Oleh : Cahyadi Takariawan
“People will forget what you said, people will forget what you did, but people will never forget how you made them feel.” — Maya Angelou
Saya ingin berbagi tips, bagaimana agar bisa menulis dengan ketajaman emosi. Kuncinya adalah — libatkan hati Anda yang terdalam. Menulis benar-benar dari dalam hati. Menulis dengan hati. Jangan bertanya, “Bukannya menulis dengan tangan?” Ingat, tulisan yang keluar dari hati, akan sampai ke hati pembaca. Tulisan yang muncul dari tangan, hanya akan sampai di tangan pembaca.
Sekarang saya ajak Anda memahami unsur-unsur yang bisa menghasilkan tulisan dengan hati.
1. Luruskan Motivasi Menulis
Ini sangat penting dan fundamental dalam menghadirkan hati saat menulis. Motivasi ‘sakral’ bagi manusia beriman adalah —-ibadah. Menulis dengan niat ibadah, berharap kelak bisa menjadi jalan menuju surga dan ampunan Allah. Bangun niat ikhlas dalam menulis, sehingga tulisan lancar seperti bernafas. Minta pertolongan kepada Allah agar dilancarkan dalam menulis. Awali dengan berwudhu dan berdoa —-sebab menulis adalah ibadah kepada Allah.
Menulislah untuk memberikan manfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Berharaplah menjadi manusia yang paling dicintai Allah, karena banyak memberi manfaat bagi sesama —melalui tulisan. Nabi saw bersabda,
أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعَهُمْ لِلنَّاسِ
“Manusia yang paling dicintai di sisi Allah adalah yang banyak memberikan kemanfaatan bagi orang lain.” (HR. Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir, 12: 453).
2. Jangan Berorientasi Pujian
Segala puji hanya milik Allah, bukan milik manusia. Justru akan menjadi beban dalam menulis, saat Anda berharap pujian orang. Ketika sejak awal proses menulis Anda sudah berorientasi pujian, gemuruh tepuk tangan, dan ribuan likers serta share yang viral, maka yang akan Anda hasilkan adalah beban. Maka tanyakan, Anda ingin menghasilkan karya tulis yang bermanfaat, ataukah ingin menghasilkan beban yang menyiksa pikiran dan perasaan?
Tulis saja hal yang ingin Anda tulis. Anda punya tujuan, bukan? Itulah yang harus menggerakkan Anda dalam menulis. Jangan terbebani oleh keinginan mendapat banyak pujian.
Seth Godin, penulis buku “The Big Red Fez: How To Make Any Web Site Better” — pernah ditanya, “Apa yang membuat anda konsisten dalam menulis, dan bahkan tulisan anda seringkali menggemparkan pemikiran orang pada umumnya?” Dia menjawab, “Saya menulis bukan untuk mendapatkan pujian dari orang lain. Saya menulis karena saya ingin memberikan perspektif dari apa yang saya pahami, kemudian saya tuliskan agar bisa bermanfaat untuk orang lain. Inilah kunci mengapa saya selalu bisa menghasilkan tulisan yang fresh dan juga produktif.”
3. Kejujuran
Anda tidak akan bisa membohongi diri sendiri. Jika Anda berbohong, pasti kebohongan Anda akan menyiksa diri sendiri. Maka jujurlah terhadap diri Anda sendiri. Ini menjadi sumber yang sangat jernih untuk menghasilkan tulisan dengan ketajaman emosi. Tulisan yang masuk ke hati pembaca, karena berasal dari kejujuran penulisnya.
Saya suka ungkapan mbak Vivi Jennifa yang diposting dalam blog qureta.com, “Jangan menulis tentang nikmatnya cita rasa kopi, jika kau bahkan tak suka meminumnya. Jangan menulis tentang bahagianya diguyur hujan, jika kau bahkan benci dibasahi olehnya. Bahkan kau tak perlu menulis tentang politik dan pemerintah, jika kau lebih suka nonton kartun daripada nonton berita, dan membaca koran”.
Saat Anda menulis testimoni enaknya menu di sebuah restoran, padahal Anda tidak pernah makan di restoran tersebut, ini ketidakjujuran. Sama juga saat Anda memuji-muji lezatnya makanan di suatu restoran, padahal ketika Anda mencicipinya terasa sangat hambar tak ada rasa, ini ketidakjujuran.
4. Hadirkan Emosi Positif Saat Menulis
Saat menulis, Anda tidak hanya memproduksi kata-kata, namun Anda tengah memproduksi rasa. Maka hadirkan perasaan dan emosi positif saat menulis. Instal dalam diri Anda emosi positif sehingga membanjiri diri Anda selama proses menulis. Emosi positif ini akan membimbing untuk terus menerus mengeluarkan kata-kata. Coba rasakan tulisan Anda yang terbimbing oleh emosi positif, pasti sangat berbeda dengan apabila tulisan terbimbing oleh emosi negatif.
Studi yang dilakukan oleh Gary W Lewandowski Jr menunjukkan bahwa emosi positif dalam menulis memberikan pengaruh penting bagi hubungan antar manusia. Semakin banyak emosi positif dimunculkan —termasuk melalui tulisan, akan menjadikan pribadi yang juga semakin positif. “Anda adalah apa yang Anda tuliskan”. Maka saat Anda menulis dengan kehadiran emosi positif, akan menguatkan kepribadian positif Anda.
Jangan izinkan Anda dibanjiri emosi negatif saat menulis, karena yang akan Anda hasilkan hanyalah sejumlah kebencian. Kendati Anda marah dan jengkel, namun bingkailah dalam perspektif emosi positif. Kemarahan dan kejengkelan Anda akan termunculkan menjadi tulisan yang menyentuh hati pembaca, bukan membuat pembaca justru antipati dengan Anda —apabila Anda mengolah dengan emosi positif.
5. Ketahui “Who” dan “Do”
Definisikan, untuk siapa Anda menulis, dan hal apa yang Anda harapkan dilakukan oleh pembaca setelah membaca tulisan Anda. Misalnya Anda ingin menulis untuk remaja, dengan harapan setelah membaca tulisan Anda mereka menjadi lebih hormat kepada kedua orang tua. Maka Anda akan menggunakan perspektif remaja dalam menuliskannya —bukan dalam perspektif orang tua. Dengan demikian, remaja yang membaca tulisan Anda merasa terwakili perasaan dan keadaannya, sehingga lebih mudah tergerak untuk melakukan pesan Anda.
Chase Reeves, seorang writerpreneur dan co-founder Fizzle.co ditanya, “bagaimana menulis dengan hati?” Ia menjawab, “Formula yang saya gunakan untuk dapat menulis dengan hati sederhana, yaitu : Who dan Do. Who berarti kita mengetahui untuk siapa kita menulis. Sementara Do berarti kita memiliki pesan atau tujuan apa yang harus dilakukan oleh pembaca setelah membaca tulisan kita tersebut.”
6. Perbanyak Membaca
Menulis dengan hati akan semakin bisa Anda lakukan apabila banyak membaca. Jangan malas membaca, karena bacaan akan memperkaya khazanah pengetahuan Anda. Sangat banyak karya tulis bermutu yang dihadirkan dengan sepenuh hati oleh penulisnya. Terlepas Anda akan fokus menulis fiksi ataupun nonfiksi, namun Anda harus menghiasi dunia Anda dengan bacaan. Terus membaca, terus belajar melalui karya orang lain, Anda akan lebih mudah menuangkan tulisan dengan ketajaman emosi.
Dengan banyak membaca, berbagai hal yang Anda tidak tahu bisa menemukan jawabannya. Berbagai hal yang Anda tidak pahami, bisa mendapatkan solusi. Namun jika Anda enggan membaca, yang akan terjadi hanyalah stagnasi. Tulisan Anda stagnan, sehingga cenderung membosankan.
7. Nikmati Suasana Menulis
Bagaimanakah kita mengetahui apakah saat menulis sudah menggunakan hati atau belum? Yang harus Anda tanyakan terlebih dahulu adalah, apakah Anda menikmati suasana saat menulis? Jika Anda menulis dalam situasi terpaksa, maka Anda tidak akan melahirkan tulisan yang merdeka. Saat Anda terpenjara oleh target dan deadline, maka bisa memunculkan suasana sangat menekan. Anda menulis sebagai sebuah kewajiban, bukan sebagai proses yang dinikmati.
Jika Anda pecinta kopi, maka Anda akan mengetahui bahwa menikmati kopi memiliki seni. Tidak elok minum kopi satu cangkir dengan sekali reguk, karena itu berarti sekedar ‘minum kopi’ dan bukan ’menikmati kopi’. Demikian pula dengan menulis. Jika Anda ingin melahirkan tulisan yang muncul dari hati, makan Anda harus bisa menikmati suasana menulis. Seperti para pecinta kopi menikmati sejak dari proses roasting, grinding, sampai penyeduhan kopi dengan aneka alat seduh.
Selamat menulis dengan hati. Tulisan dari hati, akan sampai ke hati.
Bahan Bacaan
Gary W Lewandowski Jr, Promoting Positive Emotions Following Relationship Dissolution Through Writing, The Journal of Positive Psychology 4 (1) : 21 – 31, Januari 2009
Kelton Reid, Here’s How Seth Godin Writes, www.copyblogger.com, 30 Januari 2013
Melissa Chu, How to Write Words That Capture Your Readers’ Hearts and Minds, www.medium.com, 9 Oktober 2018
The Spark Journal, Making Something Great: An Interview with Chase Reeves, https://www.sparkjournal.net, 29 Juli 2013
Vivi Jennifa, Menulis Dari Hati, www.qureta.com, 8 Juli 2016