Kembali
Ruang Tamu

Menulis Membuatku Bahagia – 1

.

Oleh : Midawati (Alumni Kelas Buku Single Batch 1)

“Ada tiga keuntungan sekaligus yang kudapatkan dari menulis. Tadinya aku cuma ingin mengalihkan perhatian dari perasaan kecewa, dan sedih. Sekarang aku merasa lebih dihargai, dan materipun bisa kudapatkan” –Midawati, 2022.

.

Disadur dari kompas.com, bahagia adalah kondisi emosi dengan karakter rasa senang, penuh  syukur, dan puas terhadap hidup atau momen yang sedang dijalani. Lawan dari bahagia adalah duka cita. Menurut KBBI duka cita adalah rasa sedih dan susah dalam hati akibat suatu kehilangan.

Duka cita tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Jika kita sedang berduka cita berusahalah mencari cara untuk mengatasinya. Sebab duka cita berlarut-larut dapat menyebabkan masalah serius pada kesehatan.

Menurut Indah Fitrah Yani (2021), rasa duka akibat kehilangan sesuatu atau seseorang yang dikasihi secara tiba-tiba, dapat menyebabkan gangguan mental. Begitu juga denganku.

Ibuku hamil dalam kondisi berat, tanpa suami, karena bercerai. Aku lahir prematur. Ibuku membesarkan aku dengan perasaan kecewa. Dampaknya, tidak ada yang memperhatikan aku waktu kecil. Untuk sekolahpun tidak ada biaya.

Setelah aku bekeluarga dan punya anak, suamiku meninggal dunia. Aku harus menghadapi tantangan dalam bekerja, yang membuat aku merasa kurang dimengerti. Aku merasakan sedih yang berkepanjangan tanpa ada penyelesaian.

Bahagia dengan Menulis

Semua orang di dunia ini tentunya menginginkan kebahagiaan. Tentu tidak ada orang yang ingin bersedih atau duka cita. Ternyata, menulis membuatku bahagia. Aku sangat bahagia mampu menulis sebuah buku single berjudul “Ya Allah, Temani Aku”.

Bagaimana menulis bisa membuatku bahagia? Ada beberapa kebahagiaan melalui menulis, yang bisa aku ceritakan di sini.

1. Bahagia masuk grup “Alineaku”

Masuk grup Alineaku, adalah pelarianku  dalam rangka mencari teman yang baik  dan  setia, yang mengerti aku. Salah satu permohonanku kepada Allah adalah teman yang baik dan mengerti aku.

Ini adalah solusi dari permasalahan yang kupendam selama berpuluh tahun, dalam pergolakan batin yang tak pernah terpecahkan. Seperti sudah aku ceritakan pada salah satu paragraf di dalam bukuku:

“Jika seperti ini perlakuan orang kepadaku, bagaimana aku tidak sakit? Aku bisa gila, dan masuk Rumah Sakit Jiwa. Sampai pada titik nadir, diperlakukan seperti itu, aku pergi ke kamar mandi. Aku kunci kamar mandi, sambil menangis terisak-isak. Ya, Allah, siapa temanku ya Allah, siapa temanku sebenarnya? Kalimat ini aku ulangi berkali-kali”.

Di grup Alineaku, aku merasa menemukan apa yang kucari selama ini. Teman satu rasa tentang memandang sesuatu, yaitu sama-sama ingin menulis untuk membahagiakan –terutama diri sendiri, dan orang lain.

Di sini aku merasa menemukan saudara tempat bertukar pikiran yang mengembirakan. Aku merasa menjadi satu keluarga, dibimbing Tim Alineaku, untuk bersemangat menulis.

2. Bahagia waktu menulis

Waktu menulis, karena masih pemula, kita pasti menemukan banyak kesulitan. Sejak dari kesulitan tentang apa yang mau ditulis, bagaimana menulisnya, bagaimana agar bisa dipahami, dan sebagainya. Tetapi kita tetap saja menulis apa yang terasa bagi kita. Sedih, sakit hati, kecewa, marah, semua bisa kita tulis.

Tanpa kita sadari, pikiran terasa ringan dan dada terasa lapang. Jiwa menjadi tenang karena sebagian atau seluruh perasaan sudah kita tumpahkan ke dalam tulisan. Ini sudah aku tulis dalam salah satu paragraf bukuku:

“Di sinilah perasaan hatiku tumpah, yang selama ini tertekan. Segala permasalahan seakan dipaksa keluar, agar tak lagi menyesakkan dada. Segala beban pikiran aku muntahkan bersamaan dengan derai air mata, meminta kesediaan pena agar menampungnya, dan dituliskan pada kertas yang sudah lama menunggu”.

Setelah itu perasaaanku terasa lega dan bahagia. Hidup terasa bersemangat. Perasaan tertekan dan diremehkan satu persatu meninggalkan jiwa dan ragaku, seperti benalu yang meninggalkan inang karena diputus rantainya.

Hal ini dibuktikan dengan  perkataan temanku,  “Uni, sekarang  wajah Uni nampak fresh, senang dan bahagia. Kenapa itu, Uni?  Sebelumnya  Uni tampak murung, sedih dan kurang semangat”.

Pada saat temanku itu menyatakan bahwa aku tampak lebih bahagia dari sebelumnya, karena pada minggu minggu terakhir itu aku sudah mulai menulis buku single. Alhamdulillah, kebahagiaanku dirasakan orang lain yang ada di sekitarku.

3. Bahagia waktu dikoreksi

Ketika outline buku kita telah dikoreksi dan disetujui oleh mentor, itu artinya langkah untuk membuat sebuah buku sudah dimulai. Kita merasa bahagia, terlebih dalam membuat karya kita tidak sendiri. Ada banyak sahabat yang juga sedang sama-sama berkarya.

Saat itu kita berharap nantinya buku akan selesai pada waktunya, karena dibersamai oleh mentor. Sebagai pemula, kita akan PD bahwa tulisan kita akan baik, karena diperhatikan dan dikoreksi oleh orang-orang yang berpengalaman.

Di sini kita mulai paham dan mengerti tentang ilmu kepenulisan step by step. Makin lama makin tambah mengerti bagaimana menulis yang baik. Sejak dari tanda baca, titik koma, cara membuat paragraf, membuat dialog, dan lain sebagainya, yang selama ini kita belum paham.

Kita juga diajari bagaimana caranya agar tulisan tidak bermasalah ketika dipublikasikan. Kita mendapatkan ilmu tentang rambu-rambu kepenulisan.

Setelah naskah buku koreksi mentor, dilanjutkan ke penerbit. Pada penerbitpun diedit lagi, tentang tata bahasa dan kelogisan tulisan. Tambah sempurnalah tulisan kita. Terasa senang dan bahagia, karena kita puas akhirnya tulisan kita telah diperbaiki sedetail-detainya.

Kita akan segera menerbitkan satu buku, seperti kata bunda Ida Nurlaila, buku pertama seperti kita menerima kelahiran anak pertama, yang kita timang dan sayang-sayangi.

Masih ada dua kebahagiaan lagi yang aku rasakan dengan menulis. Tunggu kelanjutan ceritaku pada postingan berikutnya.

BERSAMBUNG

Midawati

Ns Midawati Skep, adalah perawat di salah satu Rumah Sakit Daerah di Sumatera Barat. No Hp 0862895320289018. Alumni Kelas Buku Single Batch 1. Penulis buku “Ya Allah Temani Aku”.

Ditulis oleh ruangkeluarga

Dipublikasikan di Ruang Menulis. Kanal kreasi naskah, literasi, dan karya tulis terpilih.