Kembali
Positive Writing

Menulis Ekspresif untuk Pemulihan Disfungsi Seksual

.

Writing for Wellness – 99

Oleh : Cahyadi Takariawan

Women with a history of childhood sexual abuse (CSA) have high rates of depression, posttraumatic stress disorder, and sexual problems in adulthood  –Cindy Meston et.al, 2013

.

Disfungsi seksual merupakan gangguan fisik atau psikologis yang membuat seseorang atau pasangannya kesulitan mencapai kepuasan seksual. Hal ini bisa terjadi baik pada pria maupun wanita. Pada pria, disfungsi seksual dapat terjadi pada seluruh kelompok umur, namun memiliki hubungan berbanding lurus dengan penambahan usia.

Disfungsi seksual menjadi salah satu masalah yang kompleks karena kondisi ini bisa disebabkan berbagai faktor. Secara umum, kelainan fungsi seksual dapat dibagi menjadi beberapa tipe. Pertama, disfungsi ereksi (DE) pada lelaki, yaitu kesulitan untuk mencapai atau mempertahankan ereksi. Kedua, ejakulasi dini pada lelaki, yaitu waktu mencapai orgasme yang terlalu cepat.

Ketiga, ejakulasi terlambat, yaitu waktu mencapai orgasme yang terlalu lambat atau tidak sama sekali. Keempat, libido / gairah terlalu rendah, tidak memiliki gairah seksual atau terjadi penurunan minat terhadap hubungan seksual. Kelima, libido terlalu tinggi, menuntut penyaluran seksual secara berlebihan. Keenam, rasa nyeri atau sakit, biasanya pada wanita karena tidak keluar pelumas alami.

Disfungsi seksual memiliki dampak besar terhadap kehidupan penderitanya, baik dari sisi kesehatan fisik maupun psikologis.

Disfungsi seksual memiliki dampak besar terhadap kehidupan penderitanya, baik dari sisi kesehatan fisik maupun psikologis. Secara fisik, gejala atau keluhan yang dialami penderitanya akan berpengaruh terhadap hubungan dengan pasangannya. Bahkan, dalam skenario terburuk, hubungan dengan pasangan bisa berakhir (perceraian) dan sangat mungkin mengakibatkan dampak pada sisi psikologis penderita disfungsi seksual tersebut (Pranita, 2020).

“Beberapa penelitian menemukan bahwa disfungsi seksual dapat memicu terjadinya masalah atau gangguan jiwa tertentu,” ujar Prof Dr dr Tjhin Wiguna SpKJ(K) dari Departemen Medik Ilmu Kesehatan Jiwa FKUI-RSCM.

Gangguan jiwa yang bisa muncul di antaranya adalah kecemasan yang menetap, depresi, perasaan bersalah, stres, trauma, dan adiksi pornografi yang memicu timbulnya pornograph induced erectile dysfunction, yaitu disfungsi ereksi yang dipicu oleh pornografi (Pranita, 2020).

Disfungsi seksual dapat diakibatkan oleh dua hal. Pertama, penyebab fisik. Yang termasuk kategori penyebab fisik antara lain efek samping atau pengaruh obat-obatan seperti antihiperteni dan antidepresan, gangguan pembuluh darah, hipertensi, asterosklerosi, kerusakan saraf, stroke, komplikasi diabetes, dan lain-lain.

Kedua, penyebab psikologis. Yang termasuk penyebab psikologis antara lain masalah pernikahan atau hubungan interpersonal yang tidak baik, kekhawatiran berlebihan terhadap performa seksual, depresi dan rasa bersalah, riwayat trauma seksual, stres pekerjaan atau rumah tangga, dan lain sebagainya.

Pemulihan Disfungsi Seksual dengan Menulis Ekspresif

Wanita dengan riwayat pelecehan seksual masa kanak-kanak (childhood sexual abuse  / CSA) cenderung memiliki tingkat depresi yang tinggi. Mereka mengalami gangguan stres pasca trauma dan masalah seksual di masa dewasa. Hal ini menyebabkan gangguan serius dalam kehidupan pribadi, rumah tangga maupun pekerjaan.

Cindy Meston dan tim (2013) menguji intervensi berbasis tulisan ekspresif terhadap psikopatologi, fungsi seksual, kepuasan, dan kesusahan pada wanita yang memiliki riwayat pelecehan seksual masa kanak-kanak. Tujuh puluh wanita dengan sejarah CSA menyelesaikan lima sesi menulis ekspresif selama 30 menit, baik dengan fokus trauma atau fokus skema seksual.

Women who were instructed to write about the impact of the abuse on their sexual schema were significantly more likely to recover from sexual dysfunction –Cindy Meston et.al, 2013

Pengukuran laporan diri psikopatologi dan fungsi seksual yang divalidasi dilakukan pada pasca perawatan dua pekan, satu bulan, dan enam bulan. Dalam penelitian ini, partisipan yang mendapatkan intervensi penulisan ekspresif, pada awalnya menunjukkan peningkatan gejala depresi dan gangguan stres pasca trauma (PTSD). Sebuah gejala yang sering didapatkan pada intervensi menuliskan pengalaman traumatis.

Expressive writing may improve depressive and PTSD symptoms in women with CSA histories –Cindy Meston et.al, 2013

Dalam proses berikutnya, partisipan yang diinstruksikan untuk menulis tentang dampak pelecehan seksual yang mereka alami, secara signifikan lebih mungkin untuk pulih dari disfungsi seksual. Studi Meston dan tim membuktikan bahwa intervensi menulis ekspresif dapat memperbaiki gejala depresi dan PTSD pada wanita dengan riwayat CSA.

Sexual schema-focused expressive writing in particular appears to improve sexual problems, especially for depressed women with CSA histories. Both treatments are accessible, cost-effective, and acceptable to patients –Cindy Meston et.al, 2013

Tulisan ekspresif yang berfokus pada skema seksual mampu memperbaiki masalah seksual, terutama untuk wanita depresi dengan riwayat CSA. Model intervensi menulis ekspresif menjadi salah satu alternatif terapi yang mudah dilakukan, hemat biaya, dan dapat diterima oleh pasien.

Selamat menulis dan menikmati kesehatan serta kebahagiaan.

Bahan Bacaan

Cindy Meston, Tierney K.A. Lorenz, Kyle R Stephenson, Effects of Expressive Writing on Sexual Dysfunction, Depression, and PTSD in Women with a History of Childhood Sexual Abuse: Results from a Randomized Clinical Trial, DOI: 10.1111/jsm.12247, Juli 2013, diakses dari https://www.researchgate.net

Ellyvon Pranita, Mengenal Disfungsi Seksual, dari Penyebab, Gejala hingga Dampaknya, 11 Maret 2020, https://www.kompas.com

.

Ilustrasi : https://specialty.mims.com/

Ditulis oleh Cahyadi Takariawan

Dipublikasikan di Ruang Menulis. Kanal kreasi naskah, literasi, dan karya tulis terpilih.