Kembali
Positive Writing

Menjaga Spirit Menulis – 20

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“I get up at 4:00 AM and write from 4:00 to 8:00 AM every morning. I’ve been doing for over 20 years. There are a whole bunch of reasons” –Steven Kotler.

.

Setiap penulis memiliki titik optimal masing-masing. Pada waktu dan kondisi seperti apakah mereka memiliki spirit menulis yang optimal? Jawaban setiap penulis bisa berbeda.

Ada penulis tipe ayam jago, yang muncul spirit menulis di waktu pagi hari. Sejuknya udara pagi, segarnya pikiran dan hati selepas tidur malam, membuat ide-ide mengalir lancar. Kondisi jiwa belum terkontaminasi oleh urusan-urusan lainnya. Fresh dan penuh tenaga.

“The earlier the better. Nobody is up. I’m creative. I don’t have the worries of the day infecting my thoughts and I am calm” –James Altucher.

James Altucher, blogger dan penulis Choose Yourself dan Reinvent Yourself menyatakan, “Lebih awal lebih baik. Saat itu tidak ada yang bangun. Saya menjadi kreatif”. Altucher merasakan spirit menulis yang optimal, jika ia melakukannya lebih awal dari orang lain.

“Saya tidak memiliki kekhawatiran hari itu menginfeksi pikiran saya dan saya tenang. Saya pikir beberapa orang menulis lebih baik di malam hari tetapi saya selalu berpikir bahwa inti dari ‘malam’ adalah bahwa orang-orang lelah (otak dan tubuh menjadi lelah) dan itulah sebabnya kita tidur,” ungkap Altucher.

“Tidur berfungsi untuk meremajakan otak. Jadi ketika saya sepenuhnya telah diremajakan, saya menulis,” lanjutnya. Ia membiasakan diri menulis pada awal hari, setelah bangun tidur. Altucher meyakini fungsi tidur untuk melakukan tugas peremajaan pada tubuh dan otak kita.

Bangun tidur adalah waktu yang segar, di mana tubuh dan otak telah diremajakan. Pada waktu itu, menulis menjadi sangat fresh dan bertenaga.

 “I think some people write better at night but I always sort of think the whole point of “night” is that people are tired (the brain and body become tired) and that’s why we sleep. To rejuvenate. So when I am fully rejuvenated, I write” –James Altucher.

Pengalaman serupa dimiliki oleh Steven Kotler. “Saya bangun pukul 4.00 pagi,” ujar Steven Kotler, penulis buku best seller versi New York Times. “Kemudian menulis dari pukul 4.00 sampai pukul 8.00 setiap pagi. Saya telah melakukannya selama lebih dari 20 tahun. Ada banyak alasan, mengapa saya lakukan itu,” lanjutnya.

Luar biasa konsistensi Kotler dalam menciptakan karya tulis. Waktu pagi, baginya menjadi anugerah luar biasa. Ia bisa mencurahkan pemikiran ke dalam tulisan selama 4 jam setiap pagi. Kebiasaan yang sudah dibangun dan dijalani selama 20 tahun. Sungguh keren kemampuannya membangun konsistensi.

“I don’t just open my eyes at 4:00 AM, I try to go from bed to desk before my brain even kicks out of its Alpha wave state. I don’t check any emails. I turn everything off at the end of the day including unplugging my phones and all that stuff so that the next morning there’s nobody jumping into my inbox or assaulting me emotionally with something, you know what I mean? So I really protect that early morning time” –Steven Kotler.

“Saya tidak sekedar membuka mata pada pukul 4.00 pagi, namun saya berusaha meninggalkan tempat tidur menuju meja menulis sebelum otak saya keluar dari keadaan gelombang alpha-nya”, ungkap Kotler. “Saya tidak memeriksa email apa pun”, ungkapnya.

Bagi seorang muslim, bangun lebih awal adalah hal yang dianjurkan. Misalnya pukul tiga sudah bangun untuk shalat malam, lalu dilanjutkan dzikir, istighfar dan doa. Masih ada waktu untuk menulis, hingga waktu Subuh sekitar pukul 04.30. Waktu sepertiga malam yang terakhir itu, sungguh sangat mengesankan.

Kebiasaan Kotler, yang bukan muslim, telah membuktikan suasana syahdu sepertiga malam yang terakhir itu. “Saya mematikan semua koneksi di akhir hari, termasuk mematikan ponsel, sehingga keesokan paginya tidak ada pesan yang masuk ke inbox pribadi saya atau menyerang saya secara emosional”, ungkap Kotler. “Anda tahu apa yang saya maksud? Saya benar-benar melindungi diri waktu pagi itu,” sambungnya.

Anda Tipe Burung Hantu?

“I’m a night owl through and through, and the wee hours are when I’m at my best” –Liana Maeby.

Pengalaman Liana Maeby, novelis dan penulis buku South on Highland, berbeda. Ia adalah penulis tipe burung hantu. Spirit menulisnya menjadi sangat optimal pada waktu malam hari.

“Saya adalah orang yang suka begadang, dan larut malam adalah saat saya dalam kondisi terbaik”, ujar Liana Maeby. “Saya perlu sendirian untuk menulis fiksi, karena saya adalah bunga yang rapuh. Semakin saya sendirian, semakin baik”, lanjutnya.

“Di tengah malam, tidak ada gangguan”, ungkap Maeby. “Saya bisa membawa diri saya ke tempat di mana saya merasa seperti satu-satunya orang di dunia yang saat ini sadar. Kondisi ini membebaskan saya untuk menjadi sedikit lebih rentan dan eksperimental,” sambungnya.

“I need to be alone to write fiction, for I am a fragile flower, and the more utterly alone I am, the better. In the middle of the night, there are no distractions. I can get myself to a place where I feel like I’m the only person in the world who’s currently conscious, and that frees me up to be a little more vulnerable and experimental” –Liana Maeby.

Tentu boleh saja Anda menulis di malam hari. Namun tetap harus memiliki batas, jangan sampai menghabiskan seluruh atau sebagian besar malam untuk menulis. Tubuh dan otak Anda perlu istirahat. Jika Anda tipe burung hantu, pilih waktu yang masih memungkinkan untuk menjaga keseimbangan tubuh Anda.

Bagaimana dengan Anda? Kapan spirit menulis Anda paling optimal?

Bahan Bacaan

Good Reads, Writing Inspiration Quotes, https://www.goodreads.com

Writing Routines, While Everyone Else Is Sleeping: 20 Famous Writers On When They Do Their Best Work, https://www.writingroutines.com

Ditulis oleh Cahyadi Takariawan

Dipublikasikan di Ruang Menulis. Kanal kreasi naskah, literasi, dan karya tulis terpilih.