.
Oleh : Cahyadi Takariawan
“However, if you study successful writers, you will discover that one of their most defining characteristics is that they have all failed, sometimes multiple times” –Laura Tong.
.
Pada banyak kalangan penulis, terlebih para pemula yang sedang belajar, kegagalan terasa menyakitkan. Dampaknya bisa memalukan, melemahkan bahkan mematikan semangat menulis. Semula bersemangat untuk belajar dan berlatih menulis. Setelah merasa gagal, mereka memutuskan untuk berhenti menulis.
Laura Tong, kontributor pada situs Write to Done menyatakan, “Kita semua pernah merasa gagal pada satu titik tertentu dalam hidup kita. Rasa sakit yang ditimbulkannya cukup untuk membuat kita berhenti mencoba menjadi penulis lagi”. Menurut Tong, kegagalan dalam menulis adalah rem yang menghentikan spirit menghasilkan karya tulis.
Laura Tong mengingatkan, “Jika Anda mempelajari penulis sukses, Anda akan menemukan bahwa salah satu ciri yang melekat pada mereka adalah, bahwa semua telah mengalami kegagalan, terkadang sampai beberapa kali”. Jadi, gagal adalah hal wajar saja dalam kehidupan manusia. Masalahnya adalah bagaimana kita menyikapi kegagalan.
“However, if you study successful writers, you will discover that one of their most defining characteristics is that they have all failed, sometimes multiple times: failed to finish novels, failed to get them published (assuming they did finish them), failed to make a living writing and even failed to carry on writing” –Laura Tong.
Para penulis sukses pernah mengalami kegagalan. “Mungkin gagal menyelesaikan novel, gagal menerbitkan ketika mereka telah menyelesaikan naskah, gagal membuat tulisan yang hidup, dan bahkan gagal untuk melanjutkan menulis”, ujar Tong. Sangat banyak jenis kegagalan yang pernah dialami oleh para penulis sukses.
Para penulis sukses telah mampu memaknai kegegalan, dan bersikap tepat ketika mengalaminya. Mereka tidak terpuruk, bahkan menjadikan gagal sebagi pemantik untuk melahirkan karya besar. Inilah bedanya penulis sukses dan penulis gagal.
“Those writers who succeed understand that to stop feeling like a failure and dare again, you need to re-examine your idea of what failure as a writer actually is and what it means to you” –Laura Tong.
Para penulis sukses, adalah mereka yang mampu melewati fase kegagalan. Mereka menolak untuk merasa gagal. Mereka memang menemukan kegagalan, namun melihat kegagalan dalam perspektif yang berbeda. Tidak malu, tidak mudah kecewa, tidak putus asa dan tidak menyerah saar dilanda kegagalan.
Kegagalan Bukan Musuh Pribadi Anda
“When you fail, you need to know that it isn’t personal. Failure doesn’t wake up eager to single you out as its victim. So stop taking a fail as a personal attack on you and your writing goals” –Laura Tong.
Menurut Laura Tong, ketika gagal, Anda perlu tahu bahwa itu bukan masalah pribadi. “Kegagalan tidak hadir dengan keinginan untuk memilih Anda sebagai korbannya”, ujar Tong. Jadi jangan merasa seakan-akan Anda adalah mangsa yang akan selalu menjadi korban.
Semua penulis pernah gagal. “Maka berhentilah menganggap kegagalan sebagai serangan terhadap pribadi Anda dan tujuan penulisan Anda”, lanjut Tong. Jangan sentimentil dengan kegagalan. Namun bersikap tepatlah menghadapi kegagalan.
Menurut Tong, jika Anda memperlakukan kegagalan sebagai musuh, secara signifikan akan menambah lebih banyak stres dan konflik dalam proses kreatif menciptakan karya tulis. Anda membutuhkan pemikiran yang jernih untuk mengumpulkan kembali energi yang telah sempat hilang, dan merencanakan ulang tulisan Anda.
“Jangan membuang energi untuk memikirkan bagaimana Anda merasa babak belur dari pukulan musuh imajiner”, ujar Tong. Lebih baik Anda gunakan energi untuk menyusun ulang rencana tulisan, mengumpulkan bahan, memulai menulis bagian demi bagian. Naskah yang sudah ribuan kata bisa saja Anda tinggalkan, karena Anda anggap tidak sesuai dengan maksud semula. Itu bukan kegagalan.
“Jadikan kegagalan sebagai teman dan sebagai editor yang jujur”, ungkap Tong. Sebab, “Teman dan editor akan bersedia memberi tahu keadaan sebenarnya sehingga Anda dapat melanjutkan menulis,” lanjut Tong. Sikap positif terhadap kegagalan membuat Anda tidak terpuruk dalam perasaan gagal yang melemahkan.
“Realize that failure can be your greatest friend and most powerful editor – listen up and take note!” –Laura Tong.
Jika Anda gagal menyelesaikan sebuah cerpen, kegagalan ini adalah teman sekaligus editor. Justru karena Anda gagal menulis cerpen, Anda menjadi tahu di mana kesulitan yang Anda hadapi. Anda juga menjadi tahu sisi mana yang harus diperbaiki. Maka Anda bisa menulis ulang cerpen tersebut. Anggap saja cerpen yang sudah Anda tulis pada kesempatan pertama itu sebagai –istilah Ernest Hemingway, omong kosong belaka.
Saat menulis ulang cerita yang sama, Anda sudah lebih piawai dalam menyusun alur konflik hingga membangun ending yang mengesankan. Kegagalan menulis pada kali pertama, adalah harga pembelajaran bagi Anda untuk mendapatkan karya tulis yang lebih baik setelahnya.
Kegagalan dalam menulis bisa menjadi petunjuk bagi Anda, pada bagian mana Anda perlu melakukan perubahan. Bisa jadi perlu mengubah satu chapter atau bagian tertentu.Bisa jadi perlu mengubah sistematika outline. “Atau mungkin bahkan harus meninggalkan ide sama sekali, dan memulai menulis dari awal”, ungkap Tong.
“It hurts to have to start again and re-write the whole thing but if you want to be a successful writer, that’s what successful writers do” –Laura Tong.
“Jadikan setiap kemunduran sebagai umpan balik yang berharga, konstruktif, dan bermaksud baik”, ungkap Tong. Anda tidak perlu menyesalinya. Belajar terkadang harus rela babak belur terlebih dahulu. Seperti belajar baik sepeda, wajar saja jika harus jatuh dan terluka.
“Memang menyakitkan untuk memulai lagi dan menulis ulang semuanya dari awal,” ujar Tong. “Namun jika Anda ingin menjadi penulis sukses, cara seperti itulah yang dilakukan oleh mereka yang telah sukses”, lanjutnya.
“Ingat, kegagalan bisa menjadi teman terbaik dan editor paling kuat”, pungkas Tong. Bagaimana dengan Anda?
Bahan Bacaan
Laura Tong, 10 Ways To Stop Feeling Like A Failure As A Writer, https://writetodone.com, diakses 19 Mei 2022