Kembali
Motivasi Menulis

Menolak Merasa Gagal – 4

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Describing yourself by derogatory, disdainful, or disparaging terms will sabotage your every creative effort. Thinking of yourself as a failed author, screenwriter, poet or blogger will ensure that success eludes you, no matter how hard you try” –Laura Tong.

.

Pada suatu ketika, Anda berlatih menulis artikel. Susah payah Anda menyelesaikannya. Setelah sepekan, artikel itupun selesai Anda tulis. Kemudian Anda kirimkan ke redaksi koran harian di daerah Anda. Sepekan kemudian Anda mendapat jawaban email dari redaksi,bahwa tulisan Anda belum bisa dimuat di koran tersebut.

Anda berpikir, “Aku tidak berbakat menulis artikel”. Selanjutnya Anda mencoba menulis cerpen. Susah payah Anda menyusun cerita, membuat plot dan konflik. Setelah dua pekan, cerpen pertama Anda pun selesai ditulis. Segera Anda kirim ke redaksi koran lokal. Sepekan kemudian, jawaban redaksipun Anda terima lagi, dengan isi yang sama. Bahwa cerpen Anda belum bisa diterima.

Tidak mau berputus asa, Anda segera menulis puisi. Beberapa puisi selesai Anda buat dalam tiga hari. Langsung Anda kirim ke koran lokal. Lagi-lagi, jawaban redaksi sangat mengejutkan. ”Mohon maaf puisi Anda belum bisa kami tayangkan di koran kami”. Anda merasa lemas, karena mengalami penolakan bertubi-tubi.

Anda merasa gagal sebagai penulis. Anda mengatakan, “Terbukti, aku tidak berbakat menjadi penulis”. Sejak hari itu Anda berhenti menulis. Anda memilih melakukan aktivitas yang lain.

Kegagalan Bukan Akhir Karier Menulis

“Publishers failed dozens to hundreds of times to recognize great works – Dune, Carrie, Zen and the Art of Motorcycle Maintenance, Dubliners, Chicken Soup For The Soul – many were rejected time and time again” –Laura Tong.

Berapa banyak penulis yang harus mengalami penolakan media, sebelum akhirnya mereka menjadi penulis sukses. Dr. Sumardi, M.Sc., dosen Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta (UNJ), menceritakan, dulu ketika masih kuliah di UGM, mengirimkan artikel ke berbagai media massa cetak nasional, dan selalu ditolak. Setelah mengirimkan lebih dari 30 artikel, akhirnya sebuah artikel dimuat di koran Sinar Harapan.

Victor Zebua, saat masih kuliah di Fakultas Kedokteran UGM, menulis 22 artikel yang dikirimkan ke harian Kompas. Semuanya ditolak. Ia tidak putus asa. Ketika mengirim artikel yang ke-23, akhirnya berhasil dimuat di halaman Kompas. Sejak itu ia semakin aktif menulis dan eksis di berbagai media.

Joni Ariadinata ketika kuliah di IKIP Muhammadiyah Yogyakarta sering mengirimkan cerpen-cerpennya ke berbagai majalah dan Koran. Semua cerpennya ditolak majalah dan koran. Tak ada yang mau memuatnya. Akan tetapi, ia tetap mengirimkan cerpen-cerrpennya, meskipun tetap ditolak.

Hingga suatu ketika, cerpennya berjudul “Lampor” berhasil dimuat di harian Kompas. Bahkan setahun kemudian, cerpennya tersebut terpilih sebagai cerpen terbaik harian Kompas. Sejak itu ia semakin produktif menulis di berbagai media.

“Imagine if these authors had thought of themselves as failures and given up? Imagine all those works lost to the world! Every failure brings the opportunity for you to decide that the act of failing won’t define who you are” –Laura Tong.

Menurut Laura Tong, ada sangat banyak penerbit yang gagal puluhan hingga ratusan kali untuk mengenali karya-karya hebat dunia. Buku Dune, Carrie, Zen and the Art of Motorcycle Maintenance, Dubliners, Chicken Soup For The Soul, Harry Potter, dan masih banyak buku mendunia, yang ditolak berkali-kali oleh penerbit.

“Bayangkan jika para penulis ini menganggap diri mereka gagal dan menyerah? Bayangkan semua karya itu hilang dari dunia!”, ujar Laura Tong. Banyak karya besar dunia yang pernah ditolak berkali-kali oleh penerbit. Padahal setelah terbit, terbukti menjadi best seller dunia.

Jadi, gagal itu biasa saja. Ditolak penerbit atau koran, juga wajar saja. Tetapi jangan terlalu dalam merasakan kegagalan. Yakinlah bahwa gagal bukan akhir dari perjalanan karier menulis Anda. Kegagalan menulis, membuat Anda menjadi mengerti hal apa yang harus Anda pelajari. Anda akan belajar, dan menjadikan kegagalan atau penolakan sebagai pelajaran berharga.

Anda Sendiri yang Harus Membangun Kesuksesan Menulis

“You alone have the power to craft your self-image. The labels you define yourself by steer your every thought and decision. So you must choose only those that will serve you” –Laura Tong.

Apakah jika pernah mengalami kegagalan, akan membuat citra diri Anda sebagai penulis menjadi tercoreng? Tentu saja tidak. Menurut Tong, Anda harus berhenti berpikir bahwa kegagalan akan menghancurkan citra diri Anda sebagai seorang penulis

“Anda sendiri yang harus memiliki kekuatan untuk membangun citra diri”, ungkap Tong. Sebut diri Anda tidak dengan label kegagalan. Bangun citra positif untuk diri anda sendiri. Jika Anda menyebut diri sendiri sebagai pembelajar atau pejuang, akan mebangun mental untuk terus belajar dan berjuang.

Namun jika Anda melabeli diri dengan pecundang atau gagal, maka citra diri akan terbangun sesuai dengan label yang Anda izinkan. “Potret diri yang Anda gantung di pikiran, akan membingkai seberapa sukses Anda nantinya”, ungkap Tong optimis.

Menurut Tong, jika Anda menggambarkan diri dengan istilah yang menghina, melecehkan, atau merendahkan, akan memblokir setiap upaya kreatif Anda. “Memikirkan diri Anda sebagai penulis buku, penulis skenario, penyair, atau blogger yang gagal akan memastikan bahwa kesuksesan semakin menghindari Anda, tidak peduli seberapa keras Anda mencoba”, ujar Tong.

“Focus on pouring your very essence into each and every word. Picture your message hitting your readers between the eyes as if they were wearing 3D glasses. Believe, like all the great writers, that you are a writer who fails, but isn’t a failure” –Laura Tong.

Hindari label-label negatif itu dalam diri Anda, agar tidak menghalangi proses kreatif yang Anda bisa lakukan. “Sadarilah bahwa kegagalan hanyalah sebuah peristiwa, bukan seseorang”, ungkap Tong. “Jika Anda tengah gagal, bukan berarti bahwa Anda tidak berusaha, atau pasti ada sesuatu yang salah dengan Anda, atau bahwa Anda ditakdirkan untuk gagal dalam hidup. Bukan berarti bahwa Anda tidak akan dapat berhasil di lain waktu”, sambung Tong.

Daripada mengutuki kegagalan, fokus saja pada usaha menuangkan ide-ide Anda ke dalam tulisan. “Bayangkan pesan Anda sampai kepada pembaca, seolah-olah mereka tengah mengenakan kacamata 3D”, ungkap Tong. “Percayalah, seperti semua penulis hebat, bahwa Anda adalah seorang penulis yang pernah gagal, tetapi itu bukan kesalahan”, imbuh Tong.

Bagaimana dengan Anda? Siap menghadapi kegagalan sebagai latihan yang mengesankan? Ayuk menulis.

Bahan Bacaan

Laura Tong, 10 Ways To Stop Feeling Like A Failure As A Writer, https://writetodone.com, diakses 19 Mei 2022

Ditulis oleh Cahyadi Takariawan

Dipublikasikan di Ruang Menulis. Kanal kreasi naskah, literasi, dan karya tulis terpilih.