.
Oleh : Cahyadi Takariawan
“No doubt, there are times when you need to buckle down. But there are also times when you need to stop what you are doing and tend to your wellbeing” –Elizabeth Haltom.
.
Bukan hanya para pemula, bahkan para penulis profesional sekalipun, mereka harus bekerja keras untuk menghasilkan karya terbaik. Haruki Murakami melakukan ritual yang sangat berat untuk bisa menciptakan karya terbaik. Ia tidak bersantai-santai dan bermalas-malasan, lalu –ajaib, sebuah novel best seller terbit! Tentu itu hanya mimpi kosong.
Yang terjadi adalah, Haruki Murakami bekerja keras untuk menyelesaikan sebuah novel. “Ketika saya tengah berada dalam mode menulis untuk sebuah novel”, ujar Murakami, “saya bangun jam empat pagi, kemudian menulis selama lima hingga enam jam”. Ini tentu memerlukan kesungguhan dan daya tahan yang luar biasa.
Namun, ia harus berusaha menjaga ritme keseimbangan dalam hidup, agar tetap menjaga kesehatan dan kebugaran. Menulis memerlukan tenaga dan konsentrasi yang prima, harus diimbangi dengan kegiatan olahraga dan rehat yang memadai.
“Pada sore hari”, lanjut Murakami, “saya berlari sejauh sepuluh kilometer atau berenang sejauh seribu lima ratus meter, atau melakukan keduanya”. Ini adalah sisi penjagaan fisik agar tetap prima. Sebab kerja keras menulis selama beberapa bulan tanpa diimbangi aktivitas fisik berupa olah raga, akan cepat membuat jenuh dan lelah.
Bukan saja olahraga, Murakami perlu mendapatkan kesegaran mental dengan membaca dan mendengarkan musik. “Setelah olah raga itu, saya membaca dan mendengarkan musik. Saya tidur jam sembilan malam”, lanjutnya.
Hal ini merupakan ritual refreshing intelektual dan emosional bagi dirinya. Selain fisik yang dijaga kebugarannya, ia juga menjaga kesegaran emosinya dengan mendengarkan musik, dan menjaga kesegaran intelektualnya dengan membaca. Ia juga terbiasa menikmati orange juice kesukaannya.
Murakami melakukan aktivitas berulang, hingga selesai penulisan novel. “Saya menjaga rutinitas ini setiap hari tanpa variasi. Pengulangan itu sendiri menjadi hal yang penting”, ujar Murakami. “Saya melatih diri sendiri untuk mencapai kondisi pikiran yang lebih dalam”.
Keseimbangan dalam kehidupan penulis menjadi hal yang sangat penting, agar tetap memiliki kesehatan dan kebugaran. Seperti yang diungkapkan oleh Elizabeth Haltom, “Tidak diragukan lagi, ada kalanya Anda perlu bekerja keras. Tetapi ada juga saat-saat ketika Anda perlu menghentikan apa yang sedang Anda lakukan dan menjaga kesehatan Anda.”
Terus Menulis Hingga Mencapai Kualitas Terbaik
“There will be times when you hate what you’re writing and are convinced it’s garbage. Don’t delete it—just keep writing. Later, when the doubt fades a little and you read what you’ve written, you’ll realize it’s not so bad after all” –Melanie Hooyenga.
Kerja keras para penulis lebih terasa lagi ketika mereka telah mengalokasikan waktu sangat panjang untuk menghasilkan karya, namun seteleh selesai ditulis, hasilnya sangat jauh dari harapan. Kualitas karya tulisnya mengecewakan. Terkadang penulis merasa berkecil hati dan berputus asa saat menghadapi suasana dilematis –antara membuang karya tulisnya, atau tetap menerbitkannya.
“Akan ada saat-saat ketika Anda membenci apa yang Anda tulis dan yakin bahwa itu adalah sampah. Jangan hapus, teruslah menulis. Kemudian, ketika keraguan sedikit memudar dan Anda membaca apa yang Anda tulis, Anda akan menyadari bahwa itu tidak terlalu buruk,” ujar Melanie Hooyenga.
Jangan memutuskan untuk berhenti menulis saat merasakan kekecewaan atas hasil karya tulis Anda. Terkadang, sebuah karya berkualitas memerlukan “tumbal” sangat banyak tulisan lain yang Anda lahirkan sebagai pendahuluan. Anda akan mencapai karya masterpiece saat telah menghasilkan sangat banyak karya ‘gagal’ lainnya. Maka daya tahan dalam menulis harus dibuktikan dengan terus menulis meskipun kualitas hasilnya belum sesuai harapan.
Terlebih ketika Anda menargetkan untuk menghasilkan karya terbaik, berbagai aktivitas harus rela Anda lakukan. Tenaga Anda akan tercurah lebih besar, tenaga Anda akan terkuras lebih banyak. Anda merasa lelah oleh curahan energi untuk menghasilkan karya terbaik, hingga merasakan kelelahan yang amat sangat. Tidur Anda dalam situasi yang membawa kelelahan kerja. Namun ini bisa dinikmati.
Jamie Jo Hoang mengingatkan, “Jika ingin menulis dengan serius, Anda tidak boleh kecewa dengan banyaknya tindakan dan betapa lelahnya Anda saat tertidur. Nikmatilah sebagai bagian dari perjalanan dan jika mampu bertahan dalam waktu lama lama, Anda akan menemukan keseimbangan.”
“If you’re going to take writing seriously, you can’t be upset about how much work it is and how exhausted you are by the time you fall asleep. Embrace it as part of the journey and eventually, if you stick with it long enough you’ll find your equilibrium” –Jamie Jo Hoang.
Semua juara pernah menempuh nmasa panjang dalam berjuang. Kita mengetahui tak ada jalan pintas untuk menciptakan karya berkualitas. Setiap karya terbaik, menuntut tenaga, pikiran, waktu dan kesungguhan terbaik pula. Ini menjadi sepadan. Sikap mental kuat menghadapi berbagai dinamika perjalanan mencapai sukses, menjadi jaminan untuk melahirkan karya berkualitas.
Bagaimana dengan Anda? Siap berlelah-lelah? Siap terus menulis? Insyaallah Anda adalah juara.
Bahan Bacaan
Colleen M. Story, 30 Quotes to Boost a Writer’s Spirit, https://writingandwellness.com, 26 Desember 2016
James Clear, The Daily Routines of 12 Famous Writers, www.jamesclear.com