.
Rutin Menulis Setiap Hari (Rumesha) – 20
Oleh : Cahyadi Takariawan
.
Bukan hanya penerbangan di Indonesia yang sering mengalami delay. Pesawat di Amerika pun sering mengalami keterlambatan, bahkan pembatalan. Ini pengalaman saat saya berkeliling di beberapa negara bagian Amerika.
Saat saya meninggalkan Houston menuju Washington DC, pesawat Delta yang saya tumpangi ternyata mengalami delay 30 menit. Saya masih beruntung karena saat transit di Atlanta, pesawat berikutnya juga mengalami delay sehingga masih bisa connected.
Saya masih bisa mengejar transfer pesawat dari Atlanta menuju Washington DC, karena ternyata pesawat Delta juga terlambat terbang sekitar 30 menit. Lengkap sudah, tapi menguntungkan.
Pengalaman sama saya alami saat meninggalkan Washington DC menuju California dengan transit di Atlanta. Pesawat Delta kembali delay 50 menit. Akibatnya fatal, saya tertinggal pesawat dari Atlanta menuju California.
Sesampai di gate keberangkatan, sudah ada tulisan kalau pesawat sudah berangkat. Saya segera lakukan scan boarding pass di mesin yang tersedia, dan tercetak boarding pass baru untuk pesawat berikutnya, namun harus pindah gate.
Segera saya berlari menuju gate dimaksud, namun lagi-lagi terlambat. Pesawat sudah berangkat. Saya diminta mengurus ke bagian customer service Delta. Akhirnya mendapat boarding pass baru untuk penerbangan ke California, namun harus menunggu 4 jam di bandara Atlanta. Wow!
Tidak masalah. Saya sempatkan jalan-jalan di dalam bandara Atlanta yang sangat rapi, bersih dan teratur. Saya menikmati berbagai pemandangan yang ada di dalam bandara, melihat kesibukan orang, melihat toko-toko souvenir dan kedai-kedai tempat makan dan minum.
Semua tampak rapi dan bersih. Antrian juga demikian rapi dan tertib sebagaimana standar umum di negara barat. Empat jam tidak terasa di dalam bandara yang sangat luas, hingga akhirnya saya terbang jam delapan malam hari.
Pengalaman yang sama saya dapatkan saat naik pesawat Air Canada dari Toronto menuju New York. Ternyata Air Canada juga mengalami delay satu jam. Apa kesimpulannya? Sama saja dengan penerbangan di Indonesia.
Terlalu banyak faktor yang membuat penerbangan mengalami keterlambatan. Ada faktor cuaca, faktor mekanik dan faktor manusia. Sulit untuk diprediksi kondisinya. Namun justru sisi ini yang membedakan manusia dengan robot. Sisi yang kita sebut sebagai manusiawi.
********
Tulisan di atas saya buat tahun 2011, sepuluh tahun yang lalu. Pengalaman bepergian ke negeri jauh, membuat kita bisa merasakan suasana yang berbeda. Setiap negara dan bangsa, pasti memiliki sisi keunggulan sebagaimana pula pasti memiliki sisi kelemahan. Kita bisa mencermati, mencerna, menganalisa –untuk melakukan perbandingan.
Untuk hal-hal yang kasat mata, dengan mudah kita membandingkan kondisi negara lain dengan Indonesia. Misalnya kecantikan alam, keelokan penataan kota, harga makanan, harga barang, pelayanan publik, kebersihan, kerapian, ketertiban, dan lain-lain. Hal-hal yang tampak di depan mata kita, dan bisa langsung dilihat ataupun dirasakan, mudah kita bandingkan.
Tentu saja tidak hanya pengalaman ke luar negeri. Pengalaman ke luar kota atau luar daerah saja, bisa membuat kita melakukan perbandingan. Misalnya saat saya pergi ke Solo dari Jogja, yang hanya berjarak 60 km, dan relatif mudah dijangkau. Namun tentu ada banyak hal yang bisa dibandingkan antara Jogja dan Solo.
Saya menemukan hal-hal lokalitas Solo yang tak dijumpai di Jogja, misalnya dalam kuliner. Beberapa kuliner khas Solo yang sangat saya sukai, ternyata tidak saya temukan di Jogja. Ini membuat saya harus sengaja datang ke Solo untuk menemukan dan menikmati kuliner lokal tersebut. Terutama makanan jenis jadul.
Dari segi harga, makanan di Jogja dan Solo tidak jauh berbeda. Sama-sama murah meriah. Ini yang menyenangkan bagi pecinta kuliner. Dari segi transportasi juga tidak jauh beda. Di Solo masih banyak dijumpai becak sebagai sarana transportasi, dengan harga yang juga tidak jauh beda dengan Jogja.
Kita bisa membandingkan sesuatu, antara tempat tinggal kita, dengan daerah lain. Saat traveling ke luar kota, kita bisa menemukan beberapa persamaan, namun juga beberapa perbedaan. Membandingkan adalah salah satu aktivitas yang memerlukan kecermatan, meskipun tidak dituntut untuk mencapai derajat yang diterima akademis.
Kita melakukan survei dengan cara sederhana, yaitu mengamati, merasakan, menikmati secara langsung. Kita bisa bertanya dan berdiskusi dengan masyarakat lokal untuk mendapat gambaran secara lebih jelas.
Kebiasaan ‘survei’ seperti ini sangat penting untuk melatih kepekaan sebagai penulis. Ini salah satu kebiasaan penulis, bahwa segala sesuatu bisa menjadi bahan tulisan. Menikmati kuliner di sebuah kota, bukan saja tentang cita rasa dan harga, namun mengenal sejarah dan filosofinya.
Saat saya menikmati “bubbor paddas” di Sambas, saya benar-benar mencermati. Saya bandingkan dengan bubur lemu Solo, bubur ayam Jakarta, bubur ayam Tasik, serta bubur Manado. Akhirnya saya menemukan sesuatu yang khas dalam bubbor paddas, yang tidak ada pada jenis bubur lainnya.
Nah, itu contoh membandingkan. Setiap kali kita menikmati kuliner, kita bisa memiliki catatan perbandingan. Setiap kali menikmati traveling, kita bisa mendapatkan perbandingan. Karena kita melakukan aktivitas “sebagai penulis”, sehingga segala sesuatu bisa menjadi bahan tulisan.
Selamat menikmati keindahan alam ciptaan Tuhan. Selamat menuliskan perbandingan. Anda tidak akan pernah kehabisan bahan menulis. Rutinlah menulis setiap hari, dan posting. Walau hanya 100 kata. Walau hanya 15 menit.