.
Oleh : Cahyadi Takariawan
“If a new writer was curious about the obstacles they’d face, I’d say the first one is the writing. You have to enjoy writing, editing and re-writing. They’re all part of the process. There’s really no getting around that one” JP. McClean
.
Dalam semua aktivitas hidup yang produktif, salah satu tantangan yang harus dihadapi adalah kesediaan untuk menjalani kesulitan. Tidak ada yang mudah dan langsung jadi, semua hal memerlukan kesabaran dan kedisiplinan diri. Mudah itu adalah jika sudah “menjadi”, namun sebelum sampai tingkat itu, harus rela menjalani protokol pembelajaran.
Di antara protokol pembelajaran adalah menembus kesulitan, dan mengatasi kebosanan. Ketika seseorang mencoba hal baru, saat merasakan sulit, mudah mengalami kebosanan. Akhirnya ia meninggalkan hal yang sedang dipelajarinya itu. “Ternyata menulis itu sulit”, lalu ia mulai belajar melukis. Saat mulai belajar melukis, iapun menemukan kesulitan. “Ternyata melukis itu sulit”, lalu ia mulai belajar memahat.
Padahal akan selamanya begitu. Belajar dan melakukan hal baru, akan menemukan kesulitan. Jika tidak memiliki kesabaran dan keuletan, akan mudah terserang rasa bosan lalu ditinggalkan. Padahal saat mampu menembus kesulitan, ia akan mulai menemukan titik-titik kemudahan. Hingga level tertentu, ia mulai mahir menulis. Di saat itulah ia bisa merasakan, “Menulis itu mudah. Bahkan semudah bernapas”.
JP. McClean, penulis novel Hidden Enemy dan puluhan lainnya menyatakan, “Jika seorang penulis baru penasaran dengan kendala yang akan mereka hadapi, saya akan mengatakan yang pertama adalah menulis itu sendiri. Anda harus menikmati menulis, mengedit, dan menulis ulang. Itu semua adalah bagian dari proses. Benar-benar tidak ada cara untuk menghindarinya”.
Tak Membangun Harapan Berlebihan
“I try to keep in mind that not everyone is going to “get” what I write, even and especially close friends who feel that they know me well. Thus, I’ve learned to keep the writing part of my life separate from friends and family (unless they ask, of course).” –JT. Twissel.
Hal yang menguatkan daya tahan menulis adalah harapan yang realistis. Membayangkan bahwa setelah menulis akan segera kaya raya; setelah menulis segera terkenal; setelah menulis segera banyak fans; buku perdana langsung best seller; setelah menulis semua orang mendapat pencerahan dari tulisannya; dan harapan-harapan bombastis lain yang semacam itu.
Memiliki harapan ideal tentu boleh dan sah saja, namun harus disesuaikan dengan kemampuan diri. Jika harapan tidak realistis, akan mudah mengalami kekecewaan. Ternyata buku perdana jeblok di pasaran, ternyata tidak segera mendapatkan uang seperti yang dibayangkan, ternyata bukunya tak diakses toko buku berjaringan nasional, dan realitas lain. Terasa sangat mengecewakan, dan bisa membuat patah semangat.
Bangunlah harapan yang realistis sebagai pembelajar. Bahwa mampu menulis dengan lancar, mampu menyampaikan pesan-pesan kebaikan melalui tulisan, adalah sebuah anugrah. Tak harus jutaan atau ribuan orang yang mendapat manfaat, jika ada satu dua orang merasa mendapat sentuhan dari buku kita, itu sudah keberhasilan luar biasa.
JT. Twissel, penulis buku The Graduation Present menyatakan, “Saya mencoba untuk mengingat bahwa tidak semua orang akan “mendapatkan” apa yang saya tulis, bahkan dan terutama teman dekat yang merasa bahwa mereka mengenal saya dengan baik. Jadi, saya telah belajar untuk menjaga menulis bagian dari hidup saya –terpisah dari teman dan keluarga”.
Dengan membangun harapan yang realistis, akan lebih mudah bagi kita untuk menjaga spirit menulis. Tidak mudah kecewa, tidak mudah putus asa. Proses menulis bisa kita nikmati dengan enjoy.
Menjaga Kedisplinan Menulis
“Almost everyone you meet has a book in them. They have all of the ideas and they know just what they want to write and when you ask why they haven’t yet, you get a barrage of excuses. The true reason is that it’s just plain hard to gather not only the motivation to start, but the discipline to finish” –Jean Nicole Rivers.
Motivasi dan niat menulis memang penting. Namun menjaga motivasi tersebut dalam bentuk kedisiplinan lebih penting lagi. Semangat di awalpembelajaran, tidak menjamin seseorang akan konsisten dan disiplin menulis. Padahal, disiplin menulis setiap hari justru kunci keberhasilan dalam pembelajaran.
Jika Anda mampu menjaga ritme rutinitas menulis harian, maka Anda akan cepat sampai kepada derajat mahir. Kemahiran menulis tidak semata hasil mengikuti kelas pembelajaran; namun justru lebih banyak ditentukan oleh praktik rutin setiap hari. Pertahankan ritme rutin menulis Anda di setiap hari, dijamin otot-otot kreativitas Anda tumbuh kembang dengan pesat.
Jean Nicole Rivers, penulis buku Black Water Tales menyatakan, “Hampir setiap orang yang Anda temui memiliki buku. Mereka memiliki semua ide dan mereka tahu persis apa yang ingin mereka tulis; dan ketika Anda bertanya mengapa mereka belum melakukannya, Anda mendapatkan banyak alasan. Alasan sebenarnya adalah sulit untuk mengumpulkan tidak hanya motivasi untuk memulai, tetapi juga disiplin untuk menyelesaikannya.”
“I suppose my mantra is, I can only do what I can do, and I’ll get there when I get there” –Marcy Hatch.
Hal sama dinyatakan oleh Marcy Hatch, penulis buku west Paradise, “Saya kira mantra saya adalah, saya hanya bisa melakukan apa yang bisa saya lakukan, dan saya akan sampai di sana ketika saya mengusahakannya.” Sebuah harapan yang realistis, disertai dengan kedisplinan untuk mencapai harapan.
Anda pasti akan mendapatkan. Selamat menulis.
Bahan Bacaan
Colleen M. Story, 30 Quotes to Boost a Writer’s Spirit, https://writingandwellness.com, 26 Desember 2016