Kembali
Ruang Tamu

Menulis sebagai Ajang Silaturahmi

Oleh : Khuriyatul Ainiyah (Alumni Kelas Emak Punya Karya)

“Barang siapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan diluaskan rezekinya maka hendaklah menjalin silaturahmi.”(H.R Bukhari)

Sebenarnya kegiatan menulis adalah hal yang biasa dan lumrah dilakukan oleh kebanyakan orang. bahkan sejak kecil sudah diajarkan bagaimana cara menulis. Ketika memasuki sekolah dasar anak-anak sudah belajar  bagaimana merangkai kata dan kalimat hingga menjadi paragraph.

Namun, ironisnya tidak semua pekerjaan menulis pada masa kecil dulu mengantarkan seseorang menjadi penulis. Lalu siapakah penulis itu? Menurut Wikipedia penulis adalah sebutan orang yang melakukan pekerjaan menulis. Sebutan penulis juga diberikan kepada orang yang menghasilkan karya tulis.

Hampir setiap orang bisa menjadi seorang penulis. Perbedaannya ada seorang penulis yang menghasilkan karya dan ada seorang penulis yang belum menghasilkan karya tulis.

Tanpa disadari sebenarnya di antara kita banyak yang mempunyai bakat menulis. Namun, kurang terasah bahkan mengabaikannya, karena merasa bahwa menulis adalah pekerjaan yang tidak mudah.

Ada yang perlu diingat bahwa  setiap dari kita mempunyai bakat untuk bercerita. Nah dengan modal bercerita itulah bisa menjadi tulisan.  Seperti, bercerita tentang  alur sinetron yang ditonton setiap hari atau bercerita tentang  kisah hidup seseorang yang dikagumi. Bisa juga bercerita tentang tumbuh kembang anak dan lain sebagianya.

Ungkapan emosi, nalar dan pendapat dari apa yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari merupakan bahan yang bisa ditulis untuk menjadi sebuah karya.

Dari manakah awal sebuah tulisan?

Sesungguhnya di dalam diri kita selalu dapat membaca. Membaca setiap kejadian dan kondisi apapun. dari manakah awal sebuah tulisan? semua berawal dari sebuah pikiran yang dituangkan dalam tulisan.

Jika mau jujur sudah berapa juta kata dan kalimat yang keluar dari alam bawah sadar kita. Terkadang secara sepontan kita mengatakan sesuatu kepada orang lain atau menilai seseorang yang kebetulan lewat di depan kita.

Semua pikiran dan ucapan  tersebut tiba-tiba datang dengan sendirinya. Hal inilah yang tanpa kita sadari  bisa menjadi tulisan.  Sayangnya kita tak pernah menulisnya.

Dalam menciptakan keteraturan dalam menulis kita membutuhkan motivator. Masuk dalam komunitas menulis cara yang tepat untuk berkarya. Terkadang kita perlu seseorang sebagai cambuk dalam menulis. Jika tidak ada penyemangat  boleh jadi kurang  produktif dalam berkarya.

Menulis bisa menjadi ajang silaturahmi

Kita perlu berkompetisi dalam produktivitas. Hal ini diperlukan supaya kita istiqomah menulis. Dengan menulis banyak manfaat yang kita peroleh. Selain menambah teman kita juga bisa menjalin silaturrahmi dengan para penulis lainnya.

Seperti saat ini saya banyak mengenal sahabat-sahabat literasi. Jika bertemu dengan mereka  bisa saling tukar pengalaman dan saling memberi motivasi, bahkan bisa menjadi  teman curhat.  

Belum lama ini saya juga berkesempatan bertemu langsung dengan mentor, guru juga motivator  menulis dari jogya yaitu Bapak Cahyadi Takariawan dan Ibu Ida Nur laela.

Menjadi kebanggaan dan merasa terhormat bisa bergabung  pada  acara resepsi pernikahan putri beliau. selama ini kami hanya mengenal beliau secara virtual saat mengikuti kelas menulis online atau saat bergabung di kelas EPK (Emak Punya Karya). Namun, saat ini kami bisa bersilaturahmi secara langsung.

Pada kesempatan yang sama saya juga kopdar bareng Sri Rohmatiah dari Madiun  juga Ibu Rifuwanti dari Solo. Jalinan silaturrahmi yang tak terduga jika tanpa sebab menulis.

Inilah salah satu manfaat menulis yang menjadi pengalaman saya. Selain itu juga mengenal para penulis  dari seluruh Indonesia yang saat ini tergabung dalam komunitas menulis KEPO (Kantin Emak Produktif Oye) yang diketuai oleh Sri Rohmatiah.

Mengapa kita  harus menulis?

Tidak ada alasan untuk tidak menulis, karena menulis banyak manfaatnya. Berikut manfaat menulis menurut Ustad Cahyadi Takariawan :

Pertama, menambah pengetahuan

Menulis dan membaca adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Dengan menulis otomatis seseorang dipaksa untuk membaca. Entah seberapa rajin seseorang membaca. Namun, ketika seseorang menulis akan ada sumber bacaan atau rujukan yang ia baca sebelumnya.

Bahkan ketika menulis sebuah artikel popular yang terdiri 500-1500 kata yang dimuat di sebuah platfom  kita pun akan membaca buku atau artikel  sebagai referensi.

Namun, jangan kuatir bagi yang tidak suka membaca, untuk menjadi penulis tidak menjadi halangan, karena Anda bisa menulis dengan kisah-kisah atau memoar Anda sendiri.

Menulis memoar tidak membutuhkan rujukan. Anda perlu mengingat kembali kejadian-kejadian yang pernah Anda alami sebelumnya.

Seperti buku solo saya hampir semuanya berisi memoar yaitu sepenggal kisah yang menjadi pengalaman  saya. Jadi menulis apa yang paling mengesankan pada kehidupan Anda, keluarga, juga sahabat semua bisa menjadi inspirasi.

Kedua, menulis untuk menambah sahabat dan relasi.

Sebagai umat muslim kita dianjurkan untuk menjalin silaturahmi karena dengan bersilaturahmi banyak manfaat yang kita dapatkan. Dalam hadis, Nabi saw., “Barang siapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan diluaskan rezekinya maka hendaklah menjalin silaturahmi.”(H.R Bukhari)

Dalam menulis perlu adanya komunitas sebagai penyemangat menulis. Demikian juga kesempatan menjalin silaturahmi terbuka lebar dengan para penulis di seluruh tanah air.

Masih banyak lagi manfaat-manfaat yang kita dapat dari menulis yang akan kita sambung pada artikel berikutnya.

Salam sehat selalu semoga bermanfaat.

Bahan bacaan :  Siapakah Penulis itu? Jumal Ahmad , 7 November 2010

Bionarasi :

Nama : Khuriyatul Ainiyah, Pekerjaan : Guru SD. Mengenal dunia menulis pertama kali saat bergabung dengan Kelas Menulis Online Alineaku Bath 34 pada tahun 2019, bersamaan dengan itu bergabung  pula dengan EPK 2 (Emak Punya Karya).

Saat ini penulis telah menerbitkan 4 buku solo di antaranya : Fandzuri Aina Anti,  Setangguh tetesan Rabiah, Munajat Aksara Peneman Rindu,  dan  1001 Guru Mendidik.

Saat ini penulis juga aktif menulis di Kompassiana, bisa disimak di halaman Bude Ruri Kompassiana.

Ditulis oleh ruangkeluarga

Dipublikasikan di Ruang Menulis. Kanal kreasi naskah, literasi, dan karya tulis terpilih.