ada yang akan memberikan pernyataan kelulusan. Semua dari kita adalah penulis, sepanjang kita rutin menulis.

Memenuhi Persyaratan Sebagai Penulis

“You don’t have to be published. You don’t have to study writing or language at university. You don’t have to be the next J.K. Rowling or Stephen King. Being a writer requires only one thing: actually writing” –Mel Lee-Smith, 2017.

Apa persyaratan untuk bisa disebut sebagai penulis? Secara formal, tidak ada persyaratan khusus yang dibuat oleh lembaga yang berwenang. Menurut MelLee-Smith, untuk bisa disebut sebagai penulis, tidak ada syarat bahwa tulisan Anda harus dipublikasikan.

Anda tidak harus belajar menulis atau kuliah bahasa di suatu universitas. Anda juga tidak harus menjadi sosok sekualitas J.K. Rowling atau Stephen King, untuk bisa disebut sebagai penulis. Menjadi penulis hanya membutuhkan satu hal: benar-benar menulis.

Tidak masalah apakah Anda menulis fiksi atau nonfiksi. Tidak masalah apakah Anda pernah mengikuti lomba menulis atau tidak pernah sama sekali. Tidak masalah apakah Anda pernah memenangkan lomba menulis atau tidak pernah menang.

Demikian pula, tidak masalah apakah Anda mendapat bayaran dari menulis atau tidak. Untuk disebut sebagai penulis, Anda tidak harus pernah mendapat sejumlah uang tertentu. Bahkan seandainya semua tulisan Anda bagi secara gratis melalui berbagai media. Anda tetap disebut sebagai penulis, meskipun tidak pernah mendapat bayaran sama sekali.

Tidak masalah apakah hasil tulisan Anda publikasikan melalui facebook, instagram, twitter, blog atau website. Bahkan seandainya tulisan itu tidak pernah Anda publikasikan di media manapun, namun Anda memiliki file dokumennya. Setiap selesai menulis, langsung Anda simpan di file.

Ketika Anda ditanya oleh teman, “Kamu menyebut diri sebagai penulis, mana bukti tulisanmu?” Dengan gagah Anda bisa menunjukkan dokumen naskah karya tulis yang Anda simpan di berbagai file. Laptop atau komputer sebagai saksi karya tulis yang Anda simpan di dalamnya.

Anda benar-benar telah menjadi penulis, saat Anda rutin menulis. Pembuktian bisa dilakukan dalam dua konteks. Pertama, kegiatan menulis yang Anda lakukan. Kedua, karya tulis yang Anda hasilkan. Keduanya adalah bukti bahwa Anda benar-benar seorang penulis.

Membangun Mental Sebagai Penulis

“So give yourself some credit. Drop the ‘aspiring’ from your writer identity, and use those extra characters in your Twitter bio to add a little more humanity to your profile. After all, potential clients (and fellow writers) like to see the real you” –Mel Lee-Smith, 2017.

Mengapa masih ragu untuk menyebut diri Anda sebagai penulis? Sepertinya ini masalah mentalitas. Bukan soal kualitas hasil tulisan. Bukan pula jumlah karya tulis yang pernah dihasilkan. Seseorang perlu memiliki mentalitas yang kuat untuk menyebut diri sebagai penulis.

“Berikan nilai untuk diri Anda sendiri. Singkirkan istilah ‘calon penulis’ dari identitas diri Anda. Tambahkan keterangan jatidiri Anda sebagai penulis di bio Twitter dan media sosial lain milik Anda”, demikian saran Lee-Smith. Tidak ada sesuatu pengakuan yang perlu Anda tunggu.

Katakan kepada diri sendiri dengan yakin, bahwa Anda adalah penulis. Buktikan dengan jalan menulis. Tunjukkan hasil tulisan Anda dengan publikasi melalui media sosial ataupun media massa. Anda bisa publikasi tulisan di grup whatsapp, telegram, facebook, instagram, twitter, blog, web. Anda juga bisa publikasi secara terbatas, hanya di satu grup whatsapp atau grup telegram tertentu.

Jika Anda tidak ingin publikasi, Anda bisa menyimpan semua karya tulis di laptop atau komputer. Supaya karya tulis Anda tidak hilang. Mungkin suatu saat nanti Anda tertarik untuk memublikasikannya. Semua karya tulis Anda yang tersimpan di file adalah portofolio bahwa Anda benar-benar seorang penulis, meskipun tidak pernah memublikasikan karya tulis di media apapun.

Meski Anda tidak publikasikan tulisan, Anda adalah penulis, selama Anda memiliki karya tulis. Disebut penulis, bukan karena publikasi tulisan, tapi karena menulis. Publikasi hanyalah cara untuk menunjukkan hasil dari proses menulis.

Yang penting adalah, hargai pilihan Anda sebagai penulis. Hilangkan mental sebagai ‘calon’ dalam diri Anda. Secara yakin Anda harus menyatakan, bahwa Anda adalah penulis, karena Anda telah benar-benar menulis. Anda benar-benar memiliki karya tulis.

“You don’t call someone who’s driving a car an “aspiring driver.” You don’t call someone painting a house an ‘aspiring painter’. And you don’t call a surgeon, even one performing his first surgery, an ‘aspiring surgeon’. You’re a writer. Drop the ‘aspiring’” –Cecil Adkins, 2019.

Menurut Cecil Adkins, Anda tidak akan menyebut seseorang yang mengendarai mobil sebagai ‘calon sopir’. Anda tidak menyebut seseorang yang mengecat rumah sebagai ‘calon tukang cat’. Anda tidak memanggil seseorang yang melakukan operasi pertamanya, sebagai ‘calon ahli bedah’. Jadi, Anda adalah seorang penulis. Hilangkan kata “calon.”

Bagaimana dengan Anda? Sudah siap menyebut diri sebagai penulis?

Bahan Bacaan

Cecil Adkins, Why You Need to Stop Calling Yourself an Aspiring Writer, www.medium.com, 7 November 2019

Mel Lee-Smith, Stop Calling Yourself an “Aspiring” Writer, https://www.melleesmith.com,  23 Juni 2017

Ditulis oleh Cahyadi Takariawan

Dipublikasikan di Ruang Menulis. Kanal kreasi naskah, literasi, dan karya tulis terpilih.