Kembali
Positive Writing

Menulis Sebagai Jalan Spiritualitas

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“I believe writing and publishing is something that can only happen if grace has descended. But daily writing is the equivalent of leaving the door open” –Kelly Notaras, 2017.

.

Abdullah Muhammad Al-Maqdisi dalam kitab Ahsan At-Taqasim fi Ma’rifat Al-Aqalim (ditulis 985 M), menjelaskan pentingnya menulis. Al-Maqdisi yang dikenal sebagai ahli geografi itu menyatakan, para ulama sangat bersemangat menulis, karena dengannya ilmu dan hikmah akan terus menerus bisa diwariskan kepada semua generasi. Ia menyatakan,

ما زالت العلماء ترغب في تصنيف الكتب لئلّا تدرس آثارهم، ولا تنقطع أخبارهم

“Para ulama senantiasa senang mencurahkan waktu untuk mengarang buku, agar karya-karya mereka selalu dikaji dan dipelajari, serta kisah-kisah mereka tidak hilang”.

Memang benar demikianlah yang terjadi. Imam Bukhari terbiasa tidur di atas tikar. Apabila terlintas suatu tema masalah, beliau bangun dari tidur, mengambil korek api dan menyalakan lampu untuk menulis hadits. Hal ini bisa beliau lakukan 15 sampai 20 kali dalam satu malam. Semangat inilah yang melahirkan kitab Sahih Bukhari yang ditulis selama 16 tahun.

Menulis Sebagai Jalan Spiritualitas

Para ulama zaman dulu menulis tidak untuk popularitas, kekayaan ataupun pujian. Jiwa mereka sangat jauh dari hal-hal tersebut. Tak ada yang mereka pikirkan kecuali kebaikan dan kebaikan. Mereka mengabadikan ilmu dan hikmah, agar bisa dipelajari dan diteladani dari generasi ke generasi.

Kitab-kitab klasik peninggalan para ulama yang jumlahnya melimpah, adalah bukti kesungguhan mereka dalam mengabadikan ilmu dan hikmah. Mereka menulis dengan semangat pengabdian yang tinggi, dengan keikhlasan motivasi, dengan dorongan untuk berbagi.

Suasana bulan suci Ramadan saat ini, sangat tepat untuk membangun kebiasaan menulis sebagai jalan ruhani. Ramadan telah mendidik umat muslim untuk melakukan pembersihan diri. Jiwa harus selalu disucikan, raga harus selalu dibersihkan. Maka suasana pensucian jiwa raga pada bulan Ramadan menjadi momentum untuk menguatkan sisi spiritualitas dalam aktivitas menulis.

Kelly Notaras (2017) menyatakan, ada tiga tanda bahwa aktivitas menulis Anda berada dalam jalan spiritualitas. Saya menambahkan tanda keempat.

Pertama, ketika Anda merasakan panggilan yang dalam dari hati untuk waktu yang lama

“You’ve felt the deep call in your heart for a very long time” –Kelly Notaras, 2017.

Bahwa ada panggilan jauh di dalam lubuk hati Anda, untuk menulis sesuatu yang bermanfaat. Dan panggilan ini tidak bercorak sesaat, atau angin-anginan. Namun sudah menetap dalam jiwa Anda dalam waktu yang lama.

Menulis sebagai panggilan hati nurani, artinya Anda tidak berorientasi kepada banyaknya pujian, popularitas ataupun perolehan fee serta royalti dari tulisan. Ada kepuasan ruhani saat Anda menuliskan dan memublikasikannya kepada khalayak.

Mungkin ada banyak orang tidak suka dengan tulisan Anda, bahkan ada yang meledek Anda dengan ungkapan “sok alim, sok suci, sok baik” dan lain sebagainya. Namun hati nurani Anda tidak surut untuk mendorong Anda menulis dan terus menulis. Anda tidak menjadi kecil hati dan kecewa karena banyak yang menghina, sebagaimana tidak menjadi bersemangat menyala karena banyak yang memuja.

“I believe writing and publishing is something that can only happen if grace has descended. But daily writing is the equivalent of leaving the door open” –Kelly Notaras, 2017.

Notaras menyatakan, “Saya percaya menulis dan menerbitkan adalah sesuatu yang hanya bisa terjadi jika anugerah telah turun. Tetapi menulis setiap hari sama dengan membiarkan pintu terbuka”.

Kedua, ketika keinginan tulus untuk membantu orang lain menjadi motivasi menulis

“If the genuine desire to help others is motivating your writing, you can be fairly certain that book is part of your spiritual journey” –Kelly Notaras, 2017.

Ketika menulis tidak berorientasi kepada kepentingan diri sendiri, ini adalah salah satu pertanda Anda sudah berada dalam jalan spiritualitas. Kepentingan diri sendiri dalam menulis, misalnya adalah ambisi untuk menjadi populer, ambisi untuk menjadi kaya raya dari tulisan, ambisi untuk mendapatkan penghargaan dan pujian.

“Jika keinginan tulus untuk membantu orang lain telah memotivasi tulisan Anda, maka Anda bisa yakin bahwa buku adalah bagian dari perjalanan spiritual Anda”, ujar Notaras. Spiritualitas mengajak kita untuk selalu peduli dan berbagai dengan orang lain. Di saat yang sama, individualitas mengajak kita untuk memenangkan kepentingan diri kita sendiri dalam segala hal.

Ketiga, ketika muncul kehati-hatian dalam menulis

“If you are starting to worry about what people are going to think, if you’re starting to question whether you have a right to write, if you’re questioning whether you have anything important to say, if you’re dumbing down your message so it won’t be as controversial, then you just might be on the right path. Keep going” –Kelly Notaras, 2017.

Proses menulis bisa menjadi sarana untuk aktualisasi diri secara bebas. Misalnya dengan membuat dan menghadirkan tema-tema bombastis dan kontroversial. Tujuannya adalah untuk memunculkan efek viral sehingga melejitkan popularitas serta efek LCS (likes, comments, shares).

Dengan tujuan untuk melipatgandakan efek viral, tak jarang seseorang menulis dengan sembarangan. Yang diinginkan adalah postingan bombastis dan kontroversi yang akan memancing banyak efek LCS. Dampaknya, tidak berpikir panjang tentang kebaikan atau keburukan dari isi tulisan tersebut.

Menulis sebagai jalan ruhani tampak pada kehati-hatian. “Jika Anda mulai khawatir tentang apa yang akan dipikirkan orang, jika Anda mulai mempertanyakan apakah Anda memiliki hak untuk menulis, jika Anda mempertanyakan apakah Anda memiliki sesuatu pesan yang penting untuk dituliskan, jika Anda menyederhanakan pesan Anda sehingga tidak kontroversial, maka Anda mungkin telah berada di jalan yang benar. Teruskan”, ujar Notaras.

Keempat, ketika meniatkan menulis dalam konteks ibadah

Menulis adalah ibadah yang bernilai panjang, maka mereka tidak merelakan ada waktu yang sia-sia. Waktu terpenting mereka adalah untuk menulis.

Sisi spiritualitas manusia mengajarkan hal-hal transenden. Bahwa semua tindakan dalam kehidupan adalah untuk menjalankan ketaatan kepada Sang Pencipta. Semua aktivitas hidup adalah ibadah. Maka sangat relevan dengan momentum Ramadan yang saat ini tengah dihadapan.

Jika kita perhatikan kesungguhan menulis para ulama terdahulu, sangatmudah kita pahami bahwa yang mereka lakukan sepenuhnya adalah ibadah. Dikisahkan, Ubaid bin Ya’is tidak pernah makan dengan kedua tangannya sendiri. Untuk keperluan makan, beliau disuapi oleh saudara perempuannya selama 30 tahun, karena sibuk menulis.

Demikian pula Ibnu Suhnun, seorang ulama Malikiyah, sering disuapi budaknya saat makan, karena waktunya habis untuk menyusun buku. Abu Al-Wafa’ bin Uqail Al-Hambali, seorang ulama dari Hambali, memilih makanan yang paling praktis dan cepat dimakan.

Dikisahkan, Abu Al-Wafa’ memilih roti yang cenderung basah daripada roti kering;  karena waktu untuk mengunyah roti basah lebih sedikit dibanding waktu yang dibutuhkan untuk mengunyah roti yang kering. Waktu paling banyak digunakan untuk membaca dan menulis.

Mereka rela melakukan tindakan yang sangat bersungguh-sungguh tersebut, karena kecintaannya terhadap ibadah. Menulis adalah ibadah yang bernilai panjang, maka mereka tidak merelakan ada waktu yang sia-sia. Waktu terpenting mereka adalah untuk menulis.

Bagaimana dengan Anda? Apakah sudah menjadikan menulis sebagai jalan spiritualitas? Selamat menjalankan ibadah Ramadan.

Bahan Bacaan

Ahmad Zain An-Najah, Bahtera Pena Para Ulama, http://www.ahmadzain.com, 30 April 2011

Kelly Notaras, Three Signs that Writing Is Your Spiritual Path, https://knliterary.com, 11 Desember 2017

Ditulis oleh Cahyadi Takariawan

Dipublikasikan di Ruang Menulis. Kanal kreasi naskah, literasi, dan karya tulis terpilih.