Kembali
Habit Menulis

Menulis dengan Teknik “Pomodoro” (2)

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“These days, I use the Pomodoro Technique for creative work early in the morning when I’m fresh and want to write fast. When I start a 25-minute Pomodoro session, I know I can’t check email, social media, or the news. It’s like brain training” –Bryan Collins.

.

Teknik Pomodoro yang dikemukakan Francesco Cirillo pada dasarnya adalah sebuah manajemen waktu berkegiatan. Dalam proses menulis, satu sesi adalah 25 menit. Ambil jeda 5 menit, kemudian meneruskan sesi kedua 25 menit, dan begitu seterusnya sesuai kemampuan.

Teknik ini bisa berlaku untuk berbagai macam kegiatan hidup. Selain untuk menulis, Anda juga bisa menggunakan teknik Pomodoro untuk sesi mengedit buku. Saat Anda telah menyelesaikan penulisan naskah buku, berlanjut ke sesi penyuntingan. Anda bisa menyunting dalam sesi 25 menit, disela istirahat 5 menit, kemudian lanjut ke sesi kedua dan seterusnya.

Eksperimen Menulis dengan Pomodoro

“I wear noise-canceling headphones and listen to ambient music on repeat during a session” –Bryan Collins.

Sudah banyak penulis yang merasa nyaman dan produktif ketika menggunakan teknik ini. Mereka menganggap teknik Pomodoro membuat satuan waktu menjadi lebih fokus dalam menyelesaikan tulisan. Salah satunya adalah Bryan Collins, seorang bloger produktif dan penulis buku.

Collins menceritakan pengalamannya. “Saat ini, saya menggunakan Teknik Pomodoro untuk menulis kreatif di pagi hari ketika saya sedang segar dan ingin menyelesaikan naskah dengan cepat”. Collins merasakan kondisi yang optimal setiap sesi menulis, karena tidak terforsir dalam masa yang panjang.

Collins juga merasa bisa lebih produktif menulis dalam setiap sesi karena tetap fokus menulis sampai waktu berakhir. ”Ketika saya memulai sesi Pomodoro 25 menit, saya tahu tidak boleh memeriksa email, media sosial, atau berita. Ini seperti pelatihan otak”, ujarnya. Ia tidak mau terganggu selama sesi menulis berlangsung.

Agar lebih fokus dan produktif selama sesi Pomodoro, Collins harus menonaktifkan akses internet. Ia juga menggunakan berbagai aplikasi seperti Be Focused Pro, aplikasi Freedom dan RescueTime untuk memastikan mampu menulis dengan terfokus. Semaksimal mungkin ia berusaha menghilangkan distraksi, sehingga bisa menulis secara optimal.

“You don’t need to stack four Pomodoro sessions on top of each other like the technique prescribes, although it helps. One or two Pomodoro sessions a day sets a tone whereby you feel more focused and creative, even if you’re not up against a self-imposed timer” –Bryan Collins.

Tidak cukup hanya dengan mematikan koneksi internet dan menggunakan aplikasi. “Saya memakai headphone peredam bising dan mendengarkan musik secara berulang selama sesi Pomodoro”, ujar Collins. Benar-benar tindakan terencana dan sadar untuk menciptakan kondisi serta lingkungan menulis terbaik.

“Yang Anda perlukan hanyalah timer, pena, dan notepad untuk sesi Pomodoro”, lanjutnya. “Jangan lupa istirahat pendek itu”, ungkap Collins. Tanpa jeda, maka Anda tidak sedang menerapkan teknik Pomodoro.

Mengubah Satuan Waktu Sesuai Situasi dan Kondisi

“If 25 minutes feels too long, try 15 or a random amount of time, like 18 minutes. Remember, the goal is to cultivate blocks of focused, creative work” –Bryan Collins.

Apakah teknik Pomodoro harus dijalankan secara saklek sesuai dengan satuan waktu pencetusnya? Collins merasa tidak cukup dengan 25 menit. ”Saya meningkatkan sesi Pomodoro menjadi 30 menit, karena saya lebih suka angka bulat. Beberapa advokat membidik blok kerja terfokus selama 60 menit”, ujar Collins.

Menurut Collins, Anda juga bisa mengubah satuan waktu sesuai kondisi dan situasi yang Anda hadapi. Bisa jadi, Anda menganggap 25 menit adalah waktu yang terlalu lama. “Jika 25 menit terasa terlalu lama, cobalah 15, atau 18 menit. Ingat, tujuannya adalah untuk memupuk blok-blok pekerjaan yang terfokus dan kreatif”, sambung Collins.

Dari segi satuan waktu, Anda boleh memilih sesuai kesanggupan. Sebab jika Monica Leonelle menerapkan cukup hanya 8 menit setiap sesi, maka 25 menit artinya tiga kalilipat sesi Leonelle. Ini tidak semua orang akan sanggup. Apalagi jika harus menjalankan 4 sesi Pomodoro dengan tiga kali jeda 5 menit, terasa lebih berat lagi.

“I increased my Pomodoro sessions to 30 minutes, as I prefer a round number. Some advocates aim for 60-minute blocks of focused work” –Bryan Collins.

Anda tidak perlu menjalankan empat sesi Pomodoro secara berturutan seperti yang ditentukan oleh teknik ini. Satu atau dua sesi Pomodoro setiap hari sudah mampu menciptakan kebiasaan menulis Anda yang lebih fokus dan kreatif. Semua harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi masing-masing.

Menurut saya, sesi 8 menit Leonelle cocok untuk Anda yang baru belajar menulis, agar tidak terasa memberatkan. Sedangkan untuk Anda yang sudah terbiasa menulis dan telah mulai menciptakan buku, maka teknik Pomodoro lebih cocok bagi Anda. Dengan satuan menulis 25 menit disertai jeda 5 menit, membuat target menyelesaikan naskah buku menjadi lebih mudah dan cepat untuk didapatkan.

Sekali lagi, bukan soal besaran waktu, bukan soal pilihan teknik atau metode, namun yang terpenting adalah soal kedisiplinan diri dalam menulis rutin setiap hari. Sudah siap?

Bahan Bacaan

Austin Distel, How To Write Faster: 8 Tips And 3 Tools To Become A Fast Writer, https://www.jasper.ai, 19 Mei 2022

Bryan Collins, What Is The Pomodoro Technique? A Guide, https://becomeawritertoday.com

Dwi Budyarti Kurnia Sari, Teknik Belajar Metode Pomodoro, Jurnal Madika Vol 5, No.1 Tahun 2019, https://ejournal.perpusnas.go.id/

Ilustrasi : https://fiji.desertcart.com/

Ditulis oleh Cahyadi Takariawan

Dipublikasikan di Ruang Menulis. Kanal kreasi naskah, literasi, dan karya tulis terpilih.