Oleh: Cahyadi Takariawan
Di antara hal sangat penting dan fundamental bagi kehidupan anak adalah kesadaran dan perasaan Ketuhanan. Bahwa anak merasa selalu dijaga, dilihat dan diawasi Allah, di manapun mereka berada. Dengan memiliki kesadaran akan pengawasan dan kebersamaan Allah, anak akan merasa aman, terlindungi dan selalu melakukan kebaikan.
Pembiasaan yang dilakukan oleh Muhammad ibnu Siwar kepada kemenakannya, Sahal At-Tustari, menjadi contoh yang sangat menarik. Kisah ini diungkap oleh Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin.
Sahal masih sangat belia, saat ia sering bangun malam menyaksikan sang paman, Ibnu Siwar, melakukan shalat malam.
وربما رائ ذلك خاله قال له الا تذكر الله الذي خلقك. قال كيف أذكره. قال قل في نفسك من غير ان تحرك به لسانك اذا جنك الليل الله معي، الله ناظر الي، الله شاهد على ثلاث مرات ففعل ذلك
Suatu malam, Ibnu Siwar melihat Sahal terbangun dari tidurnya. Beliau berkata, “Wahai Sahal, tidakkah engkau mengingat Allah yang telah menciptakanmu?”
“Bagaimana aku bisa mengingat Allah?” ungkap Sahal.
“Ucapkanlah dalam hatimu tanpa menggerakkan lisanmu, tatkala engkau akan tidur di malam hari: Allahu ma’i (Allah bersamaku), Allahu nazhirun ilayya (Allah melihat aku), Allahu syahidi (Allah menjadi saksi perbuatanku) sebanyak tiga kali,” jawab Ibnu Siwar.
Sahal mulai merutinkan dzikir tersebut setiap malam tiga kali, seperti pesan sang paman.
ثم قال له خاله قله سبع مرات في كل ليلة ففعل ذلك مدة ثم قال قله احدى عشر مرة في كل ليلة ففعل ذلك
Beberapa hari berlalu. Kemudian Muhammad ibnu Siwar berkata, “Ucapkanlah kalimat tersebut tujuh kali di setiap malam.”
Sahal merutinkan dzikir dengan kalimat yang diajarkan pemannya sebanyak tujuh kali setiap malam.
Beberapa hari berlalu. Ibnu Siwar berkata, “Ucapkanlah sebelas kali di setiap malam.” Sahal pun merutinkan dzikir dengan kalimat yang diajarkan pemannya sebanyak sebelas kali setiap malam.
قال سهل فوقع في قلبي ونفسي حلاوة لذالك بعد مدة فاخبرت خالي بذالك
Setelah ia rutin membaca dzikir tersebut berulang-ulang, Sahal At-Tustari mulai merasakan kondisi jiwa yang nyaman. “Muncullah dalam hati dan jiwaku manisnya ucapan tersebut setelah beberapa waktu, kemudian aku memberitakan hal itu kepada pamanku,” ujar Sahal.
فقال لي خالي يا سهل من الله معه وناظر اليه، وشاهد عليه كيف يعصيه؟ اياك ان تعصي الله تعالى.
Mendengar penuturan Sahal, Ibnu Siwar berkomentar, “Wahai Sahal, barangsiapa yang merasa Allah bersamanya, melihatnya, dan menjadi saksi atasnya, bagaimana ia bisa bermaksiat kepada-Nya? Jauhilah maksiat kepada Allah”.