Kembali
Motivasi Menulis

Menulis Itu Ajaib, Maka Menulislah !

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Menulis itu ajaib. Jika diniatkan untuk ibadah, maka menulis adalah ibadah. Nyambung dengan Allah setiap saat –melalui tulisan. Bagi insan beriman, tulisan bisa menjadi ‘sambungan’ kehendak Tuhan. “Jika Aku mencintainya maka Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, sebagai  tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan sebagai kakinya yang ia gunakan untuk berjalan” (HR. Bukhari). 

Menulis itu ajaib. Ada pahala berlimpah dari menulis. Pertama, pahala karena menjadikan menulis sebagai ibadah. Maka semua aktivitas menulis dan menyebar tulisan adalah ibadah yang berpahala. Kedua, pahala dari orang-orang yang terinspirasi kebaikan dari tulisan kita. Semakin banyak orang yang mendapat manfaat kebaikan dari tulisan, semakin banyak pula pahala sampai kita.

Menulis itu ajaib. Jika satu kalimat kebaikan kita ucapkan, mungkin hanya didengar saat itu oleh beberapa orang pendengar. Belum tentu mereka mengingat. Namun satu kalimat kebaikan yang kita tuliskan, bisa dibaca oleh jutaan orang tanpa batas masa, dan tanpa batas tempat. Mereka bisa mengulang membacanya kapanpun mereka mau melakukannya.

Menulis itu ajaib. Jika ada ulama memiliki jutaan jama’ah, jika ada pendeta memiliki jutaan jema’at, jika ada motivator memiliki jutaan fans, namun apabila tidak menulis, umur kemanfaatan para tokoh itu selesai, seiring tutup usia mereka. Jika para tokoh itu menulis, maka ‘suara’ mereka terus menerus bisa tersampaikan kepada umat, sampai kiamat.

Menulis itu ajaib. Tidak mungkin ada seorang da’i atau misionaris, yang bisa mendatangi semua tempat di muka bumi ini. Waktu dan tenaga mereka tidak akan mencukupi untuk bisa menyelesaikan keliling dunia menyampaikan pesan kebaikan kepada masyarakat. Namun dengan menulis, sangat banyak tempat bisa disapa, melalui berbagai media untuk menyebarkan tulisan tanpa batasan.

Menulis itu ajaib. Tiba-tiba saya mendapat kiriman kabar, buku saya dibedah di Amerika, buku saya dibedah di Jerman, buku saya dibedah di Mesir, di Saudi, di Kanada, di Jepang, di Australi, di Taiwan, di Thailand, di Turki, di Malaysia, di Singapura, dan berbagai tempat lainnya. Jika tidak menulis, tak mungkin ada forum-forum di berbagai negara itu.

Menulis itu ajaib. Tulisan bisa memberikan identitas yang menyebabkan seseorang dikenali.  Mungkin RA. Kartini tak akan pernah dikenal orang apabila beliau tidak pernah menulis surat kepada sahabat-sahabat di Belanda itu. Generasi saat ini mungkin tidak akan mengenal Chairil Anwar jika ia tidak menulis. Kita tidak akan mengenal Mochtar Lubis, jika ia tidak menulis. Demikianlah para penulis menjadi dikenal. Tulisan telah memberikan identitas.

Menulis itu ajaib. Lewat tulisan kita bisa menyampaikan hal-hal yang tak bisa dikatakan lewat lisan. Kadang kita tak mampu bersuara karena dibungkam. Namun tulisan telah melantangkan semua harapan dan cita-cita. Tulisan bahkan bisa menumbangkan kekuasaan. Benarlah kata bijak, satu peluru hanya bisa menembus satu kepala, namun satu tulisan bisa menembus jutaan kepala.

Menulis itu ajaib. Lewat tulisan kita bisa menjalin persahabatan dan persaudaraan. Saya bahagia, di mana-mana saya bertemu teman dan sahabat kepenulisan. Tak ada tempat yang saya kunjungi, kecuali di sana ketemu sahabat literasi. Di sini sangat terasa, menulis itu menyehatkan jiwa dan membahagiakan rasa. Menulis itu memanusiakan manusia.

Menulis itu ajaib. Bahkan ketika penulis telah tiada. Sapardi Djoko Damono tetap menjadi sahabat banyak orang, meski dirinya telah tiada. Persis seperti puisinya, “Pada suatu hari nanti / Jasadku tak akan ada lagi / Tapi dalam bait-bait sajak ini / Kau tak akan kurelakan sendiri.” Lewat puisi, ia tetap menemani kita hingga hari ini.

Ditulis oleh Cahyadi Takariawan

Dipublikasikan di Ruang Menulis. Kanal kreasi naskah, literasi, dan karya tulis terpilih.